ANTARA “AH” DAN “OK”

Belakangan ini ada semacam upaya masif polarisasi yang berpotensi menciptakan benturan dan disintegrasi bangsa yang dipersatukan Pancasila ini.

Hampir setiap orang di negara ini, terutama yang punya akun di Facebook dan Twitter terbelah dalam dua sikap politik, menolak Ahok dan menerima Ahok.

Tiba-tiba kita menjadikan Ahok sebagai sebuah isu sentral, yang memompa adrenaline dan mendorong kita untuk menganggapnya sebagai parameter relijiusitas, bahkan pembeda penghuni surga dan penghuni neraka.

Bila direnungkan secara seksama dengan akal sehat, ekstremisme seputar Ahok itu bersumber dari generalisasi keyakinan sebagai garis merah dengan pengabaian parameter lainnya. Keyakinan yang abstrak justru dijadikan cermin dari prilaku yang konkrit. Padahal mestinya prilaku yang terinderakan menjadi etalase keyakinan yang tak terinderakan.

Agama dan mazhab bukan pemilih, bukan pendukung atau penentang, karena ia bukan manusia dan, tentu bukan warga negara dan propinsi manapun.

Kini toleransi dan intoleransi dikerucutkan pada sikap terhadap Ahok. Yang menolak Ahok mencap para pendukungnya sebagai orang-orang sesat. Yang mendukung Ahok menganggap para penolaknya sebagai intoleran.

Padahal banyak cara mengekspresikan toleransi. Memilih figur tak sekeyakinan bukan bukti tunggal toleransi. Tak memilihnya juga tak niscaya berarti intoleran.

Justru salah satu bukti toleransi adalah tidak serta merta memastikan pengkritik figur tak sekeyakinan sebagai intoleran.

Orang toleran menolak atau mengkritik pemimpin karena kebijaksanaanya atau kepribadiannya. Kalau dia tak seagama, itu hanya kebetulan.

Kita tak perlu memadamkan sikap kritis terhadap kebijaksanaan pemimpin yang tak seagama karena khawatir dituduh intoleran. Isi kritik dan argumennya adalah tolok ukurnya.

News Feed