10 Ciri Sinetron Religius Versi Produser

Sering menyaksikan sinetron2 berlabel “religius”, entah itu bertajuk : Hidayah, Hikayah, Pintu Hidayah, Jalan Ilahi, Maha Kasih, de el el ? Dari segi judul sich kayaknya nich sinetron begitu “mendidik”, setidaknya bagi sebagian kalangan pemirsa yang merasa cocok dengan resep scenario seperti itu. Karena indikator rating menunjukkan bahwa sinetron model begitu digemari, maka tak heran tema2 seperti itulah yang dibongkar pasang oleh penulis scenario.
Kalau mau berkaca ke belakang, ada beberapa sinetron impor yang lebih bagus inti dan misi ceritanya, yakni : “Highway to Heaven”, “Touched by an angel”, dan “Quantum leap”. Ketiga film seri ini boleh dibilang lebih menekankan pada misi kemanusiaan ketimbang membawa-bawa atribut agama sebagai pembenaran bahwa sinetronnya itu layak ditonton. Berikut beberapa ciri sinetron local yang menurut kami malah “menyesatkan” dalam keadaan realitasnya.

# 1 : kekerasan fisik
Adegan tempeleng muka istri, ucapan kasar istri pada suami, preman main pukul pedagang, lempar piring plus alat-alat dapur lainnya, pokoke berantem abis.

# 2 : konflik keluarga
Mantu melawan mertua, kakak sirik dengan keadaan ekonomi adik, antar saudara rebutan istri orang, anak kena narkoba

# 3 : selingkuh
Nach… jangan lewatkan adegan ranjang yang sering ditampilkan. Atau acting abis baru mandi dimana sang tokoh antagonis hanya berbalut handuk dengan rambut masih terurai basah. Juga penampilan sang germo dengan dandanan seronoknya.

# 4 : rebutan harta
Meski ditampilkan sudah punya rumah lumayan mewah, eh masih aza sirik dengan harta orang lain. Udah punya satu mobil, pengennya tiga kayak tetangga sebelah. Sifat rakus dan tidak pernah puas dieksploitasi.

# 5 : balas dendam
Biasanya karena sang tokoh antagonis pernah dilecehkan oleh teman-temannya, dijadikan alas an untuk membantai mereka yang pernah menyakiti hatinya

# 6 : ingin cepat kaya
Mulai dech cerita babi ngepet, minta petunjuk dukun, menggunakan susuk, dan sebagainya diumbar. Variasi tema lainnya : apalagi kalau bukan ingin cepat jadi selebritis. Dengan alasan bosan miskin, atau ingin dipuji orang lain

# 7 : ingin punya “ilmu”
Ilmu disini maksudnya bukan ilmu pengetahuan yang diajari guru di sekolah, tetapi ilmu kebal, ilmu santet, pokoke ngelmu supaya orang takut. Disinilah praktek klenik, gaib, dan mistik “ditularkan” kepada pemirsa awam.

# 8 : durhaka
Cerita Malinkundang ternyata berlanjut juga dalam sinetron beginian. Anak berani membentak bahkan menggampar ortunya seakan lazim untuk ditampilkan. Sosok guru kadang suka dilecehkan.

# 9 : kekuasaan
Selain harta, kekuasaan memang memabukkan. Maka ditampilkanlah sosok camat, bupati, tapi minimal kepala desa yang lebih bejat menjajah warganya daripada kompeni. Nggak berani tuch kalo nampilin gubernur anu atau anggota DPR yang korupsi. Udah jahat, rakus, plus sombongnya pun nggak ketulungan.

# 10 : atribut agama
Peran dai, ulama, maupun pemuka agama sering ditampilkan secara pasif. Porsi adegannya pun nggak jauh2 dari urusan pakai kopiah, sarung, kerudung, mukena, dan aksesoris khas Arab di saat sang tokoh antagonis dengan enaknya petantang petenteng. Tak lupa dialog “favorit” yang sering terlontar dari mulut mereka, kalau bukan “Astagafirullah”, pastinya “Inna ilahi na ina ilahi rojiun”.
Ada dua ending cerita yang bisa dijadikan bahan cerita. Pertama, sang tokoh baik dan jujur digambarkan akan mendadak mendapat berkah dari langit. Misalnya : tukang ojek jadi pengusaha dealer sepeda motor, pemulung bisa naik haji, tukang bubur punya restoran sendiri, dan sebagainya yang kebanyakan ilusi. Lha, iyalah disebut ilusi sebab cerita seperti itu hanya sekedar penghibur diri. Coba direnungkan, apakah setelah menonton tayangan bertema seperti itu, mendadak layanan pemda tanpa pungli aparatnya, buat surat perizinan tanpa harus diperas calo, anggota DPR tiba2 tidak mau jalan2 ke luar negeri, etc ?
Kedua, azab mengerikan bagi sang tokoh antagonis yang sepanjang 95% durasi sinetron digambarkan jahat nggak ada tobatnya. Entah itu ditabrak mobil, kaki lumpuh, kulit mengelupas, wajah seperti kena siram air keras, jatuh ke jurang, disambar petir, mayatnya dipenuhi belatung, dan masih banyak lagi adegan sadis lainnya. Sebegitu dangkalnyakah pemahaman para pengelola televisi tentang agama ? Mungkin perlu juga NU, Muhammadiyah, atau MUI membuat fatwa haram menonton tayangan tolol seperti itu ?
(copy-paste with litle editting dari http://www.bebekrewel.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Garbage in, garbage out
    Kalau masyarakat dicekokin sampah macam ini, maka jangan heran akhlak mereka akan menjadi sampah.
    Melihat pesatnya dan merajalelanya perkembangan sinetron jenis ini, kayaknya susah kalau tidak melihat adanya upaya makar di balik ini. Atau memang masyarakat kita ini sejenis hewan pengerat yang doyan memakan sampah? Kayaknya bukan deh, makanya sangkaan pertama yang lebih masuk akal.

    ML: Benar, salah satu teman saya saking muaknya pada (sinting-tron) punya komentar agak vulgar. "Kalau kesulitan BAB, tontonlah sinetron." Ada-ada saja…

  2. salam sayyid,,
    Hidayah DLL film sampah!!?? setuuujuuuu
    gmn maw generasi dibawah bs k'didik dengan baik, klo mereka Trus dijejali Tayangan2 SAMPAH kya HIDAYAH DLL,,
    what a mess,,,

News Feed