AGAMA YANG ADIL

Semalam beberapa teman lama mengunjungiku yang kebetulan sedang berada di kota kelahiran.

Kami berbincang tentang pelbagai isu dari yang penting seperti fenomena keberagamaan yang kaku dan intoleransi sampai tema tak penting seperti siapa yang akan mengurusi kemacetan Jakarta.

Diskusi tak tertib itu juga menjadi momen saling curhat tentang situasi perekonomian yang lesu. Tiba-tiba temanku yang baru saja dilantik sebagai guru PNS setelah beberapa tahun gagal lolos itu melontarkan sebuah curhat yang cukup menohok.

“Yo opo awak iki (Bagaimana kami ini)?”

“Opo’o (Kenapa)?” tanyaku rada kaget.

“Begini. Saya temukan banyak hadis yang dishare manteman (teman-teman) tentang keutamaan ziarah ke makam Nabi dan wali suci, seperti pahala yang berlipat2 dan jaminan ijabah bagi yang berdoa di dekat makam suci itu,” ujarmya dengan nada nelangsa.

“Lalu apa masalahhya?” tanyaku menyela.

“Kan tidak semua orang punya kemampuan finansial dan kesehatan untuk berziarah. Apakah memang yang miskin seperti saya ini tidak punya peluang untuk mendapatkan pahala berlipat-lipat dan jaminan ijabah doa karena tidak mampu membeli tiket pesawat untuk ziarah ke makam Nabi dan wali-wali suci? Bukankah kontra keadilan?” tanyanya dengan nada sedikit protes.

“Mas… Pahala berlipat dan jaminan ijabah doa di depan makam Nabi dan imam-imam itu hanya berlaku bagi yang mampu melakukannya,” jawabku berusaha menenangkannya.

“Jadi yang kaya dan mampu berziarah ke makam-makam suci itu lebih mujur di dunia karena bisa berziarah karena ijabah doa juga mujur di akhirat karena pahala-pahala super yang diperolehnya. Begitukah?” tanyanya seperti menyergah.

Aku lumayan kewalahan menghadapi “gugatan teologis” yang cerdas ini.

Sebagai orang yang dianggap “pegawai agama”, aku harus bisa menentramkan “klien” yang juga sahabatku. Aku mengatur napas dan diam sejenak. Teman2 lain terlihat penasaran menunggu jawabanku.

“Maksudku, pahala berlipat-lipat dan jaminan ijabah doa bagi orang yang kaya dan mampu berziarah hanya bisa diperoleh bila berada di dekat makam Nabi dan para imam. Artinya, berziarah secara fisik dengan melakukan perjalanan jauh dengan membawa bekal itu justru menjadi syarat mendapatkan pahala beripat dan ijabah doa bagi orang-orang yang mampu. Sedangkan bagi yang miskin dan tidak mampu namun sangat ingin berziarah, ijabah doa dan pahala berlipat bisa diperoleh tanpa syarat yang berlaku bagi yang kaya dan mampu.”

Wajah Kosasih, pria berdarah Sunda yang termadurakan ini, terlihat sumringah.

Aku tambahkan, “Orang miskin dan tak mampu melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berziarah bisa mendapatkan pahala berlipat dan ijabah doa hanya dengan membaca teks ziarah dengan hati khusyuk dan penuh cinta membara kepada Nabi dan para imam.

Keadilan Allah berlaku selamanya tanpa pengecualian. Agama yang dihadirkan oleh Tuhan Yang Maha Adil pastilah adil.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed