AGAMA DAN REALITAS

Agama dipegang karena diyakini bisa menjadi pedoman yang menata kehidupan. Namun faktanya, kadang yang diyakini berjarak jauh dengan realitas yang dihadapi.
Bila pemahaman-pemahaman yang sudah dipegang terasa tidak menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, mungkin perlu mencari konsep yang dekonstruktif.
Agama dipegang karena diyakini bisa jadi padoman yang menata ke Tapi faktanya, kadang yang diyakini berjarak dengan realitas yang dihadapi.
Ada 3 sikap terhadap agama; Menolaknya karena a) agama dianggap warisan era kbodohan dan mitos seperti kata sebagian positivis. b) agama dianggap sebagai produk feodalisme dengan menanamkan teologi fatalisme atas takdir dengan janji soranga dan ancaman neraka. c) agama dianggap desain demi meraih kekuasaan dan mempertahankan status quo dan gamawan-gamawan dijadikan juru justifikasinya.
Sikap kedua terhadap agama adalah menerimanya secara partikular. Sekelompok orang menganut agama dan meyakini kemutlakan wahyu.
Meski meyakini kemutlakan wahyu, kelompok ini memandang Nabi sebagai makhluk relatif dengan pemahaman yang tidak bebas pngaruh-pengaruh eksternal.
Karena menurut kelompok ini, ia adalah manusia biasa, sebagian ajarannya tidak relevan dengan situasi, tempat dan waktu yang berbeda.
Karena sebgian ajarannya dianggap tidak relevan lagi, kelompok ini menggantinya dengan ide-ide dari luar agama atas nama reinterpretasi.
Kelompok 2 ini umumnya adalah orang-orang yang terdidik dalam lingkungan tradisional. Mereka berpandangan kritis karena tak menolak agama seperti kelompok 1.
Kelompok ini menerima ajaran-ajaran yang dianggap individual seperti shalat dan menafsirkan ulang sebagian ajaran-ajaran sosial seperti waris dan sebagainya.
Pandangan yang disebut sekularisme ini menganggap agama hanya berlaku dalam ruang privat, bukan dalam semua aspek kehidupan sosial.
Sikap ini dianut sebagai paradigma modern oleh kalangan intelektual di sebagian masyarakat agama Islam, Kristen dan lainnya.
Dan tanpa sadar sikap ini ditiru sebagian besar masyarakat modern sebagai lifestyle. Ini terlihat dari pola keberagamaan mereka yang ngepop.
Muslim modern lebih khusyuk nyimak motivasi kesuksesan daripada khotbah dan punya novel-novel Twilight tapi belum tentu punya kisah Nabi-nabi.
Sebagian menyalahkan agamawan karena tidak mengupgrade wawasan, tidak merespon dinamika zaman dan puas dengan koleksi teks.
Sebagian menyalahkan masyarakat modern karena menurut teks yang dyakini bahwa masyarakat terbaik dmulai dari generasi masa Nabi lalu berkatnya dan sebagainya.
Berdasarkan teks riwayat tersebut, generasi Muslim saat ini menempati posisi paling jauh dari urutan pertama generasi terbaik.
Karena itu, kelompok ini mengajak umat mengikuti generasi terdahulu (salaf) yang diyakini berdasarkan riwayat tersebut sebagai terpandai dan terbaik itu.
Sikap ke 3 terhadap agama adalah menerimanya sebagai sistem nilai yang meliputi seluruh aspek kehidupan individual dan sosial.
Kelompok agama holistik ini terbagi dalam 2 perspektif; a) fenomologis konkret dan b) ontologis abstrak dengan 2 konsekuensi.
Isu utama TL ini, apakah agama menyelesaikan semua masalah-masalah manusia? Ada 2 kelompok yang mengafirmasinya meski berbeda konsep.
Kelompok 1 meyakini agamanya sebagai wahyu yang 100 % benar dan bahwa selainnya palsu dan penganutnya kafir harbi atau silmi (dzimmi).
Kelompok ini memastikan bahwa pemahamannya tentang wahyu sama persis dengan yang diterima Nabi serta sesuai dengan yang dikehendakinya.
Cara pandang keagamaan yang eksklusif ini tidak identik dengan sebuah kelompok dengan nama tertentu, juga tidak hanya ada dalam 1 mazhab.
Obisaulitisme relijius yang dikenal juga dengan ekstremisme ini bahkan tidak hanya identik masyarakat pnganut agama tertentu.
Dalam masyarakat Muslim absolutisme kerap diasosiasikan dengan salafi atau wahabisme padahal ia juga ada dalam masyarakat non wahabi.
Pemujaan teks dan pengabaian logika tidak hanya terjadi di kalangan sunni namun juga kadang terlihat di kalangan Syi’i.
Skripturalisme dalam Sunni diwakili Salafi dan dalam Syi’ah sering terlihat pada pandangan sebagian akhbari dan sebagian kecil ushuli.
Kelompok ke-2 menerima agama 100 % sebagai sistem nilai yang meliputi semua aspek kehidupan seraya membagi agama dalam 2 dimensi.

  1. Dimensi mutlak yang secara eksistensial ditangkap intelektus perdana dan jejiwa yang senyawa.
  2. Dimensi di mana agama sebagai persepsi yang relatif. Setinggi apapun spiritualitas seseorang, pendapatnya tidak mutlak.

Kelompok ini bagi sebagian yang tidak memahami tema ini secara epistemologis kadang terkesan seperti skripturalis dan kadang seperti liberalis.
Sikap yang tidak selalu sama terhadap setiap fenomena bukan karena suka-suka tapi semata-mata karena konsekuensi yang tidak slalu sama dalam penalaran.
Kelompok ini tidak mengidentifikasi diri dengan nama khas. Ia meyakini wahyu sebagai kebenaran mutlak juga mnjadikan logika sebagai parameter.
Inilah paradigma kesadaran eksistensi yang dbangun diatas epistemologi yang berkehadiran, bukan fenomologi yang melulu konkret.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed