“AGAMA KITA”

Apakah mayoritas umat manusia menganut “agama kita”?

Faktanya tidak. Sebagian kecil umat manusia saat ini di dunia menganut “agama kita”, sedangkan sebagian besar penghuni bumi saat ini menganut selain “agama kita” dan sebagian kecil memilih tak beragama.

Apakah seluruh penganut “agama kita” menerapkannya?

Tidak. Mungkin sebagian besar penganut mengamalkannya secara gradual.

Apakah seluruh yang mengamalkan “agama kita” juga menerapkannya sebagai sistem sosial?

Tidak. Sebagian besar penganut “agama kita” mengamalkannya sebagai ajaran bagi individu, bukan sebagai sistem sosial.

Apakah “agama kita” telah gagal menciptakan masyarakat dalam sistem sosial yang bersumber dari “agama kita”?

Tidak. Individu-individu penganut “agama kita” dan penganut selain “agama kita” terikat oleh sistem nilai yang berlaku untuk semua penganut agama dalam sebuah himpunan masyarakat yang lebih besar yang disebut bangsa.

Mengapa para penganut “agama kita” (sebagaimana para penganut selain “agama kita”) tidak terikat oleh “agama kita” sebagai sistem sosial?

Karena hal itu tidak realistis.

  1. Bila agama kita dijadikan sistem sosial, maka ia hanya berlaku atas para penganut agama kita. Para penganut selain agama yang berada dalam satu wilayah sebagai properti bersama tentu menolak terikat oleh sistem yang bersumber dari agama yang tidak dianutnya.
  2. Bila agama kita dijadikan sistem sosial, sedangkan kita sebagai penganutnya tidak seragam dalam pemahaman tentang Islam sebagai ajaran dan sistem, maka sistem sosial itu hanya bersumber dari agama kita dari salah satu perspektif yang tidak sama dengan perspektif lain sesama penganut agama kita.
  3. Bila agama kita dijadikan sistem sosial, sedangkan sebagian penganut agama kita menolaknya karena berbeda perspektif, maka sistem itu tidak berlaku efektif. Karena itak efektif, tak bisa diterapkan sebagai sistem sosial.

Apakah hal itu berarti “agama kita” selalu gagal?

Bila tujuan “agama kita” adalah mengarahkan indivdu-individu penganut agar mengamalkannya, maka ia sukses sebagai sebuah ajaran yang diamalkan oleh lebih dari satu milyar manusia di tengan umat-umat penganut selain agama kita dalam jumlah yang lebih besar.

Bila tujuan “agama kita” adalah membentuk masyarakat sesuai “agama kita”, maka dari sebuah perspektif “agama kita” bisa dianggap gagal sebagai sistem sosial mengikuti persepsi masing-masing tentang parameter kesuksesan dan kegagalan.

Bia tujuan “agama kita” adalah mengarahkan individu-individu penganut untuk memahami agama dengan nalar, maka tidak gagal karena secara faktual bisa diamalkan sebagai ajaran bagi individu dan bisa pula diterapkan sebagai sistem sosial secara terbatas selama syarat-syarat konseptual dan faktual penerapannya terpenuhi.

Apakah syarat-syarat konseptual dan faktual bagi penerapan “agama kita” sebagai sosial telah terpenuhi?

Syarat-syarat pemberlakuan “agama kita”, karena keragaman aliran para penganutnya sebagai sistem sosial, tidak terpenuhi.

Apa syarat-syaratnya?

Syarat 1 : (mayoritas) penganut “agama kita” memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya nalar sebagai dasar penafsiran terhadap info-info seputar agama.
Syarat 2 : (mayoritas) penganut “agama kita” memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya supremasi kompetensi dan kesucian sebagai fondasi otoritas yang menjamin sistem sosial berlaku secara benar sesuai kehendak Tuhan dan rencana pewarta.

Apa yang menyebabkan “agama kita” terduga gagal membentuk sebuah masyarakat yang terikat oleh sistem sosial yang bersumber dari agama yang dianut?

Karena sebagian besar umat hanya menganut agama tanpa memastikan bahwa pewarta telah menetapkan otoritas penyampaian, pemberlakuan ajarannya setelah wafatnya sepanjang masa hingga akhir zaman atau karena menganggap otoritas penjelasan ajaran sang pewarta setelah wafatnya bukan bagian dari bagian dari ajarannya dan bukan konsekuensi keputusan menganutnya.

Bila tak mungkin terbentuk sebuah sistem sosial berdasarkan “agama kita” karena perbedaan sumber penjelasan yang mengakibatkan hilangnya pemahaman yang sama, apakah kita harus menerima “agama kita” hanya berlaku secara individual dan hanya mengikat penganutnya?

Ya, kecuali menetapkan kriteria bagi pemegang otoritas sentral yang sakral bagi umat penganut “agama kita” agar dipastikan benar dan sesuai rencana pewarta serta diterima seluruh umat. Bila tidak, maka sebaiknya para penganut “agama kita” berhenti membanggakanya sebagai ajaran yang lebih baik dan sukses, berhenti memimpikan “agama kita” diterima oleh umat-umat penganut selain “agama kita” dan berhenti berangan-angan “agama kita” menjadi agama yang dianut oleh mayoritas manusia sebagai “agama yang mengungguli semua agama” atau meleburkan semua agama dalam satu agama global.

Terimalah “agama kita” sebagai ajaran bagi individu-individu penganut seraya menerima sistem sosial yang tak berlabel agama, tak mengabaikan hak mengamalkannya dan tak mencabut hak itu dari penganut selain “agama kita”.

“Agama kita” memang biasa-biasa saja.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed