MENOLAK AGAMA IRRASIONAL

MENOLAK AGAMA IRRASIONAL

Dalam epistemologi, yang disebut awam bukanlah orang yang tidak mendalami agama, tapi orang yang tidak membedakan realitas dengan visi tentang realitas.

Banyak orang (awam) menduga “kebenaran” dan “keyakinan” adalah dua kata dengann satu makna, padahal masing2 mengandung makna yang berbeda.

Relijius jumud adalah tahanan dalam sel skriptualisme yang mengira bahwa pemahaman dan penafsirannya terhadap teks yang ditafsirkannya berlaku atas orang lain.

Ada yang menolak agama dengan dalih logika. Ada yang menolak logika dengan dalih agama. Padahl relasi agama – logika bukan kontradiksi (afirmatif v negatif)

Yang anti agama perlu tahu bahwa agama tak selalu anti logika. Yang anti logika perlu sadar bahwa logika tak selalu empiris/anti metafisika.

Logika empiris tidak bisa memborsevasi agama krn ia entitas intelektual,bukan material. Logika peripatetik dapat mempelajari dan memvalidasi agama.

Sains ekstrem menolak agama karena membatasi pengertian realitas pada materi. Agama ekstrem menolak logika karena mengagamakan dogma irrasional.

Yang divalidasi oleh logika peripatetik bukan agama sebagai wahyu, karena ia supprasional, tapi agama sebagai konsep2 (premis2) yang jadi dasar keyakinan.

Agama adalah (mestinya jadi) premis yang dihasilkan premis “kemestian logis beragama”.Bila tidak didasarkan pd prinsip ini, ia tampak tidak logis.

Premis “kemestian logis beragama” adalah (mestinya merupakan) produk premis “kemestian logis adanya agama”.Premis demi premis ini bersambung

Setiap keyakinan harus divalidasi dalam inferensi proposisi apriori atau aposteriori. Bila 1 premis fundament dilompati, bangunannya runtuh.

Muara semua premis (keyakinan) tentang agama adalah premis ketuhanan. Ia bukan dogma yang dijejalkan tapi ditegakkan dengan akal sehat.

Premis2 teologi dalam Kristen disusun oleh Santo Agustinus dan Santo Anselmus jauh sebelum ilmu kalam disusun bahkan sebelum Nabi Muhammad diutus

Menolak agama itu hak intelektual setiap orang. Tapi menghina agama (yang dianut oleh yang tak agama) bukan siapapun.

Ada yang menolak agama krn prilaku sebagian penganutnya terutama agamawan. Ada yang menolaknya krn banyaknya proposal keselamatan hingga bingung

Terlihat dan ada itu tidak sama. Yang terinderakan adalah produk sensasi yang bergantung pada subjek. Ia adalah citra sesuatu dalam benak subjek.

News Feed