ANTARA HABIB DAN AHLULBAIT

Mencomot simbol sakral Ahlulbait setelah mengaku habib dan menganggap gelar itu sebagai perisai semua tindakan negatif sebagai modus justifikasi adalah pelanggaran teologis yang serius.

Ahlulbait adalah griya kesucian yang hanya dihuni oleh Nabi dan jejiwa suci yang memperagakan wahyu dalam tutur dan perilaku.

Ahlulbait dicintai dan diikuti karena keagungan perilaku dan suci karena mengawal wahyu.

Ahlulbait disucikan justru agar tak ada yang merasa paling mulia di tengah umat yang dibimbing dan agar berkompetisi meraih posisi tertinggi dalam ketakwaan.

Kesucian Ahlulbait adalah bagian dari syarat niscaya tugas mengawal wahyu yang diterima Nabi SAW. Karena itu, tak sembarang orang boleh mengklaim sebagai Ahlulbait.

Ahlulbait itu “organic” and limited. Yang olahan tak layak mengaklaimnya. Yang mengklaim diri Ahlulbait terduga tak mengakui batasan 5 anggota utamanya karena ingin mendapatkan hak istimewanya dengan gratis!

Memang sebutan sekunder Ahlulbait kadang digunakan untuk makna yang lebih longgar. Salman Alfarisi, dianggap sebagai anggota kehormatan Ahlulbait, karena jasanya yang tak tergantikan. Begitu mulianya Ahlulbait, sampai para arif selalu mengaku belum bisa menjadi pengikut Ahlulbait.

Di luar persoalan itu, menjual nama orang demi menipu banyak orang adalah pelanggaran hukum. Tapi mengatasinya dengan aksi negatif yang menimbulkan implikasi negatif dalam skala luas tentulah lebih buruk.

Apapun alasannya, tak ada yang berhak mengklaim sebagai Ahlulbait kecuali orang-orang yang disucikan dalam nas yang otentik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed