ANAK-ANAK KORBAN INTOLERANSI

“Emang kita sesat ya?” tanya anakku dengan nada galau.
Pertanyaan ini muncul stelah tidak tahan jadi bahan ejekan “sesat” cukup lama. Nyata!!!
“Emang kita bukan orang Indonesia?” tanya anakku.
Pertanyaan ini lebih menghunjam dari pertanyaan pertama, “Emang kita sesat”.
“Syiah itu apa sih?” tanya anakku yang baru berusia 12 tahun.
Dia terlalu “imut” untuk memaklumi diskrimasi dan menerima realitas determinan.
“Kenapa anak-anak komplek gak mau temenan sama aku? Kok mereka gak suka sama kita” tanya anakku lagi.
Sejak dikucilkan dan serig diintimidasi dua tahun lalu, 4 anakku rumah kami yang sempit jadi lapangan bola, sirkuit sepeda dan arena petak umpet.
Diskriminasi sektarian juga etnik adalah realitas yang terlalu nyata untuk ditolak dan terlalu getir untuk dialami bocah-bocah yang bukan bagian dari itu.
Bila telah menjadi objek diskriminasi sektarian, diskrimimasi-diskrimimasi lainnya mudah dilakukan. Sektarianisme dan rasisme adalah nyata.
“Aliran sesat”, “kafir”, “bukan Islam” telah menjadi opini luas dan masif hingga tak ada tokoh yang berani mengambil risiko melawannya.
Menentang gelombang penyesatan dan pengkafiran dinggap bagian dari kelompok sesat. Ini nyata.
Beberapa orang yang memajang nama dan logo lembaga ulama pada sampul buku yang menyudutkan Syiah bisa dianggap sebagai pihak yang paling bertanggungjawab.
Kini yang menyesatkan dan mengkafirkan bukan hanya kelompok khas tertentu. Kini seakan hanya dua pilihan; menyesatkan atau disesatkan.
Para penulis buku penyesatan Syiah yang mengatasnamakan lembaga keulamaan itu tidak tahu bahwa efek bisa sangat luas dan yang jadi korban bisa sangat banyak.
Penyesatan yang dilakukan logo lembaga keulamaan yang dianggap sebagai “wakil Tuhan”, bagi masyarakat awam mirip legalisasi intimidasi & diskriminasi.
Lembaga ini akan sibuk menghitung jumlah korban dari reaksi orang-orang yang diintolerankannya.
“Intoleransi institusional bisa mengalahkan toleransi sosmed”, hehehe.
Derita akibat diskriminasi keyakinan kadang terasa lebih berat 1000 kali lipat dari derita akibat tekanan ekonomi, apalagi bila merasakan keduanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed