AGAMA DAN ILMU AGAMA

Agama sebagai ajaran dan sebagai ilmu adalah dua hal yang berlainan. Ajaran agama adalah sesuatu yang umum alias berlaku atas semua penganutnya. Ilmu agama adalah sesuatu yang khusus alias hanya berlaku bagi yang mempunyai kompetensi. Sebagian penganut berhak mengutip ayat dll.

Perbedaan antara ajaran agama dan ilmu agama bisa dianalogikan dengan undang-undang negara. Undang-undang negara berlaku atas semua warga negara. Sedangkan ilmu undang-undang hanya diimiliki oleh yang kompeten dalam bidang ilmu UU. Hanya yang komperten hanya berhak mengkritisi UU.

Pencampuradukan pemahaman tentang agama sebagai ajaran dan agama sebagai ilmu yang memerlukan keunggulan kompetensi mengakibatkan hilangnya kesadaran tentang urgensi standar logis kompetensi dalam agama.

Ini mengakibatkan tersingkirnya individu2 kompeten yang telah menghabiskan banyak waktu studi belajar, tumbuh suburnya agamawan palsu (inkompeten), infiltrasi agamawan intoleran dan malpraktik dakwah dan lenyapnya kharisma, sakralitas dan pesona agama.

Sebagian pegiat kebebasan menentang ide “supremasi asas kompetensi” dalam (ilmu) agama karena presumsi memberangus kreativitas dan dinamika intelektual dan bertentangan dengan paradigma individualitas keberagamaan. Ini karena keburu menyamakan agama sebagai ajaran dan ilmu agama.

Bila agama dibebaskan dari standar kompetensi demi menjaga kreativitas dan dipisahkan dari otoritas demi menghindari tiranisme agamawan, maka konsekuensinya lebih buruk, yaitu hilangnya batas dokter dan pasien, lawyer dan klien. Itulah yang aktual saat ini dalam agama.

Orang takkan secara simsalabim jadi teroris atau ngotot jadi martir dengan cara konyol sebelum diinjeksi dengan doktrin yang dibumbui teks-teks sebagai dasar justifikasi.

Ini bukan soal organisasi ekstremis semata. Ini soal teologi agresi yang akarnya adalah pemutlakan persepsi yang nisbi, subjektif dan sektarian.

Selain pakar-pakar bidang terorisme dan keamanan yang menganalisa pola gerak, diperlukan pula pakar konflik teologi yang bisa menguak akarnya, karena konflik, genosida, persekusi, invasi dan aneksasi wilayah-wilayah Afrika dan Eropa oleh monarki demi monarki menkonfirmasi itu.

Setiap kali aksi serangan (teror) terjadi, terorisme jadi viral dan selama beberapa waktu lomba analisa pun digelar. Semoga ada yang berani dan jujur mengaitkannya dengan teks-teks yang memuat anjuran agesi yang dianggap sohih dan diterima sebagai taken for granted.

Setiap kali aksi serangan (teror) terjadi, terorisme jadi viral dan selama beberapa waktu lomba analisa pun digelar. Semoga ada yang mengaitkannya dengan disfungsi logika dan falasi pemutlakan persepsi terhadap teks-teks yang dianggap ajaran agama.

Akibat disfungsi nalar, tak bedakan domain subjek dan domain objek. Karena itu, tak bedakan pemahaman terhadap ayat dengan ayat. Karena mengira pemahamannya sama dengan ayat, menganggap penafsiran yang berbeda dengan doktrin yang dicekokkan atasnya sebagai menentang ayat.

Karena menganggap semua yang berbeda pemahaman dengannya sebagai penentang ayat (kitab suci, Al-Quran dan Sunnah), maka menvonisnya sebaga kafir dan musuh agama yang wajib dimusnahkan.

Dengan bekal pemutlakan pemahaman nisbi dan sepihak terhadap teks agama sebagai kebenaran, siapapun bisa sewaktu-waktu menjadi pelaku agresi terhadap siapapun yang telah divonisnya sebagai sesat, kafir dan musuh.

Mestinya para agamawan menjadi pengajar logika agama, tapi faktanya mereka tak pernah dibekali dengan itu, malah sebagian menganjurkan umat mencampakkan logika dengan alasan supaya tak jadi liberal. Agamawan kalau tak mengulang2 nasihat atau lawakan, jadi penganjur intoleransi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed