ANTARA HEWAN PENONTON DAN HEWAN PEMBACA : SEBUAH TRAGEDI LITERASI

Sedikit orang terlihat mudah menulis ide logis atau premis bermuatan wisdom dalam rangkaian kata yang serasi atau mengupas tema-tema sulit dan penting yang mungkin terlintas di benak banyak orang yang merasa terwakili atau didahului namun kesulitan menuangkannya dalam tulisan. Penyebabnya hanya satu, yaitu malas membaca karena menuntut banyak kerja keras intelektual yang dianggap tidak memberikan hasil konkret dan instan.Sebagian orang, karena malas membaca namun berambisi menjadi influencer, rela menjadi penjiplak tulisan dan pencuri ide.

Tayangan video berisi konten ala kadarnya, bahkan yang sama sekali tak bernilai, juga voice pada urutan setelahnya lebih berpengaruh dari tulisan, apalagi berupa buku atau artikel panjang yang memuat konten serius dan fundamental yang tak hanya memerlukan mata untuk dipecicili namun memerlukan akal sehat dengan modul logika juga kemampuan serta koleksi kosa kata di samping fokus, tentunya.

Sebagian besar orang mengutamakan objek sensual ketimbang objek sensual sekaligus intelektual. Hal itu karena melihat juga menonton dan mendengar juga menyimak adalah aktivitas hewani. Bahkan sebagian besar hewan punya kemampuan penglihatan, pendengaran dan penciuman yang mengungguli kemampuan penginderaan manusia. Setiap hari ribuan video iseng, konyol, tak informatif dan edukatif bahkan yang memuat stupiditas dan dusta diupload, diklik, ditonton dan dishare. Produk intelektual tertinggal dari produk kosmetik,kuliner, komedi dan game.

Dengan kata lain, penginderaan dan mempersepsi objek secara sensual bukanlah ciri khas manusia. Ia disebut manusia karena berpikir atau menyusun konsep-konsep dari objek konkret yang terinderakan dan mengabstrasikannya menjadi konsep-konsep ternalarkan yang universal.

Kegiatan membaca meliputi membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca nyaring adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan cara membaca keras di depan umum. Sedangkan kegiatan membaca dalam hati adalah kegiatan membaca dengan seksama yang dilakukan untuk mengerti dan memahami maksud atau tujuan penulis dalam media tertulis.

Membaca menjadi salah satu jenis kemampuan berbahasa melalui tulisan yang bersifat reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Membaca dapat diartikan juga sebagai proses individu memperoleh makna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan respektif saja, melainkan menghendaki pembaca untuk aktif berpikir ketika sedang melihat kata-kata yang terdapat di dalam media tulisan.

Sebagai salah satu aktivitas literasi, “membaca” punya makna; makna primer, yaitu membaca tanda-tanda yang telah ditetapkan dan disepakati sebagai kata yang menunjuk fakta tertentu; dan makna sekunder, yaitu mengamati dan mengalisa sebuah fenomena untuk disimpulkan.

Membaca adalah melakukan aksi sensual dan mental dengan mengabstraksi teks-teks terangkai menjadi makna-makna terangkai lalu memindahkannya ke slot-slot akal. Karena itu, mendengar dan menonton lebih disuka. Dengan kata lain, membaca adalah aksi menangkap pikiran melalui huruf-huruf dan tanda baca sebagai objek bacaan berupa buku, artikel, yang tertata dalam sejumlah paragraf yang memuat alinea-alinea.

Membaca adalah salah satu pekerjaan berat yang menguras energi dan stamina melebihi aksi fisikal, apalagi yang dibaca adalah sederet tulisan sistematis dan panjang yang memuat gagasan serius, baru dan fundamental. Karena itu banyak orang yang malas berpikir keras mengganti standar penerimaan gagasan melalui tulisan dengan “penulis”. Kualitas konten tulisan dan validitas gagasan yang tertuang di dalamnya diganti dengan kesamaan mindset dan kesamaan ikatan primordial dengan pembaca malas. Karenanya, sebernar apapun sebuah tulisan tidak akan dibaca apalagi dishare bila penulisnya berbeda keyakinan dan pandamgan dengan calon pembaca, atau tidak dikenal luas dan tidak dishare dan dibincangkan oleh khalayak mainstream meski tak mengikuti standar baku penulisan, meski kontennya invalid, sepele, tak edukatif, basi, bahkan hoax.

Subjek pembaca adalah manusia yang berusaha menangkap dan memahami pikiran penulis melalui teks-teks yang disusun dalam sebuah bacaan (tulisan). Ia berhadapan dan berkorespondensi dengan orang lain melalui tulisan yang merupakan bacaannya. Tapi tak semua mampu membaca, dan tak semua mampu membaca, membaca. Tak semua yang membaca, menangkap konten bacaan. Banyak atau sebagian besar manusia malas mengaktifkan akal untuk mengetahui yang belum diketahui, mengoreksi yang salah dan mengasersi yang benar.

Objek yang dibaca terbagi dua, yaitu a) objek primer atau langsung, yaitu huruf-huruf (kalimat) yang ditetapkan sebagai simbol-simbol pengunggap pikiran penulis yang disebut tulisan; b) objektif sekunder atau berperantara, yaitu pikiran-pikran yang diungkap oleh pemikir dengan aneka simbol huruf, angka dan tanda baca dalam sebuah tulisan. Objeknya adalah bacaan.

Bacaan adalah produk pembacaan yang berpasangan dengan tulisan yang merupakan produk penulisan. Apakah bacaan terikat dengan pembaca semata ataukah terikat dengan penulis pula sehingga pembaca tidak bebas sepenuhnya menafsirkan apa yang dibacanya namun harus menyesuaikan pemahamannya dengan gagasan penulis di balik tulisannya?

Karena lemahnya mekanisme analisa logika yang mengakibatkan rendahnya minat baca, ditambah sikap stereotipe, banyak orang gagal sebagai pembaca namun sukses sebagai penanggap, penilai, pengktitik, penyuka, distributor dan sebagian plagiator sebuah tulisan. Salah satu bencana besar yang menimbulkan efek destruktif umat manusia yang berujung polemik kontraproduktif adalah kerancuan membedakan denotasi dan konotasi, frasa baku dan satir juga kiasan dan sebagainya. Inilah tragedi literasi.

Wahyu Allah yang diturunkan atas Nabi SAW dan dihimpun dalam kitab suci disebut qur’an yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca juga disebut kitab yang berarti tulisan atau sesuatu yang ditulis. Ini mungkin menunjukkan bahwa mushaf tersebut harus dibaca sesuai maksud yang menulisnya dan tidak boleh ditafsirkan secara bebas.

Dalam Islam membaca merupakan aksi yang dimuliakan. Karena itu ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi SAW adalah perintah membaca ““Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96/Al-‘Alaq: 1-5).

Kata iqra’ (bacalah) mengandung makna luas mencakup segala sesuatu yang menjadi tanda. Ada empat makna di balknya, yaitu : a) Bermakna membaca tulisan dalam mushaf dengan baik dan benar. Membacanya adalah ibadah meskipun tidak mengerti maknanya; b) Bermakna mendalami Al-Quran dengan mengetahui artinya, memahami tafsirnya, bahkan menyingkap takwilnya; c) Bermakna memahami makna batin di dalamnya; d) Bermakna menyingkap tabir-tabir di dalam Alquran.

Karena malas membaca dan lebih mengukur siapa penulisnya sebagai alasan menerima dan menyebarkannya atau mengabaikan, menolak bahkan membantah, tulisan orang yang dianggap sebagai “pihak lain” ditolak untuk dipahami secara utuh. Karena tidak memahaminya atau menolak memahaminya, memvonisnya salah. Karena keburu menganggapnya salah, menilainya dan memberikan tanggapan tak relevan atau komentar tak sebanding dengan kualitas tulisan yang ditanggapinya.

Karena malas membaca secara tekun dengan fokus maksimal, tulisan yang mengulang tema yang telah diketahui atau yang sesuai keyakinan, selaras dengan kecenderungan diri apalagi menghibur lebih digemari dan dianggap perlu untuk disebarkan

Meluasnya intoleransi dan ekstremisme mengungkap fakta pembacaan yang semata denotatif dan bugil dari literasi rasional atau bahkan karena malas membaca dan membiarkan dirinya menjadi keranjang doktrin irrasional yang disampaikan secara verbal dan visual.

Ringkasnya, manusia bisa didefinisikan sebagai hewan pembaca, meski bukan definisi esensial karena membaca adalah aktivitas intelektual sekaligus fisikal, namun tak bisa didefenisikan sebagai hewan penonton dan pendengar karena kucing, tikus dan semacamnya tak bisa melakukannya tapi tak bisa membaca

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed