Anatomi Filsafat Islam

Karena subjeknya adalah sesuatu yang mendului konsep itu sendiri, yaitu wujud, maka filsafat tidak memerlukan prinsip-prinsip konseptual, sedangkan definisi pokok-pokok masalah partikularnya tertera pada permulaan setiap pembahasan, sebagaimana biasanya terjadi dalam ilmu-ilmu lain.[1]

Sejak pertama kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, istilah filsafat digunakan sebagai lawan dari sophistry (ke-sophis-an atau kerancuan berpikir), dan memuat seluruh ilmu hakiki seperti fisika, kimia, kedokteran, astronomi, matematika dan teologi. Sampai sekarang, dalam banyak perpustakaan terkenal dunia, buku-buku fisika dan kimia masih dikelompokkan dalam kategori filsafat. Haya bidang-bidang berdasarkan kesepakatan seperti bidang kosakata, tata kalimat dan tata bahasa yang berada di luar wilayah filsafat.

Atas dasar itu, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî lebih memilih pola pembagian Yunani ketimbang pola pembgain modern, dengan menjadikan filsafat sebagai kata umum untuk seluruh ilmu hakiki, yang dibagi menjadi dua kelompok umum: ilmu-ilmu teoretis dan praktis. Ilmu-ilmu teoretis meliputi ilmu-ilmu alam, matematika dan teologi.

Ilmu-ilmu alam pada gilirannya meliputi kosmologi, mineralogi, botani dan zoologi; matematika meliputi aritmetika, geometri, astronomi dan musik. Teologi dibagi menjadi dua kelompok: metafisika atau perbincangan umum seputar wujud; dan teologi ketuhanan. Ilmu-ilmu praktis bercabang tiga: moralitas atau akhlak; ekonomi.[2]

Karena perbedaan makna yang disebutkan tentang ilmu dan filsafat, hubungan di antaranya juga menjadi berbeda sesuai dengan makna yang digunakan. Jika “ilmu” dipakai untuk arti kesadaran secara tak terikat, atau jika ia dipakai untuk arti kumpulan proposisi yang saling berkaitan, maka ia artinya jadi lebih umum daripada filsafat. Soalnya, ia mencakup proposisi-proposisi partikular dan ilmu-ilmu konvensional. Jika ilmu dipakai untuk arti proposisi-proposisi universal hakiki, ia menjadi setara dengan filsafat dalam arti kuno. Jika dipakai untuk arti proposisi-proposisi empiris, ia menjadi lebih sempit daripada filsafat dalam arti kuno dan bertentangan dengan filsafat dalam arti modern. Demikian pula, metafisika merupakan bagian filsafat dalam arti kuno dan setara dengann filsafat dalam salah satu makna modernnya.

Pertentangan filsafat dan ilmu dalam arti modern, seperti diketengahkan oleh para positivis, tidak lain bertujuan untuk merendahkan nilai filsafat dan mengingkari kedudukan akal dan nilai pemahaman intelektual. Anggapan itu jelas-jelas tidak benar. Saat mengupas epistemologi, saya akan menerangkan bahwa nilai pemahaman intelektual bukan saja tidak kurang dibandingkan dengan pengetahuan indrawi dan hasil pengalaman (experiential), melainkan lebih tinggi daripada keduanya. Bahkan, nilai pengetahuan hasil pengalaman bermuara pada nilai pemahaman intelektual dan proposisi-proposisi filosofis.

Atas dasar itu, penyempitan makna ilmu pada pengetahuan empiris dan filsafat pada sesuatu yang non-empiris bisa diterima kalau cuma sebatas perkara terminologi, tapi perbedaan kedua istilah itu tidak untuk mencitrakan soal-soal filsafat dan metafisika sebagai persangkaan kosong. Demikian pula, label “ilmiah” tidak memberikan keunggulan pada suatu kecenderungan filosofis. Label itu laksana tambalan yang tidak pas pada filsafat, sehingga hanya akan menandakan kebodohan dan upaya demagogis pemasangnya.

Klaim bahwa prinsip-prinsip filsafat seperti materialisme dialektika berasal dari hukum-hukum empiris adalah keliru, lantaran tiada hukum-hukum suatu ilmu (empiris) yang dapat digeneralisasikan pada ilmu lain, apalagi pada seluruh eksistensi. Misalnya, hukum-hukum psikologi dan biologi tidak dapat digeneralisasikan pada fisika atau kimia atau matematika dan demikian pula sebaliknya. Hukum-hukum suatu ilmu tidak berarti apa-apa di luar bidangnya sendiri.[3]

Dari penjelasan diatas, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî mengajukan alasan pemilahan ilmu. Menurutnya, masalah-masalah yang bisa dikenali merupakan spektrum yang luas. Dalam spektrum itu, sebagian masalah saling berhubungan erat, sedang sebagian lainnya tidak. Pada sisi lain, pemahaman satu jenis pengetahuan bergantung pada pemahaman lainnya, atau paling tidak pemahanan satu jenis pengetahuan membantu pemahaman lainnya, sementara hubungan ini tidak terwujud pada jenis-jenis pengetahuan lainnya.

Menurutnya, karena adanya fakta bahwa memperoleh seluruh pengetahuan mustahil bagi seseorang, dan kalaupun mungkin, tidak semua tergerak untuk itu, sejak dahulu para pengajar memutuskan untuk secara jitu mengklasifikasi topik-topik yang bertalian, kemudian menentukan pelbagai tipe ilmu dan pengetahuan. Beragam ilmu dikategorikan dan kebutuhan atas masing-masingnya dijabarkan, dan akibtanya prioritas masing-masing tertandaskan. Dengan begitu, pertama, seorang yang berbakat dan berselera tertentu bisa menemukan apa yang dicarinya dari tumpukan masalah tak berbilang dan jalan untuk mencapai tujuannya. Kedua, orang yang hendak mengenal bidang pengetahuan lain bisa mengetahui titik memulai dan mempermudah jalan untuk memperoleh bidang pengetahuan lain itu.

Oleh sebab itu, ilmu-ilmu dipilah-pilah ke dalam beberapa bagian. Tiap-tiap bagian, pada gilirannya, diletakkan pada kategori dan tingkat tertentu. Secara umum, ilmu dibagi menjadi teoretis dan praktis. Ilmu-ilmu teoretis dipecah menjadi ilmu-ilmu alam, matematika dan ketuhanan, sedang ilmu-ilmu praktis dipecah menjadi etika, ekonomi rumah tangga dan politik¾sebagaimana disebutkan sebelumnya.

Setelah menjelaskan pendapatnya tentang kemestian klasifikasi ilmu, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî membahas tolok ukur dan dasar klasifikasinya. Menurutnya, ilmu dapat diklasifikasi sesuai dengan beragam standar, di antara yang terpenting adalah sebagai berikut.

Menurut metode dan prosedur penelitian. Sebelumnya telah kita jelaskan bahwa semua soal tidak bisa dikaji dan diteliti dengan satu metode. Lantas, kita jelaskan bahwa berdasar metode umum penyelidikannya, semua ilmu dapat dipecah menjadi tiga kelompok:

1. Ilmu-ilmu rasional, yang diselidiki lewat bukti-bukti rasional dan penyimpulan mental belaka, seperti logika dan filsafat ketuhanan;

2. Ilmu-ilmu empiris, yang diverifikasi lewat metode-metode empiris, seperti fisika, kimia dan biologi.

3. Ilmu-ilmu nukilan (narrative sciences), yang ditilik lewat dokumentasi naratif atau historis, seperti sejarah, biografi (‘ilm al-rijâl) dan fiqh.

Menurut tujuan dan sasaran. Tolok-ukur lain untuk mengelompokkan ilmu ialah berdasarkan pelbagai manfaat dan akibatnya. Inilah matalamat dan sasaran yang dituju oleh mereka yang hendak mempelajarinya, semisal tujuan-tujuan material, spiritual, individual dan sosial dari ilmu bersangkutan. Jelas bahwa orang yang hendak mencari jalan penyempurnaan spiritual harus mempelajari berbagai hal yang tidak dibutuhkan oleh seorang yang ingin menjadi hartawan dengan bertani dan berindustri. Begitu pula seorang pemimpin masyarakat membutuhkan jenis pengetahuan yang khusus. Karenanya, ilmu-ilmu manusia juga bisa diklasifikasi sesuai dengan tujuan-tujuan tersebut.

Menurut pokok soal (subject matter). Mengingat bahwa semua masalah mempunyai pokok soal dan sejumlah soal bisa dihimpun dalam satu topik induk, maka topik induk inilah yang berperan sebagai poros bagi semua masalah yang di bawahnya, seperti angka adalah pokok masalah aritmetika, volume (kuantitas-kuantitas berSinambung) adalah pokok masalah geometri dan tubuh manusia adalah pokok masalah ilmu kedokteran.

Klasifikasi ilmu berdasarkan pokok-pokok masalah kiranya lebih menjamin tercapainya tujuan pemilahan ilmu, lantaran dengan metode ini kaitan-kaitan internal dalam tatanan dan susunan mereka tetap terpelihara. Oleh sebab itu, sejah dahulu para filosof besar menggunakan metode ini dalam klasifikasi ilmu. Tetapi, dalam pen-subdivisi-an kita dapat mempertimbangan metode-metode lain. Umpamanya, seorang bisa menetapkan suatu ilmu bernama teologi, yang pokok masalahnya berkisat tentang Tuhan Mahabesar. Lalu, ilmu ini sendiri dapat disubdivisikan ke dalam teologi filosofis, gnostis dan religius, yang masing-masingnya dapat diselidiki dengan prosedur yang khas. Dalam kenyataannya, tolok-ukur subdivisi ini ialah metode penelitiannya. Dengan cara sama, pokok masalah matematika bisa dibagi menjadi beberapa cabang berdasarkan tujuan spesifiknya masing-masing, seperti matematika fisika dan matematika ekonomi.

Selanjutnya, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menjelaskan tujuan studi filsafat. Menurutnya, tujuan jangka pendek dan langsung semua ilmu adalah menyadarkan manusia terhadap pelbagai masalah yang terungkap dalam ilmu tersebut, serta memuaskan dahaga kodratinya untuk memahami kebenaran. Pasalnya, salah satu naluri paling mendasar manusia adalah mencari kebenaran atau keingintahuan yang tak berhingga dan tak terpuaskan. Pemuasan relatif atas naluri ini akan memenuhi salah satu kebutuhan jiwa. Walaupun tidak semua individu memilikinya dalam tingkat yang sangat aktif dan penuh gelora, namun naluri ini tidak pernah sepenuhnya lenyap dari diri manusia.[4]

Pada galibnya, setiap ilmu mempunyai pelbagai manfaat dan dampak tidak langsung serta bertindak sebagai medium kehidupan material dan spiritual manusia. Umpamanya, ilmu-ilmu alam lebih memudahkan proses pemanfaatan alam dan meningkatkan kesejahteraan fisik manusia, serta terpaut dengan kehidupan alami dan hewani manusia melalui satu sarana. Matematika memiliki dua medium untuk mencapai tujuan-tujuan di atas—kendati dengan cara lain, dapat pula mempengaruhi kehidupan spiritual dan dimensi maknawi manusia. Khususnya, saat matematika berkelindan dengan isu-isu filsafat, ketuhanan, dan penghayatan gnotis (‘irfâniyyah) hati, serta membeberkan gejala-gejala alam sebagai imbas keteraturan, keagungan, kebijaksanaan, dan kasih sayang (luthf) ilahi.[5]

Hubungan dimensi-dimensi spiritual dan maknawi manusia dengan ilmu-ilmu filsafat lebih dekat ketimbang hubungannya dengan ilmu-ilmu alam. Bahkan, ilmu-ilmu alam berhubungkan dengan dimensi maknawi manusia melalui perantaraan ilmu-ilmu filsafat. Hubungan tersebut paling tampak dalam teologi, psikologi filosofis, dan etika. Demikian itu karena filsafat ketuhanan (teologi) memperkenalkan seseorang kepada Tuhan, Sang Mahabesar, berikut sifat-sifat keindahan dan keagungan-Nya, seraya mempersiapkan manusia untuk berhubungan dengan sumber pengetahuan, kekuasaan, dan keindahan tak berhingga.

Psikologi filosofis, menurut Muhammad Taqî Misbâh Yazdî, memudahkan manusia untuk mengenali ruh berikut sifat-sifat dan ciri-cirinya serta menggugah kesadaran terhadap substansi (jawhar) kemanusiaan. Ia memperluas cakrawala seputar hakikat diri manusia, seraya mengajaknya melampaui alam fisik berdimensi spasio-temporal (ruang-waktu). Selain pula memasok pemahaman bahwa hidup manusia tidaklah terbatas dan terkungkung dalam bingkai kehidupan duniawi dan material yang serba sempit dan gelap. Etika dan akhlak menjabarkan pola-pola menyucikan dan menghiasi kalbu serta menggapai kebahagiaan abadi dan kesempurnaan puncak.[6]

Dalam upaya mencecap semua pengetahuan tak terhingga itu, Muhammad Taqî Misbâh Yazdî menyarankan sejumlah masalah dalam epistemologi dan ontologi mestilah dipecahkan terlebih dahulu. Karena itu, menurutnya, filsafat pertama merupakan kunci perbendaharaan tak terhingga dan tak tertandingi yang menjajakan kebahagian dan keuntungan abadi itu. Itulah akar yang diberkahi dari “pohon yang baik”.

Selain itu, filsafat juga membantu manusia menghalau godaan was-was setan dan menampik gelenyar materialisme dan ateisme; menjaganya dari penyimpangan berpikir dan ragam jerat yang memerangkap; melindunginya dengan senjata pamungkas di arena adu gagasan dan membuatnya mampu membela pandangan-pandangan dan aliran-aliran yang benar, sekaligus menyerbu dan membidas pandangan-padangan dan aliran-aliran keliru, palsu, dan tidak sehat.[7]

Selain dengan unik berperan positif dan konstruktif, filsafat, menurut Muhammad Taqî Misbâh Yazdî juga punya peran tak tertandingi dalam hal pertahanan dan serangan. Pengaruhnya sungguh kuat dalam konteks penyebaran budaya Islam serta penggusuran budaya-budaya lawan.

Dari penjelasannya tentang subjek dan tujuan filsafat, penulis menyimpulkan bahwa Muhammad Taqî Misbâh Yazdî berpandangan bahwa filsafat yang terutama adalah ontologi, dan yang terutama dalam ontologi adalah teologi, dan bahwa tujuan ultimumnya adalah pengenalan terhadap Kausa Prima, Tuhan.

Menurut penulis, sebagaimana pada kritik atas penentuan Muhammad Taqî Misbâh terhadap subjek dan pengertian filsafat dan subjek ontologi yang menyisakan tanda tanya, klarifikasi Muhammad Taqî Misbâh tentang isytirak lafzhi dan isytirak ma’nawi kata ‘wujud’ merupakan indikasi nyata ketidadisiplinan para filosof Muslim pada umumnya dalam menggunakan terminologi. Sedemikian rancu dan menimbulkan penafsiran ganda pengertian di balik kata “wujud” sehingga Muhammad Taqî Misbâh perlu membahas masalah ini secara panjang lebar.

Harus diakui, langkah dan inisiatif ini sangat berguna, namun pada saat yang sama, ini memberikan kesan bahwa sebagian polemik dalam literatur filsafat Islam boleh jadi diakibatkan oleh sengketa etimologis dan hermuentik, bukan filosofis.


[1] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal. 90. Tehran: Muassasah Intisyarat Amir Kabir, 1998, jld., 1

[2] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy e Falsafeh, hal. 75

[3] Muhammad Taqî Misbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal. 100

[4] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal. 90-91.

[5] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal. 101.

[6] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal. 101

[7] Muhammad Taqî Mishbâh Yazdî, Âmûzesy-e Falsafeh, hal.102.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 comments

  1. Salah satu prinsip ilmiah yang dahulu saya pahami adalah adanya obyektifitas secara universal. Ada kesan dari para saintis, yang dahulu menjadi rujukan saya, bahwa filsafat tidak “mampu” untuk menyajikan kesimpulan secara obyektif-universal.
    Sejauh pengalaman saya, bahkan ilmu se-“sederhana” fisika pun ternyata juga sama-sama tidak mampunya dalam membawa kesimpulan “universal” itu.
    Pertanyaan saya adalah, bila dalam filsafat, dengan prakondisi tertentu maka si fulan A akan sampai pada suatu kesimpulan. Maka apakah bila dengan prakondisi yang sama maka fulan B akan mencapai kesimpulan yang sama?
    Dan adakah ilmu, dalam pandangan Misbah Yazdi, yang bisa menjadi dasar sehingga dengan ilmu tersebut seseorang akan bisa menguasai ilmu yang lain secara mudah?

  2. kalau boleh tanya, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada yang obyektif di dunia ini. yang ada hanyalah subyektif dominan. apakah betul?

    bagaimana dengan pendapat, obyektif itu terkait dengan kuasa.

    ML: Lha, apakah “subjektif dominan” itu subjektif ataukah tidak ya? He he…

  3. ya emang ilmu sesederhana fisika dan sains lainnya tidak mampu memberi jawaban universal, namun mungkin yang membuat para saintis terkesan bangga dengan kebenaran sains dan agak meremehkan filsafat adalah kebenaran sains lebih dapat diuji.

    hehehe sory saya gak ngerti apa2 tapi udah nyeplos

  4. kebanggaan saintis adalah produk keilmuannya bisa disaksikan langsung oleh khalayak.. dan memanfaatkannya secara praktis… dan ini tidak heran karena dunia ini didominasi oleh orang-orang yang logika fungsional serta common senses nya berada digaris terdepan…

    walaupun filsafat kadang-kadang merubah paradigma, perspektif serta haluan peradaban manusia secara ekstrim dan merambah keseluruh lini yang paling prinsipil, tidak disadari… karena memang tidak mungkin mengharapkan semua orang punya kesadaran penuh atas efek yang diberikan dan eksistensi filsafat itu sendiri.

  5. Hmm…kebenaran sains dapat lebih diuji?
    Sampai sekarang aja belum ada kesepakatan dari pakar aeronotika, mana yang lebih berperan dalam menerbangkan pesawat terbang, apakah perbedaan tekanan udara di sayap ala Bernoulli, ataukah gaya Newton karena Angle of Attack pesawat itu sendiri.
    Dan banyak sekali kebenaran filosofis yang sangat bisa diuji, kayak misal: Sebagian adalah lebih kecil daripada keseluruhan, atau Mustahil sesuatu itu ada dan tiada pada saat bersamaan. Lagipula, para filsuf tidak sedemikian “bernafsu”-nya atas pengujian (asas empiris) sebagaimana para saintis.

    PS: Jangan salah ya….saya dulu asyik banget sama belajar fisika, dan sampe sekarang juga masih…jadi saya bukan kelompok yang anti terhadap sains….hehe..Peace

  6. omong2 tanya jawab non fikih di icc jakarta kok gak bisa saya buka ya?

    saya rasanya pernah membaca disitu, bahwa ada dua pandangan dunia. Yang pertama pandangan dunia Ilahiyah dan yang kedua adalah pandangan dunia materialisme. Pandangan dunia ilahiyah adalah pandangan bahwa dunia ini diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan. Sedangkan pandangan dunia materialisme adalah pandangan dimana dunia ini tercipta dengan sendirinya. Dengan demikianpandangan dunia materialisme beranggapan dunia ini beergerak secara mekanistik, seperti mesin, dan terus berubah dan ber-evolusi, tidak butuh penanganan khusus dari Tuhan. CMIIW

    Nah yang hendak saya tanyakan adalah, kalau umpama kita percaya alam ini diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan, namun kita percaya juga kalau dunia ini secara general, bergerak secara mekanistik dan ber-evolusi, sehingga tindakan penciptaan dan pemeliharaan-Nya terhadap alam semesta itu sebenarnya satu tindakan yang sama saja, dan Tuhanlah yang menyebabkan alam berkelakuan seperti itu. Lantas apakah pandangan dunia kita ini disebut pandangan dunia Ilahiyah atau materialisme atau bukan kedua-duanya?

    Alasan saya menanyakan ini adalah, ada gerakan yang menentang teori evolusi dan materialisme habis-habisan, yang seolah2 mereka terdesak keharusan bahwa untuk bisa beriman, orang harus menolak bahwa dunia ini bergerak secara mekanistik dan ber-evolusi. Walaupun konyolnya, mereka sering menukil artikel2 sains untuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan, dimana kita tahu sains sendiri dibangun dengan anggapan dasar bahwa alam ini secara general bergerak secara mekanistik.

    maaf ini tidak nyambung namun mohon pencerahannya bagi yang tahu 🙂

    ML: Memang benar. Situs ICC lagi opname, tapi tdk lama lagi akan segera pulih, termasuk ruang tanya jawab.

  7. Salam,
    wah mas Rafid, jadi asyik nih diskusi-nye…
    Dalam pemahaman saya (10298075…hehe) sebenernya ada dua hal yang dibahas di atas…
    Pertama Evolusi
    Kedua Materialisme
    Materialisme kan udah jelas, dan jelas-2 kita tolak bahwa yang maujud hanya materi semata.
    Nah Evolusi-lah yang menjadi persoalan.
    Apakah dia memiliki mekanisme yang inheren, bebas dari intervensi siapa pun? Ataukah ada suatu kekuatan luar yang menggerakkannya?
    Kalau baca Teori Darwin, sudah jelas bahwa kekuatan luar tersebut ada. Makanya Darwin menyebutnya: Seleksi Alam. Artinya, pelaku yang menggerakkan evolusi ini adalah “ALAM”.
    Di sini lah kita melihat bagaimana evolusionis digabungkan ke dalam materialisme. Karena tidak ada yang eksis selain materi, maka tentunya penggerak evolusi juga harus berasal dari domain materi, maka agar dicapai kecocokan disebutkan-lah kata “ALAM” sebagai pelaku.
    Padahal kita tahu, juga dari penjelasan evolusi mereka, bahwa alam adalah yang mengalami evolusi.
    Kalau mau didedah, alam yang mana?
    Apakah alam yang menggerakkan evolusi di dunia animalia ini gunung2 dan bukit2? Padahal gunung dan bukit pun mengalami evolusi. Lantas, siapa yang menggerakkan evolusi gunung dan bukit?
    Jawaban mereka, kekuatan yang bergerak di dalam bumi-lah yang menggerakkan evolusi mereka. Lalu, bukankah bumi juga mengalami evolusi? Penggeraknya adalah bintang-bintang. Bukankah Bintang-bintang juga mengalami evolusi? Penggeraknya adalah Galaksi. Galaksi pun mengalami evolusi. Siapa yang menggerakkannya?
    Dengan “Jenius” nya mereka mengatakan “ALAM”……
    Maksa, gara-gara bersikukuh dalam membatasi wujud pada alam materi belaka….
    Bagaimana pandangan dunia Ilahiah membahas Evolusi?
    Apakah sesuai dengan penjelasan Mulla Sadra akan adanya “pergerakan substansi”?

  8. ya masalahnya saya nggak tahu penjelasan Mulla Sadra sih …

    kalo sepanjang pemikiran saya sih seleksi alam adalah akibat berlakunya hukum alam, dan berlakunya hukum alam akibat keberadaan Tuhan. Kalau Tuhan tidak ada, hukum alam tidak berlaku, seleksi alam tidak akan muncul, akibatnya evolusi juga tidak terjadi, karena mustahil mengumpulkan sesuatu yang cocok dari variasi2 acak tanpa aturan sama sekali.

    Seperti perbincangan seorang Prof Biologi dengan seorang mahasiswa. Mahasiswa itu berkata pada Professor, “Pak, proses evolusi yang terjadi dari peristiwa2 acak itu sama mustahilnya dengan hasil ketikan2 acak dari monyet pada keyboard komputer menghasilkan puisi Goethe.” Lalu Profesor itu bilang, “hasil ketikan acak monyet2 bisa menghasilkan puisi Goethe lho, asalkan ada program di komputer yang bisa mengumpulkan hasil ketikan monyet yang sudah benar dan menyambung2nya menjadi puisi Goethe. Program itu namanya seleksi alam.”

    Namun para ilmuwan “atheis” menganggap bahwa evolusi itu “tidak bertujuan” dalam arti tidak mengarahkan makhluk hidup ke satu bentuk tertentu seperti manusia umpamanya. Bagi mereka, tujuan evolusi adalah menghasilkan sesuatu yang paling mampu dalam melanjutkan generasinya. adapun terciptanya makhluk2 yang luar biasa seperti manusia dan dinosaurus semata2 karena akibat sampingan dari tujuan “menghasilkan bentuk yang paling mampu melanjutkan generasinya” tersebut, dan bukan karena tujuan menghasilkan makhluk paling kompleks, paling bagus, paling pintar, paling sempurna walaupun demikian kenyataannya.

    Bagiku tujuan Tuhan adalah apa yang terjadi. Dan karena yang terjadi adalah pembentukan manusia, maka itulah tujuan Tuhan. Walaupun evolusi (secara teori) tidak diarahkan khusus untuk membentuk manusia karena harus melalui tahapan yang tak terhitung jumlahnya serta waktu milyaran tahun untuk membentuk manusia beserta saudara2nya se-DNA yang lain namun karena kenyataannya ini yang terjadi maka ini tujuan Tuhan.

    maaf kalo topik komentarnya agak bergeser nih hehehe

  9. heheh…
    tetep aja si profesor itu mengakui kalau ada pihak di luar alam itu sendiri yang menjalankan evolusi. ( “…asal ada program yang menyambungkan huruf-2 yang diketik monyet itu….”)
    Kenapa sih orang-orang itu maksain realitas terbatas di alam materi?
    Dan saya setuju banget sama mas Rafid, kalau yang terjadi menunjukkan bahwa alam ini punya tujuan.
    Kalau mereka mau mempelajari, seiring dengan waktu, di dunia animalia yang bermunculan adalah makhluk yang lebih “sophisticated” daripada sebelumnya.
    Paling awal adalah makhluk bersel satu, terus berkembang jadi makhluk bersel banyak tapi masih sederhana (trilobyte), terus berkembang jadi makhluk berdarah dingin yang berenang-renang di laut, terus berkembang menjadi makhluk yang berjalan di daratan (nenek moyangnya Dinosaurus), akhirnya jadi mamalia yang akhirnya bercabang ke makhluk dengan intelijensia (Homo Sapiens). Dinosaurus dipandang hebat sama sebagian orang, tapi itu lebih karena ukurannya. Secara biologis, performa dan kompleksitasnya masih di bawah mamalia. Dan binatang terbesar yang pernah ada di bumi masih dipegang kelompok mamalia, yaitu Paus Biru.
    Dan kemunculan makhluk dengan intelijensia di paling ujung justru sangat membuktikan bahwa ada tujuan dari evolusi alam itu.

  10. Namun kalau kita menjadikan paradigma seleksi alam sebagai tindakan Tuhan, dan menganggap kasih sayang Tuhan seperti pemberian sifat2 atau fasilitas tubuh yang mendukung kesejahteraan makhluknya sebagai hasil seleksi alam (yang terus mendorong berkembangnya sifat2 yang meningkatkan kemampuan spesies dalam melangsungkan generasinya) maupun “bonus”nya (seperti masih bisa hidupnya species setelah masa produktif reproduksinya), maka dikhawatirkan kita akan berpikiran bahwa munculnya seseorang yang maksum untuk membimbing manusia adalah sesuatu yang tidak harus dilakukan Tuhan.

    Saya mohon maaf tidak terlalu tahu dengan akidah Syiah atau teori evolusi darwinian sebenarnya, namun evolusi itu kan berangkatnya dari common sense. Seleksi alam tidak pernah menghasilkan bentuk2 yang benar2 sempurna. Mungkin suatu spesies memiliki sifat2 baik fisik maupun kelakuan yang sempurna untuk lingkungan dan masa tertentu, namun begitu lingkungan berubah, dia sudah tidak sempurna lagi. Namun dengan hidupnya berbagai makhluk yang tidak sempurna tersebut, baik dalam 1 spesies maupun antar spesies, asalkan mereka berinteraksi satu sama lain maka mereka tetap bisa mempertahankan kelestarian dna mereka. Dan kalau sifat2 suatu spesies sudah tidak memadai lagi, akhirnya ya sudah mereka punah.

    Dengan demikian tidak harus ada satu individu khusus yang perfect yang memberikan petunjuk sempurna kepada seluruh anggota komunitasnya. Sama seperti di masyarakat manusia juga, manusia memperoleh bimbingan tidak hanya dari Nabi yang maksum saja. Bahkan sejujurnya yang benar2 mengenal dan mengetahui ajaran Nabi yang maksum itu tidak terlalu banyak. Manusia memperoleh semua bimbingan yang dibutuhkannya selain dari agama juga dari fitrah dirinya sendiri, dan juga dari orang-orang seperti dari para filosof, dari para saintis, dari orang semacam mereka. Dan orang2 yang saya sebut terakhir itu jelas tidak sempurna, bimbingan mereka sifatnya parsial saja dan tidak mutlak namun manusia masih bisa membangun peradaban dan kebudayaan yang tenteram dengan itu.

    Paling juga andaikata kita memandang kemunculan orang yang maksum sebagai hasil seleksi alam, kita hanya memandang orang yang maksum sebagai orang dengan tingkat spiritual dan intelektual tertinggi diantara orang-orang umumnya, yang membawa ajaran yang paling dibutuhkan untuk semua orang, sehingga secara natural, ajarannya itu akan berkembang luas karena memang dibutuhkan orang. Namun seleksi alam tidak mengharuskan munculnya orang yang tidak bisa salah.

    Begitu pemikiran saya. Apa ada yang bisa memberikan pencerahan pada saya mengenai kepastian munculnya orang yang maksum di tengah kehidupan masyarakat manusia? Atau adakah link atau situs yang berkaitan dengan ini? Atau bolehkah kemunculan orang yang maksum dipandang sebagai suatu keyakinan yang tidak harus dibuktikan ke- wajib ada- nya menurut akal semata? Saat ini saya hanya menganggap kehadiran orang yang maksum sebagai keyakinan saja. Apakah ini sah?

    terima kasih, mohon pencerahannya.

News Feed