KERANCUAN KATA “PEMIMPIN”

“Pemimpin” adalah kata dalam bahasa Indonesia dengan makna lokalnya. Ia tidak bisa sertamerta dianggap semakna dengan wali/awliya’ dalam bahasa Arab dan teks suci.

Kata wali/awliya dalam teks agama bahkan punya makna khas yang bahkan berbeda makna dengan kata qa’id atau za’im atau ra’is dan sebagainya dalam bahasa Arab modern.

Bahasa agama (Al-Quran dan Hadis) memiliki cirikhas bahkan struktur gramatika yang kadang berbeda dengan bahasa Arab yang berlaku dalam komunikasi populer.

Kata “pemimpin” bisa diartikan dalam bahasa agama sebagai wali/awliya’/imam dan sebagainya dalam bahasa Arab popular sebagai ra’is, za’im dan sebagainya. 2 sisi ini perlu dipahami.

Wali atau imam dalam bahasa agama/Islam adalah pemimpin umat yang menjadi penghubung manusia dengan Allah.

Ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil” (Hadis).

Bila pemimpin diartikan secara umum (di luar bahasa agama), ia berarti administrator/manager/eksekutor alias “tukang” yang diikat kontrak kerja.

Bukan Muslim bahkan Muslim yang tak bertakwa tidak boleh dianggap sebagai pemimpin/wali/imam, karena tugasnya adalah mengawal agama dan memandu umat.

Bila pemimpin diartikan secara umum (di luar bahasa agama), ia berarti administrator/manager/eksekutor alias “tukang” yang diikat kontrak kerja.

Pemimpin administratif dan pengelola kota atau propinsi bukan wali/imam yang dimaksud dalam teks suci.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed