“WIRA-WIRI” KEYAKINAN

 
Beberapa hari lalu saat ngobrol malam di kota kecil di Jawa Timur seseorang bertanya kepada saya, “apa sikap kita terhadap seseorang yang menyatakan keluar dari mazhabnya?”
 
Berpindah agama bagi saya adalah sesuatu yang lumrah, apalagi mazhab. Tak sedih bila yang ditinggalkan adalah keyakinan yang saya anut dan tidak gembira bila yang dianut adalah keyakinan yang saya anut karena keyaknan adalah buah keputusan personal.
 
Isu “pindah keyakinan” biasanya hanya dipandang sebagai bagian dari dinamika sosial bagi yang berusaha mengedepankan sikap moderat dan toleran atau sebagai tindakan negatif bagi yang tak mengenal kensbian perspesi alias lumpuh logika. Namun bila berusaha melihatnya secara komprehensif, perpindahan keyakinan berupa agama, mazhab, pandangan politik, paradigma atau lainnya menguak sebuah problema krusial segitiga filsafat, agama dan sains.
 
Perpindahan adalah perubahan. Dalam konteks keyakinan, perubahan bisa terjadi karena salah satu dari tiga hal; yaitu objek yang diyakini, subjek yang meyakini dan keyakinan itu sendiri. Dengan kata lain, yang bisa berubah adalah objek, subjek dan keyakinan objek yang diyakini, subjek yang meyakini adalah konsep keyakinan itu sendiri. Masing-masing memerlukan klarifikasi yang gamblang.
 

Konsep Keyakinan

 
Perubahan bisa diasumsikan terjadi pada konsep keyakinan. Dengan kata lain, keyakinan atau produk persepsi juga bisa mengalami perubahan kualitatif dari kenir-tahuan (kebodohan) kepada ke-tahu-an juga sebaliknya. Ini adalah persoalan pengetahuan.
 
Bila subjek dari predikat “perubahan” adalah “keyakinan”, maka keyakinan bisa berubah seiring dengan perubahan perolehan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Dengan kata lain, perubahan secara primer adalah predikat bagi subjek “pengetahuan” dan secara sekunder bagi “keyakinan” karena keyakinan (dalam dunia logika, bukan dalam dogma) adalah pengetahuan.
 
Konsep keyakinan (dalam pengertian pengetahuan khusus tentang realitas abstrak dan transenden) dapat dibagi berdasarkan konten premis ke beberapa level sebagai berikut:
 
  1. Kebertuhanan atau divinitas atau at-ta’alluh (meyakini adanya Tuhan);
  2. Keberagamaan atau relijiusitas atau at-tadayyun (meyakin ajaran Tuhan sebagai agama);
  3. Keberislaman (meyakini Islam sebagai ajaran Tuhan yang dibawa oleh Muhammad SAW);
  4. Kebermazhaban, yaitu meyakini satu dari dua sumber otoritas yang sebagai representasi legal dari ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi; a) Kesyiahan (meyakini para imam dari Ahlulbait sebagai representasi ajaran Nabi Muhammad dengan prinsip kesucian (ishmah) mereka; b) kebersunnian (meyakini para sahabat sebagai representasi ajaran Nabi Muhammad SAW dengan prinsip keadilan (‘adalah) mereka.
 
Kebermazhaban, bila dipahami sebagai keputusan memilih sumber otoritatif setelah Nabi Muhammad SAW, hanya terbatas pada dua peradaban Islam, yaitu mazhab Sunni alias teologi Ahlsunnah dan mazhab Syiah alias teologi Ahlulbait. Dengan kata lain, kebermazhaban dengan salah satu dari dua sumber tersebut bagi setiap penganut Islam adalah keniscayaan meski mungkin sebagian besar tak menyadarinya atau merasa tak bermazhab (karena hanya ingin menjadi Muslim) atau menganggap keduanya sebagai sekadar menu-menu opsional yang diambil secara eklektik (pilih-pilih) sebagai racikan sendiri.
 

Yang Diyakini

 
Perubahan terjadi karena objek diyakini ditentukan oleh salah satu dari dua fakta; material atau fisikal dan fakta immaterial atau metafisikal.
Fakta material adalah realitas komplek yang merupakan komponen potensi dan aktus berupa raga yang disebut materi (jism).
 
“Saya kemarin meyakini benda yang saya pegang ini adalah gelas. Hari ini saya meyakininya sebagai serpihan kaca (beling) adalah premis yang tidak salah bila a) sesuatu yang disebut gelas itu adalah sebuah entitas fisikal (memiliki ukuran, kedalaman dan sifat-sifat atomik lainnya) pada fakta objektifnya; b) gelas itu sejak semula berbahan kaca pada fakta objektifnya; c) esensi kegelasannya sirna karena mengalami transformasi atau perubahan bentuk akibat pecah pada fakta objektifnya.
 
Dengan kata lain; pernyataan kemarin berupa predikasi “adalah gelas” atas benda itu tidak bertentangan dengan pernyataan hari ini berupa predikasi “bukanlah gelas” atau “adalah serpihan kaca” atas benda itu tidaklah salah. Artinya, perubahan predikasi dalam contoh “gelas” secara saintifik justru valid.
 
Sains sebagai konsep yang disusun dari fakta material yang dinamis tidak akan menghadirkan fakta yang statis dan permanen kecuali bila diabstraksi ke bilangan tak berhingga (matematika) yang merupakan fakta-fakta abstrak. Namun bila matematika diperlakukan sebagai ilmu rasional murni dan dipisahkan dari sains, maka sains tidak punya dasar validitas sendiri.
 
Sains adalah premis-premis sains tidak permanen karena objeknya adalah fakta sensual dan terikat oleh “waktu” empiris nya. Upaya memberikan nilai valid dengan probilitas kalkulus atas pengetahuan saintifik hanya menghasilkan validitas general, bukan kebenaran universal yang permanen. Dengan kata lain, nilai-nilai general yang diperoleh sains, tak berpijak pada sains itu sendiri (karena itu paradoks siklus), tapi berpijak pada probabilitas kalkulus, yang tak lain adalah metematika sebagai aksioma non empiris.
 
Perlu diketahui, sains memerlukan dua postulat non saintifik yang abstrak, yaitu: a) matematika adalah pijakan sains; b) kebenaran saintifik adalah produk kebenaran matematik.
 
Sains tidak bisa menghasilkan premis-premis permanen (dulu disebut eksakta) karena objeknya hanya fakta-fakta dinamis kecuali bila diabstraksi dengan angka yang merupakan fakta abstrak yang tak berhingga.
 
Eksistensi, Tuhan, agama dan mazhab juga nilai-nilai kualitatif bukanlah realitas material yang dinamis namun statis. Karena statis, fakta objektifnya tak berubah. Karena tak berubah, citranya dalam benak pun tidak berubah.
 

Yang Meyakini

 
Bila subjek bagi predikat “perubahan” adalah jiwa seseorang yang memiliki keyakinan, maka predikat “perubahan” secara primer melekat bukan pada “keyakian” atau “objek yang diyakini”, melainkan predikat bagi subjeknya yang bernama “jiwa”.
 
Perubahan jiwa yang juga disebut fluktuasi hati adalah akibat akumulatif rendah atau tingginya kesadaran moral dan kualitas kejernihan batin. Perubahan jenis ini bisa terjadi pada siapa pun. Karena itu, kita selalu dianjurkan untuk meminta backup pengetahuan supra-rasional (hudhuri) guna memperkuat pengetahuan rasional (hushuli) “Ya Muqallibal qulub, tsabit qalbi ala dinika” (Wahai Pencipta hati yang selalu berubah karena ragam citra sensual dan konseptual berilah aku pengetahuan eksistensial tanpa citra agar lestari dan permanen).
 

Tak Punya Keyakinan

 
Perpindahan dari sebuah keyakinan ke keyakinan lain (tentang realitas abstrak) secara epistemologis bukanlah perubahan. Ia hanyalah bukti belum terbentuknya keyakinan sama sekali.
 
Klaim perpindahan keyakinan lebih mudah dimaklumi bila alasan menganut keyakinan sebelumnya adalah pengaruh bawah sadar ketokohan yang cenderung irrasional. Artinya, menganut sebuah keyakinan setelah menderita beragam risiko sebagai akibatnya lalu kembali lagi ke keyakinan sebelumnya bukan keputusan intelektual sebagai cermin kemandirian individu, tapi akibat romantisme dan primodialisme ikatan sentimentil yang berporos pada satu person atau lainnya. Justru kepulangannya ke keyakinan yang sempat ditinggalkannya bisa dipahami sebagai kesadaran akan ketergesa-gesaannya mengambil keputusan berganti keyakinan. Sekuat apapun keinginan seseorang memaksakan diri menganut sebuah keyakinan tanpa proses inteleksi dan beradaptasi dalam lingkungan pergaulan baru yang tak dibayangkan sebelumnya pada akhirnya mencapai titik jenuh.
 
Ringkasnya, relasi keyakinan dengan realitas yang diyakini dan subjek yang meyakini adalah niscaya mengikuti hukum kausalitas. Atas dasar itu, perpindahan atau perubahan, terutama di kalangan awam, bisa dimaklumi sebagai proses pencarian keyakinan atau indikator kegamangan karena beragam faktor yang bisa diasumsikan, bukan perubahan atau perpindahan secara harfiah.
 
Mencari cara benar menganut sebuah keyakinan (agama dan mazhab) lebih penting dari menganut atau wira wiri antar ajaran keyakinan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed