ASYURA DAN MANIPULASI SEJARAH

Di sekitar rumah kita speaker masjid dan majelis taklim juga acara walimah kerap memperdengarkan pujian-pujian yang menyebut nama Al-Husain seperti “Ya Jaddal Husain” juga Al-Hasan dan sebagian dengan sebutan “Wabnahuma” dalam untaian shalawat “Shalallah ala Thaha” juga Li khomsatun dan seterusnya.

Meski akrab dengan telinga kita, nama2 itu tak dikenali karena alasan-alasan sebagai berikut; Pertama, sebagian pujian-pujian berirama itu berbahasa Arab, apalagi kadang lafalnya tidak diucapkan secara tepat; Kedua, nama Al-Husain dan dan keluarga Nabi disebut dalam lagu dengan nada dan irama tertentu sehingga hanya muncul saat diuntaikan; Ketiga, sebagian pujian-pujian berirama itu tidak menyebut nama Al-Husain tapi menyebut “wabbahuma” (kedua putra mereka yaitu Ali dan Fatimah) atau gelar mereka seperti “kal kaukabain” (dua purnama yaitu Al-Hasan dan Al-Husain); Keempat, diambil alihnya banyak masjid oleh sekte Wahabisme dengan ragam nama samaran di pelbagai kota di Indonesia sebagai kota akibat nyata usaha intensif sentranya di Timur Tengah dalam menghapus tradisi pujian kepada Nabi dan keluarga, sebagian masyarakat modern dan yang termangsa oleh wahabisme mulai melupakannya.

Puluhan pujian bernada yang secara temurun dikumandangkan kini telah lenyap dan tak lagi diingat. Tidak sampai disitu.

Nama Ali, Hasan dan Husain sudah jarang diberikan untuk anak-anak yang lahir. Boleh jadi karena kini sebagian dari masyarakat lebih memilih nama-nama western atau “keren” meski tak bermakna. Boleh jadi pula, sebagian tak tertarik memberi anak nama-nama itu karena terpengaruh wahabisme atau takut dianggap Syiah, yang secara sosial diyakini merepotkan penyandang nama mulia itu.

Begitu tragisnya posisi Al-Husain, sampai-sampai setelah berlalu beberapa abad dari kesyahidannya, masih teraniaya. Namanya tak dikenal, apalagi ajarannya, apalagi kisah kesyahidannya, apalagi Karbala.

Yazid dan rezim-rezim biadab setelahnya telah bekerja keras memanipulasi sejarah dan mengaburkan fakta tragedi agung di Karbala dengan ragam modus bersampul teks abal-abal dan fiksi yang disebarkan secara masif.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed