Antara Moqtada dan Ayatulah Sistani

sistani1.jpgkazhem-haeri.jpg

Seorang pengunjung go-blog menanyakan kepada saya tentang hubungan Ayatullah Sistani dengan Moqatada Sadr. Hari ini telivisi aljzeera menayangkan wawancara eksklusif dengan Moqtada Sadr. Beberapa pertanyaan tentang dirinya, kecenderungan politik hingga pendapatnya yang menentang konflik sektarian. “Sebelum kedatangan Amerika, Syiah dan Sunni hidup rukun,” katanya.

Tapi yang menarik ialah bahwa menganggap semua pihak luar, termasuk Iran, sebagai pihak asing, dan karenanya harus menghormati kedaulatan Irak.

Saat ditanya tentang siapakah tokoh keagamaan yang paling dihormatinya, Muqtada menyebut nama Ayatullah Kazhim Haeri, salah satu murid Ayatullah Muhjammad Baqir Sadr. Ia menyimpulkan hal itu berdasarakan pandangan ayahnya, Ayatullah Muhammad sadiq Sadr.

Dari jawaban itu, terlihat dengan jelas, Muqtada sadr tidak memiliki hubungan ketaatan dengan Ayatullah Sistani, tokoh Syiah paling berpengaruh di Irak saat ini.

Tentu pernyataan ini sangat disesalkan karena bisa menimbulkan reaksi negatif dari kalangan Syiah yang umumnya bertaqlid kepada Ayatullah Sistani.

Beruntunglah, beberapa jam setelah penayang wawancara tersebut, telivisi al-alam melaporkan seruan Ayatullah kazhim Haeri yang menghimbau kepada semua pihak yang terlibat pertempuran berdarah di Irak Baghdad dan Basrah untuk bersatu melawan tentara penjajah dengan mengutamakan jalur dialog.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

  1. Kita diajarkan untuk tidak membagun tendensi konflik sesama muqallid dalam perbedaan marja’ yang ditaqliki. Apakah di Irak tidak ada seruan ini? jika konflik antar muqallid tidak terhindari, maka solusinya setiap marja’ melebur dirinya pada satu tokoh yang paling dipercaya sesama mereka untuk menjadi sentral taqlid. Kondisi Irak sangat membutuhkan perekat yang kuat, khususnya Syi’ah dalam menyikapi keadaan yang kompleks disana. Betul gak ya?… dari pandangan si awam..

  2. Assalamu’alaikum, ustadz, perkenankan Al-faqir berkomentar. mohon diluruskan:
    Pertama,
    Menurut Al-faqir, tak heran kalau Moqtada Shadr secara terang-terangan tidak menunjukkan keberpihakannya kepada Marji’ besar Irak, Ayatollah Al-Uzhma Sayyid Sistani. Sebab, tampak sekali bahwa model perjuangan Moqtada Sahder yang lebih bernuansa haraki, memiliki visi yang mirip dengan Ayatollah Al-Marji Sayyid Kazhim Al-Haeri Al-Yazdi, begitu pula dengan para pendahulunya seperti ayahandanya sendiri Ayatollah Sayyid Muhammad Shadiq Shadr dan sepupu ayahnya, Asy-Syahid As-Sa’id, Sayyid Muhammad Baqir Shadr. Dengan kata lain, begitulah ciri khas Madrasah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, yang kemudian dilanjutkan oleh para pengikutnya dan terbentuklah Hizbud-Da’wah

    Kedua,
    Seperti kita semua ketahui, sudah sejak lama api fitnah dikobarkan oleh Zionis melalui peran aktif Mossad dalam memecah-belah umat Islam, khususnya di Irak, sejak kedatangan penjajah Amerika ke negeri itu. Akibatnya, muncul ketegangan di antara sesama pengikut Syi’ah di Irak. Yang paling kontras adalah, ketegangan hubungan antara para pendukung Dewan Tertinggi Revolusi Islam Irak yang dipimpin oleh keluarga Al-Hakim, dengan para pengikut Hizbud-Da’wah yang berada di bawah kendali keluarga Ash-Shadr. Pada masa-masa awal perjuangannya, memang Muqtada tampak terkesan gegabah dalam bertindak. orang banyak menilai Jaisy Al-Mahdi yang pimpinnya sebagai gerakan perlawanan ‘karbitan’ yang miskin akan wawasan politik dan pergerakan. Apalagi jika dibanding dengan Dewan Tertinggi Revolusi Islam Irak milik keluarga Al-Hakim. Namun, prestasi Moqtada dengan Jaisy Al-Mahdinya kian hari kian melejit, sebagai sebuah gerakan perlawanan yang matang dan berkomitmen jelas untuk mengusir penjajah Amerika. Berbeda misalnya dengan kinerja Dewan Tertinggi Revolusi Islam Irak yang semakin hari semakin merepresentasikan dirinya sebagai pemerintah Syiah yang bisa ‘tawar-menawar’ bahkan dikesankan bersahabat dengan penjajah Amerika.
    Moqtada-lah yang berhasil menghapus opini menyesatkan ciptaan Amerika dan para anteknya, yang menyatakan bahwa pemerintah sunni di Libanon, berhadapan dengan perlawanan Syi’ah yang teroris (dalam hal ini Hizbullah berhasil menunjukkan kesesatan opini tersebut), sedangkan pemerintah Syi’ah di Irak, adalah sahabat Amerika, yang berhadapan dengan gerakan perlawanan Sunni.
    Tidak sedikit kalangan masyarakat Arab-Sunni yang menuduh pemerintah Syi’ah di Irak telah berkoalisi dengan Amerika untuk bersama-sama melakukan pembersihan etnis Sunni di sejumlah kota di Irak. Lebih lucu lagi, mereka beranggapan bahwa upaya pemerintah Irak yang Syi’ah itu, juga direstui bahkan didanai besar-besaran oleh Iran. Inilah pula yang menjadi alasan kedatangan Syekh Al-Qardhawi ke Indonesia tahun lalu. Konon Al-Qardhawi datang dalam rangka ‘bertawassul’ kepada SBY sebagai presiden RI, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, agar pihaknya memberi masukan kepada Iran, untuk menghentikan dukungannya kepada pemerintah Syi’ah Irak yang sedang menghabisi kaum Sunni Irak.
    Memang, opini menyesatkan ini juga nyaris tumbang. Dari sini dapat disimpulkan, betapa besar jasa Moqtada dengan Jaisy Al-Mahdinya dalam melawan opini buatan Amerika itu. Maka, pilihan satu-satunya yang tepat untuk mengusir penjajah Amerika, adalah ‘moqawama’ (perlawanan), seperti yang saat ini tengah dimainkan oleh Jaisy Al-Mahdi.
    Sebuah artikel yang dimuat di situs milik Hizbullah, wa3ad.org, mengisahkan bahwa Almarhum Emad Mughniya, tidak menyukai kinerja pemerintah Irak. Selain mengkritik kinerja Al-Hakim, Mughniya juga menunjukkan antipatinya terhadap Nuri Al-Maliki. Komandan militer Hizbullah yang syahid itu—masih menurut artikel tadi—juga memiliki andil besar dalam mematangkan Hizbud-Da’wah sekaligus mendesain gerakan perlawanan Syi’ah di Irak. Pentagon pun mengakui bahwa model perlawanan para gerilyawan Syi’ah di Irak kini sudah mulai mirip dengan teknik perlawanan Hizbullah di Libanon, antara lain dengan dengan ditemukannya bunker-bunker bawah tanah. Akhir-akhir ini juga terdengar kabar bahwa Hizbullah tengah gencar-gencarnya mengoptimalkan perjuangan Jaisy Al-Mahdi.
    Menurut al-faqir, kehadiran Moqtada dengan Jaisy Al-Mahdi-nya, adalah di antara wujud rahmat Allah sekaligus ‘keberkahan’ atas kesyahidan pejuang besar, Sayyid Muhammad Baqir Shadr. Maka tak heran, jika Moqtada Shadr, lebih bersimpati kepada Ayatollah Kazhim Al-Haeri Al-Yazdi (ra), ketimbang Ayatollah Al-Marji’ Sayyid Sistani (ra), karena ciri khas Marj’aiyyah Al-Haeri, adalah adanya unsur “Ar-Rusyd Al-Haraki” (kematangan [dalam] pergerakan), salah satu komponen Al-Marja’iyyah Ar-Rasyidah, sebuah teori yang dicetuskan oleh gurunya, Sayyid Muhammad Baqir Shadr. Inilah salah satu karya besar Madrasah Najaf. Wassalam.

  3. Dear …

    Jelas bahwa media ikut bermain. Apapun yang bisa digunakan untuk memecah kaum muslimin akan di mobilisasi se-optimal mungkin. Berbagai fakta diputar sedemikian sehingga sulit lagi dikenali apa dan bagaimana sebenarnya yang terjadi.

    Pertama,
    Tidak mungkin aman dan leluasa bagi moqtada berada di wilayah (regional) yang di pimpin oleh Sayyid Ali Sistani, jika restu dan komunikasi intens tidak Ia dapatkan. Ini telah berlangsung lama.

    Kedua,
    Perang ini sudah berlangsung lebih 5 Tahun. Tanpa membahas lebih jauh pihak2 yang terlibat, sekali lagi … perang ini berada di wilayah UTAMA bangunan maraji Sayyid Sistani, dan masih “terkendali” untuk sepenuhnya menyulitkan pihak AS.

    Ketiga,
    Dalam batas2 tertentu Kekacauan besar seharusnya sudah terjadi sejak perang bergeser tema menjadi sektarian, bila seluruh kaum muslimin tidak terkomando dengan benar.

    Keempat,
    Kita tidak pernah berfikir bahwa seorang Ayyatullah Uzma memiliki sedemikian besar dana, jalur komunikasi yang “terawat” baik, “kehalusan” pusat komando gerakan, One Stop Satelite Channel yang terhubung langsung kepada Iran sedemikian seperti saat ini.

    Kelima,
    Bila keamanan di Irak “jatuh”, pihak pertama yang akan ter-ganggu adalah Iran. Sampai saat ini, Iran “bisa” berkonsentrasi dengan relatif baik menghadapi gangguan sanksi AS. Artinya Iran cukup percaya, “The Old Man” lead their teritory as well.

  4. Apa yang terjadi di Irak, adalah pelajaran buat kita semua. Sudah saatnya seluruh Muslimin Syi’ah yang belum solid seperti Syi’ah Iran dan Syi’ah Hizbullah, untuk lebih mengoptimalkan lagi persatuan di antara mereka, di samping juga memperkaya wawasan politik dan meningkatkan kesadaran beragama. Jangan ada yang pernah merasa kelompoknya lebih baik, lebih benar, lebih berprestasi, dan lain sebagainya.
    Mereka perlu membuka diri terhadap kelompok Islam lainnya, agar tidak mudah dipecah-belah. Perpecahan yang paling sering terjadi di tubuh umat Islam, antara lain karena sebagian mereka tidak punya wawasan keislaman yang cukup, misalnya saja kesadaran politik yang merupakan sebuah keharusan dalam Islam. Karenanya, mereka tidak dapat membedakan siapa kawan menurut Islam, siapa lawan. Siapa yang harus dibela, dan siapa yang harus diperangi. Peristiwa terbunuhnya Syhahid Baqir Shadr oleh rezim Saddam misalnya, melibatkan peran beberapa orang Syi’ah yang tidak berwawasan…
    Bukan hal mengherankan jika perpecahan terjadi di kalangan Ahlus-Sunnah, sebab mereka tidak memiliki pemimpin. Lihat saja di Indonesia, Afghanistan, Mesir, dan negara-negara Muslim lainnya. Amerika dapat dengan mudah memecah belah umat Islam Sunni. yang mengherankan, justru perpecahan di tubuh Syi’ah. Padahal mereka punya konsep Marja’iyyah, contohnya di Irak.
    Mengapa demikian? menurut saya, bukan karena mereka tidak mengakui konsep Wilayat Faqih seperti di Iran, tetapi SETIDAKNYA karena mereka tidak memiliki apa yang dahulu disebut-sebut oleh Syahid Baqir Shadr sebagai Marja’iyyah Rasyidah, artinya Marja’iyyah yang memiliki wawasan dan kesadaran politik (ar-rusyd as-siyasi), sosial (ar-rusyd al-ijtima’i), dan pergerakan (ar-rusyd al-haraki). Di situlah letak penyebabnya menurut saya. Lihat misalnya, Abdul Majid Al-Khu’i yang datang ke Irak bersamaan dengan datangnya pasukan Inggris, setelah sekian lama berada di London, yang akhirnya tewas di tangan para gerilyawan muda Irak tahun 2003 silam. Lihat pula, Abdul Aziz Al-Hakim, yang datang bertandang ke Gedung Putih tahun 2006 lalu, pada saat agresi Israel ke Libanon berada pada puncaknya.
    Ini semua adalah rekayasa Amerika, Zionis dan antek-anteknya. Mereka ingin mengesankan bahwa sebenarnya Amerika tidak memusuhi Syi’ah, kecuali ‘kelompok teroris’ seperti Hizbullah dan ‘negara teroris’ seperti Iran. Begitu pula kelompok Sunni, ada yang menurut mereka sahabat seperti kelompok Fatah, dan ada yang merupakan musuh, yaitu Hamas. Syah Iran adalah seorang Syi’ah, tetapi karena tidak mengganggu kepentingan Amerika, dia adalah sahabat Amerika dan TIDAK KAFIR. Tetapi, Imam Khomeini, adalah musuh Amerika. Setan Besar itu bahkan menciptakan opini bahwa beliau adalah NAJIS, KAFIR, SESAT…. Opini ini tidak hanya diyakini oleh umumnya Ahlussunnah, tetapi oleh kalangan Syi’ah juga. Bahkan ada orang-orang yang berpredikat ulama, menganggap Imam Khomeini sesat. Sungguh kenyataan ini sangat memprihatinkan. Amerika dengan leluasanya dapat memvonis siapa sahabat, siapa teroris.
    Nah, yang menjadi korban adalah orang-orang awam dari kalangan umat Islam, baik Sunnah maupun Syi’ah. Karena itu, sudah saatnya Syi’ah maupun Sunnah memiliki kesadaran beragama, berpolitik, secara total. Karena, bagaimana pun, umat Islam adalah umat yang satu, yang memecah belah mereka adalah politik. siyâsatuna din, wa dînuna siyâyah, nahnu ummatun wahidah, farraqatna as-siyâsah wa lam yufarriqna ad-dîn.
    Semoga Hizbullah di Libanon, gerilyawan Syi’ah pimpinan Moqtada Shadr di Irak, dan Republik Islam Iran di bawah pimpinan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, diberi kekuatan, ketahanan, untuk kemudian menjadi pemenang dalam peperangan opini dan kesadaran (battle of awareness) yang dilancarkan musuh, semoga mereka dapat berhasil mejungkir-balikkan opini-opini musuh yang menyesatkan, sehingga tidak lagi membuat masyarakat Muslim awam tersesat dan kebingungan.

  5. Biasa dalam perjuangan terjadi perbedaan pola pergerakan dan perjuangan…..

    Menurut saya itu bagus karena merupakan strategi hit and run yang telah menjadi strategi perjuangan Syiah Irak khususnya para TOKOH Syiah nya disana.

    Tidak ada perbedaan …… dan kamuflase dalam strategi perang politis diperlukan….

    Lihatlah di Indonesia ketika Jaman Perjuangan 45….Strategi tersebut di mainkan para tokoh2……

    Perang adalah PERMAINAN OTAK dan SIKAP…..

  6. Perjuangan-perjuangan harakah dalam konteks Islam (Sunni / Syiah) selama ini relatif terkotak-kotak pada unsur primordialis. Kalaupun ada yang sifatnya universal semisal HTI (Sunni) tapi kadang-kadang gampang sekali melakukan vonis penyesatan kepada harokah lain yang tidak sepaham. Semestinnya semua harokah harus berpatokan bahwa setiap harokah yang mendasarkan aqidahnya bahwa “Gusti Allah itu Satu” dan “Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah khotamun Nabiyyin” adalah muslim walaupun itu dinamakan Sunni, Syi’ah, Jabbariyah, Ja’fariyah, Arifiyah, ataupun iyah-iyah yang lain. Saya sendiri yang menurut pandangan orang-orang memiliki aliran Sunni Almaturidi, berfekih pada madzhab Syafi’i dan bertarekat pada gerakan Naqsyabandy tetap menganggap saudara-saudara saya dari Syi’ah di Iran/Irak/Libanon maupun Sunni versinya kanjeng syech Al-qardhawi sebagai pejuang-pejuang Islam dan mesti harus segera bersatu. Membuang sikap saling mengkafirkan (karena yang kafir jelas yang tidak mengakui “Gusti Allah itu satu” dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasulnya Gusti Allah” seperti Amerika dan para sekutunya) dan kalau bisa membuat sebuah keputusan cerdas agar memiliki satu Imam yang dapat mempersatukan semua harokah tersebut. Wallahu’a’lam….

News Feed