Amerika Bombardir Basra Lagi

Lama kelamaan fakta memperjelas bahwa konflik di Irak bukanlah konflik sektarian (Sunni v Syiah), tapi konflik antara pejuang dan penjajah. Serangan udara tentara Amerika Serikat (AS) dan Inggris menewaskan 12 pria bersenjata. Basra telah menjadi ajang pertempuran sengit sejak bulan lalu antara tentara Irak dan milisi Syiah yang setia kepada Moqtada al-Sadr, Laskar Mahdi.

Kota terbesar kedua di Irak itu relatif tenang dalam dua pekan terakhir meski serangan udara tiba-tiba terus dilakukan AS dan Inggris.

“Jumat pagi, tentara Irak melepaskan tembakan saat mencoba memasuki Distrik Basra utara, Hayaniya, yang menjadi basis kekuatan Laskar Mahdi,” ungkap polisi Irak kemarin.

Juru bicara militer Inggris Mayor Tom Holloway menjelaskan, pasukan Inggris membantu dengan melancarkan serangan udara yang menewaskan enam orang dan melukai satu orang lainnya.

“Kami melihat sebuah tim mortir musuh yang menembaki pasukan Irak di darat. Tim mortir itu bertempur melawan pasukan darat tentara Irak,” kata Holloway.

Perang yang berkecamuk di sejumlah wilayah Irak setelah Perdana Menteri (PM) Irak Nuri al-Maliki melancarkan perburuan milisi Sadr di Basra pada Maret silam.

Operasi militer itu menyulut gelombang kekerasan baru yang menyebar hingga ke Baghdad. Pertempuran di Basra mereda setelah Sadr memerintahkan Laskar Mahdi agar tidak lagi berada di jalanan pada dua pekan lalu.

Meski demikian, baku tembak terus terjadi di Sadr City, yang masih diblokade tentara Irak.

Kondisi itu membuat warga Sadr City kekurangan makanan dan obat-obatan. Pada Kamis (10/4), pasukan udara AS mengerahkan sebuah pesawat tempur di atas Sadr City yang menembakkan rudal Hellfire ke sebuah kelompok pria pembawa peluncur roket.

“Serangan udara AS itu menewaskan enam orang,” ungkap militer AS.

Maliki mengancam akan melarang gerakan Sadr berpartisipasi dalam pemilu provinsi tahun ini jika milisinya tidak menyerahkan senjata. Namun ancaman itu diabaikan Laskar Mahdi. Dalam pernyataan sikap Laskar Mahdi yang dibacakan dengan pengeras suara di masjid-masjid Sadr City, mereka tidak akan mematuhi seruan Maliki untuk menyerah.

“Mereka (pemerintah Irak) ingin kita tanpa senjata tapi mereka mengabaikan kehormatan dan martabat rakyat Irak,” tandas milisi Sadr itu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed