AGAMA-AKAL

Bermula dari chat dengan dua teman yang menjadi asisten gratis saya, spontan tercetus ide membuat acara dakwah online yang, inovatif dan inklusif dan interaktif. Dalam hitungan jam setelah beberapa anak muda ikut nimbrung, lahirlah ide Ramadhan Cerdas dan langsung tayang live via zoom pada malam kedua Ramadhan dengan tema besar Agama-Akal.

“Agama akal” bukanlah agama baru atau juga semboyan yang bertujuan neliberasi manusia yang bertuhan dan beragama dari ajarannya dan menjauhkannya dari komitmen mengamalkannya. Ia adalah sebuah frasa yang dirasa lebih inklusif dan jauh dari polemik sektarian yang kontraproduktif dan membosankan

Karenanya, perlu pengulangan penegasan tentang posisi akal sehat dengan logika sebagai tutorial aplikasinya dalam memandang agama danisu-isu mutakhir seputar agama. Namun pada saat yang sama, perlu pula pengulangan penegasan bahwa frasa agama memiliki dua dimensi pengertian, yaitu agama subjektif berupa produk persepsi dan interpretasi yang nisbi dan spekulatif; dan agama objektif yang mutlak dan sakral dalam altar otoritas transenden Tuhan yang diimanensikan dalam mediasi sakral berupa hierarki otoritas gradual yang terjuntai dalam kesucian.

Agama subjektif yang merupakan produk persepsi personal pun tidak bisa serta merta menjadi hak setiap orang kecuali ditunjang oleh kompetensi dan legitimasi dari pemegang otoritas sakral yang merepresentasi agama objektif sebagai inti dari akal aktif yang melampaui spekulasi. Tanpa itu, semua perspesi tentang agama dan ajarannya tidak bisa dipandang sebagai pandangan valid.

Justru akal sehat dengan logika yang konsisten mengantarkan siapapun kepada keniscayaan asas otoritas vertikal yang sakral, sehingga ketika akal sehat dan logika sampai kepada kriteria-kriteria logis tentang otoritas sakral yang immanen, maka akal sehat dengan logika tak lagi diaktifikasi lagi, karena kepatuhan menjadi puncak aktivasi akal sehat.

Masalahnya, tak semua orang telah mencapai kesadaran logis tentang kemestian divine authority sebagai jaminan kelestarian agama wahyu yang dibawa oleh Nabi SAW dan dikawal oleh al-muththharun (orang-orang tersucikan) sebagai konsekuensi niscaya dari janji Tuhan. Maka ditundalah upaya mengarahkan ke otoritas sakral dan vertikal itu dengan lebih dulu mengajak semua untuk memasuki arena dialektika yang luwes, inklusif dan egaliter.

Seseorang yang sakit harus berobat dan menyembuhkan diri. Bila sadar tak kompeten mengobati diri, mestinya menetapkan kriteria-kriteria kompotensi bahkan keunggukan kompetensi yang baku sebelum menentukan sosok yang memenuhi syarat-syarat kompetensi lalu keunggulannya atas lainnya. Proses ini hanya absah bila dilakukan sesuai kaidah penalaran logis. Setelah menetapkan kriteria kompetensi dan keunggulan, dan setelah melakukan aplikasi serta ferivikasi dalam fakta sosoknya, timbullah trust (kepatuhan) dengan menerima semua hasil diagnosa, anjuran dan keputusannya tanpa lagi meneliti kompetensinya dengan dalih berlogika. Justru berlogika dalam stage ini adalah kontra logika.

Keyakinan bahwa Nabi SAW dan jejiwa suci adalah model-model paripurna manusia rasional yang telah dipersiapkan untuk menghandle akal subjektif dan tak sempurna (nisbi) yang diandalkan umat sebagai klien dan pasien menjadi klausa konklusi mana kala penalar telah mencapai kesadaran tentang otoritas.

Semua upaya membangun dialektika dengan secuilk pengetahuan ini hanyalah upaya mengajak siapapun yang terbuka untuk mencapai aksioma atau teorima valid tentang otoritas sakral sebagai syarat utama keberagamaan agar agama tak hanya membuat penganut berkonflik karena berlomba dalam klaim kebenaran, tapi sebuah solusi lintas ruang dan waktu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed