SABDA MALAM

Malam adalah batin waktu. Ia adalah siang bagi penyendiri dan jejiwa yang terhempas dalam bising orkestra satwa-satwa di semak-semak rimbun.

Malam adalah pasangan feminin siang. Ia telaten menyimak kesah penyendiri sembari menjalari jiwa kesepian dengan bayu menghalau asa yang meranggas.

Meski kisah dan sambat peronda puisi basah itu sama, malam menutupi bilur-bilur-lebamnya dengan cahaya nirwarna, hitam tertusuk butir-butir kartika.

Malam mendekap penanti fajar dengan sepi, gelap dan desirnya meredakan pekik dalam rongga dada korban penista cinta.

Malam adalah wanita bagi siang. Ia lembut, hening dan misterius. Desir angin adalah desah napasnya dan gemercik gerimis adalah bisiknya.

Malam adalah pendengar yang sabar. Saat siang pergi dengan bisingnya, ia datang menyimak kesahmu dan mengelus porimu dengan rinai sejuknya.

Malam adalah wanita bagi siang. Ia lembut, hening dan misterius. Desir angin adalah desah napasnya dan gemercik gerimis adalah bisiknya.

Malam adalah puisi batin. Baitnya adalah gemersik dedaunan terayun tarian tupai. Batinnya adalah kanvas pekat tertusuk kerdip nakal gemintang.

Malam adalah siang bagi yang terhempas. Matanya menyala, degubnya bertalu, nadinya bergeletar, tangisnya tak berderai dan tawanya tak bersuara.

Malam adalah tirai yang menutup panggung lakon kepalsuan dan drama perebutan matarantai makanan, lomba kuasa dan imagologi absurd.

Malam adalah siang bagi yang terasing dlm riuh orang-orang tak lagi sibuk dengan kebutuhan tapi keinginan. Saat itulah ia sibuk mencari alasan menanti pagi.

Malam adalah momen merawat kesadaran tentang diri melawan kantuk demi mengusir mimpi indah tapi hambar dan rancak tapi acak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed