ATM

Seusai melaksanakan tugas sebagai “ustadz cadangan” di sebuah pengajian eksklusif di sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta, seorang wanita yang mengenakan kerudung dan baju muslimah serba putih menyapa saya, “Ustadz, apa kabar?” tanyanya ramah.
Tentu saja saya menjawabnya dengan “alhamdulillah, baik.” “Ibu sendiri bagaimana?” tanya saya kemudian. Wanita yang konon mantan fotomodel ini membalas dengan suara renyah, “alhamdulillah, sejak aktif menghadiri majelis taklim dan mengikuti tausiyah para ustadz, keadaan saya makin baik.” “Eh, maksudnya, makin baik bagaimana tuh bu? ” tanyaku penasaran. “Begini pak ustadz… Sejak meninggalkan gaya hidup glamour dan rajin ibadah juga aktif mengikuti acara zikir, keadaaan ekonomi keluarga kami makin lancar. Saya berhasil mengembangkan usaha katering hingga melayani lebih dari 200 kantor di Jakarta. Karir suami saya di kantor pajak juga terus menanjak. Putri kami juga baru saja lulus dari studi di Australia dan tidak lama lagi akan menikah dengan bule muallaf. Pokoknya, Tuhan terasa sayang benget gitu, ustadz.” Saya “terpaksa” menangguk-anggukkan kepala sebagai bagian dari standar komunikasi santun.
[ads1]

 
Tapi, benarkah ibadah dan meningkatkan volume kehadiran di majelis taklim pasti menuai rewrad “kebahagiaan ekonomi”? Apakah agama bisa diperlakukan sebagai ATM? Apakah kemakmuran material bisa dianggap sebagai bukti “perhatian Tuhan’? apakah semua perbuatan baik pasti mendapatkan “balasan tunai” di dunia? Apakah kekayaan dan kemapanan, dan karir yang terus menanjak dapat dijadikan dasar justifikasi kedekatan dengan Tuhan? Apakah majelis taklim bisa dianggap sebagai tempat mencari jampi-jampi melestarikan kemakmuran ekonomi? Lebih menukik lagi, apakah kemiskinan mesti dianggap sebagai bukti kutukan Tuhan? Apakah agama hanya untuk mereka yang kaya, berkuasa, berpendiikan tinggi, dan berparas “segar”? Apakah semua Muslim mesti menjiplak Abdurahman bin Auf dan Abubakar? Lalu di mana posisi Abu Zar, Miqdad dan Ammar bin Yasir?
Aktivis majlelis taklim tersebut mengira bahwa kemakmuran ekonomi sebagai rezeki dan pertanda “kesalehan”. Ia telah melakukan pendangkalan terhadap substansi agama atau menjadi korbannya.
Mestinya nalar memandu kita untuk memahami agama dan realitas kehdupan; Pertama, Islam adalah agama yang mampu menyandingkan wahyu teks (Quran dan hadis) dengan wahyu rasional (akal sehat). Pertama, hukum alam (takwin) telah berlaku sebelum agama (tasyri’) diberlakukan. Hukum alam terjadi karena mekanisme kausalitas yang konstan.”Dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam aturan Allah.” Kekayaan dan kemiskinan bukanlah sesuatu yang dikecualikan dari hukum alam. Seseorang, aktif di pengajian atau aktif di DPR bisa menjadi kaya karena sebab-sebab yang tersedia di hadapannya, seperti waktu, tempat, relasi dan, jangan lupa, “keinginan untuk itu”. Memang benar, dalam kasus tertentu Tuhan mengirimkan freid Chicken (al-man wa al-salwa) atas Bani Isaril, sebagaimana disebutkan surah al-Baqarah, namun hal itu terjadi semata-mata sebagai bukti kekuasaan Tuhan untuk orang-orang yang tidak memaksimalkan potensi logika. Rasulullah saw. membuka mata dan hati kaumnya dengan ajakan tauhid tanpa menjajikan kemakmuran ekonomi kepada yang melarat dan tanpa menjamin kelanggengan kekayaan atau kekuasaan kepada yang kaya dan berkuasa.
Kedua, bukan semua kemiskinan (alfaqr) patut dicitrakan sebagai buruk. Kemisikinan yang negatif adalah membiarkan diri pasif. Miskin dan faqir yang tercela adalah orang yang kehilangan semangat bertahan hidup, tidak menghargai dirinya sebagai subjek, dan merawat iri serta kedengkian sebagai alasan untuk mencari jalan pintas. Sebaliknya kemiskinan yang dialami oleh seseorang atau kelompok bahkan bangsa karena kerakusan bangsa-bangsa lain yang kemudian berlagak “dermawan”, bukan karena memisikinkan diri dan mengabaikan semangat bertahan hidup, adalah kemiskinan yang mulia. Karena itu, kemiskinan dalam arti demikian menjadi lebih baik dari kekayaan.
Ketiga, Kata “fid-dun’ya hasanah” berarti menjadi baik di dunia, bukan kaya atau berkuasa. Bila setiap ibadah dibalas tunai di dunia, maka sorga dan neraka menjadi siasia.
[ads1]

 
Menjadi miskin tidak dilarang, tapi membiarkan diri sebagai objek pemiskinan adalah nista. “Andaikan kemiskinan adalah seseorang, niscaya kutebas lehernya,” kata menantu Nabi ini.
Orang yang kaya, meski tidak selalu buruk, lebih berpeluang untuk melakukan maksiat, karena di era seperti sekarang melakukan dosa memerlukan modal. Korupsi 100 milyar memerlukan modal paling sedikit 10 milar untuk “biaya administrasi” “biaya hearing” dan biaya lainnya mulai dari suap sampai entertain main golf di luar negeri dan sebagainya. Yang jelas, agama bukan ATM. (www.adilnews.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed