Antara Syiah dan Wahabi

Pada puncaknya dua haluan teologi, rasionalisme Syiah dan tekstualisme Wahabi akan berhadap-hadapan. Wahabisme mencetak militansi dan kepatuhan para jelatanya dengan doktrin penolakan fungsi akal. Syiisme mencetak komitmen dengan menyebarkan kesadaran.
 
Fakta mengkonfirmasi bahwa wahabisme lebih cepat dan sukses daripada Syiah dalam mempengaruhi masyarakat.
 
  1. Sumber penafsiran teks al-Quran yang dipilihnya tidak berbeda, meski wahabi menggunakan metode yang lebih leterlek, terutama dalam ayat-ayat mutasyabihat.
  2. Sumber rujukan teks hadis yang digunakan sama, meski wahabi menafsirkannya secara skriptual dan menerapkannya secara kaku tanpa memperhatikan konteks mudah mengaburkan garis perbedaan antara Ahlussunnah asli dan wahabisme.
  3. Klaim kaum wahabi sebagai Ahlussunnah, bahkan Ahlussunnah sejati yang bebas khurafat, bid’ah dan syirik telah membuat banyak awam menerimanya sebagai mazhab sunni.
  4. Jargon salafi alias klaim pengikut dan pemelihara ajaran terdahulu, dengan menyisipkan pandangan kultus melampaui pandangan Ahlussunnah terhadap para sahabat, seperti pemujaan terhadap Yazid, dijadikan sebagai alat mengelabui banyak awam. Padahal Salafi asli adalah umat Islam yang terhimpun dalam NU.
  5. Mekah dan Madinah, sebagai simbol Islam, yang kini dikuasai oleh klan Saud yang berakidah Wahabi, mudah menyilaukan pandangan awam dan mematikan antena nalar banyak orang.
  6. Ajaran-ajaran gerombolan anti logika ini mudah menarik kalangan saintis Muslim yang sejak semula menganggap agama berbeda dengan sains yang berdiri diatas logika empiris. Padahal logika agama yang non empiris tidaklah sama dengan logika sains yang empiris.
 
Masih banyak alasan yang bisa dicantumkan dalam list diatas, termasuk alasan-alasan politik dan lainnya. Fenomena globalisme teroris yang hendak menguasai negara-negara Islam dan dunia dengan utopia khilafah adalah ejawantah dari teologi horor ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed