APA DALILNYA?

Seseorang peserta usai kajian singkat Logika Agama menjabat tangan saya dan dengan nada sedih berkata lirih seolah berbisik, “andaikan tidak bermazhab Syiah dan tidak dikenal sebagai tokoh aliran yang disesatkan, saya yakin pandangan-pandangan logis Pak Ustadz diterima oleh banyak orang dan tersebar luas. Mestinya banyak orang di negeri ini tercerahkan dan mengubah mindset irrasionalnya dalam beragama.”

Ini bukan ungkapan mengharukan pertama kali yang disampaikan kepada saya. Karena itu, saya tak memberikan reaksi selain hanya meringis. Hati saya menjawab, “justru karena bermazhab Syiah, pandangan-pandangan rasional ini terbentuk.”

Penyesatan terhadap sebuah pandangan kuat yang bisa mengancam periuk para pelaku pembodohan dan pembunuhan karakter terhadap pemikirnya adalah modus membatasi area penyebarannya. Dengan stigma sesat dan kafir, maka panggung klarifikasi dirampas, hak jawab disita, dan ajakan dialog tak digubris. Singkatnya, secara ekonomi amplop umat, aliran ini berbahaya.

Sejak hari pertama beraktivitas di bidang intelektualitas hingga kini selama 30 tahun saya berhak mengaku sebagai orang yang sangat hemat membahas mazhab yang saya anut dan cukup pelit mendermakan teks-teks agama sebagai perisai kebesaran dan sarana gertak.

Sebagai orang yang tumbuh sejak kanak dalam lingkungan pendidikan agama alias pesantren mestinya mengutip teks berbahasa Arab bukanlah sesuatu yang sulit dan bisa dilakukan secara spontan demi memenuhi selera pasar. Tapi meski tak laku, metode ini sengaja dipilih demi mengubah struktur penalaran invalid sebagai produk sistem anti kritik yang ditanamkan para tiran dalam tengkorak umat sepanjang sejarah.

Bagi umat yang telah terbiasa dimanjakan dengan doktrin, pernyataan aksiomatis tetaplah tak bisa diterima karena tak disertai dengan teks yang kerap disebut secara serampangan “dalil” seolah hanya itulah dalil. Padahal teks-teks bisa dipastikan sebagai dalil valid bila lebih dulu disandarkan pada aksioma logis. Akibat mindset yang tertanam secara temurun tersebur, banyak orang, bahkan sebagian yang mengaku sebagai penganut mazhab rasional ini, meremehkan presentasi atau tulisan yang tak ditaburi teks-teks ayat dan ayat.

Dali adalah kata bahasa Arab yang arti primernya adalah penunjuk atau penanda atau pemberi arah. Makna sekundernya adalah pernyataan yang berfungsi sebagai penguat dan sandaran bagi pernyataan yang tak bisa tegak secara mandiri alias tak valid secara niscaya. Teks-teks bisa menjadi pernyataan yang tak memerlukan sandaran bila dipahami dan ditemukan koherensi subjek dengan predikat yang terkandung di dalamnya. Bila tidak, teks-teks harus disandarkan pada pernyataan aksiomatis yang memvalidkannya.

Bersambung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed