"AGAMA UNTUK YANG TAK BERAKAL"

"AGAMA UNTUK YANG TAK BERAKAL"
Photo by Unsplash.com

Pada dasarnya kebenaran logis (validitas) tersimpan dalam pikiran-pikiran yang diekspresikan melalui premis yang tak mengundang pertanyaan "mengapa", 'apa alasannya" dan semacamnya.

Kebenaran sebuah pikiran tentang apapun yang diekspresikan melalui pernyataan ditentukan oleh akal sebagai alat yang dioperasikan dengan logika sebagai aturan pakai agar tak terudksi oleh akal subjektif yang kerap kali direduksi oleh kepentingan subjek alias diri pemikir.

Karena agama diyakini kebenarannya dan dianut tanpa logika dan karena info-info yang disampaikan para agamawan dianggap sebagai ajaran agama, maka tertutuplah pintu bagi siapapun untuk mempertanyakan validitasnya. Agama nirlogika pun memproduksi doktrin-doktrin kebencian.

Karena logika diterima sebagai dasar aksioma, hukum matematika dipatuhi tanpa pengecualian. Atas dasar itu, ilmu pengetahuan berkembang dan membentuk peradaban manusia. Bila tak didasarkan pada logika, agama hanya diterima oleh sebagian orang meski banyak yang mengaku beragama.

Karena teologi tidak diargumentasikan dengan logika, Tuhan hanya diyakini oleh banyak orang tapi eksistensinya tidak dipahami, dan agama dianut tapi tak dipilih melalui komparasi. Bila agnotitisme tumbuh karena itu, mungkin bisa dimaklumi.

Karena agama dianut tapi tak dipilih melalui komparasi, deisme tumbuh dan pandangan Yuval Noah Harari digandrungi banyak intelektual.

Read more