ANTARA MENGIKUTI IDOLA DAN MENGANUT KEYAKINAN

Sekelompok homo sapien karena terbentuk oleh pola sistem sosial yang feodalistik dan totalitarian terbiasa menyerahkan urusan hidup kecuali benapas, tidur, buang air dan aktivitas personal lainnya, menyatakan mengikuti keputusan patronnya menganut sebuah keyakinan pada dasarnya tak menganut keyakinan itu tapi mengikuti keputusan patronnya.
 
Karena tak merasa memilihnya, ketika patron memutuskan untuk kembali ke keyakinan lama, mereka pun mengikutinya. Ini bukan soal pilihan keyakinan atau keputusan individu mandiri secara intelektual dan sosial. Ini soal patronase dalam struktur kekuasaan informal yang dibangun di atas klaim dan folklor mematuhi arca-arca berdaki yang dahaga pujaan.
Menurut Francis Bacon, bapak empirisisme, ada empat idola (berhala) dalam benak yang sering menghalangi subjek berpikir logis dan valid.
 
Pertama: Idola tribus (The Idols of Tribe); penyimpulan tanpa dasar yang cukup dan berpijak di atas alasan-alasan dangkal. Ini menjangkiti banyak awam/tribus. Kedua: Idola specus (The Idols of the Cave); penyimpulan berdasarkan prasangka semata, prejudice, kebencian, seperti manusia di dalam gua/ specus.Ketiga: Idola fori (The Idols of the Market Place); penyimpulan hanya ikut-ikutan opini umum, trend, kehendak pasar atau tekanan golongan tertentu. Keempat: Idola theatri (The Idols of the Theatre); penyimpulan berdasarkan dogma, mitos, utopia, mindset primordial, seolah dunia hanyalah drama. Secara umum, Bacon menganggap kebodohan yang didasarkan pada mindset yang abdurd lebih buruk dari kebodohan karena minim data.
 
Ketika seseorang yang secara temurun mengenakan tiara ketokohan dan menikmati supremasi delusif menjadikan sebuah keyakinan dan ajaran baru sebagai modal untuk menaikkan posisi tawar dalam arena kompetisi kekuasaan kultural dan senjata rahasia dalam perebutan puncak mata rantai makanan, dan tak cukup tangguh menangkis ssrangan balik yang diterimanya dengan risiko kehilangan kastilnya, dia pun menelan malu dan bersimpuh di hadapan kompetitor seraya berserah mengakui kesalahannya demi mempertahankan yang tersisa dari puing-puing bentengnya yang roboh.
 
Ini bukan soal keyakinan. Ini soal posisi terdepan dalam antrian.
Ketika sebuah keyakinan dan ajaran yang dibangun di atas postulat-postulat logika dan mengundang inteleksi melelahkan dianut oleh sekelompok orang tanpa proses komparasi dalam sebuah atmosfer yang primordial dan konservatif lalu menganulirnya karena mengikuti tokoh patronnya, maka yang bisa dilakukan hanya meresponnya secara positif seraya mensyukurinya sebagai karunia bagi komunitas penganut keyakinan yang ditinggalkan juga anugerah kebebasan dari derita inteleksi dan kendali logika bagi yang hidup dalam bayang-bayang sang idola.
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed