Skip to main content

Minggu pagi pada sesi tanya jawab usai mempresentasikan kuliah umum logika kebertuhanan, seorang ibu menyoroti fenomena baru di kalangan orang-orang yang sebelumnya diketahui relijius meninggalkan shalat dan menanggalkan jilbab.

Memang santer opini yang mengajak umat meremehkan kebaikan ritual dan mengutamakan kebaikan sosial dengan bungkus perenialisme. Ini jelas tidak selaras dengan logika beragamaan. Boleh jadi ada skenario menghapus agama di balik propaganda itu.

Sejumlah orang modern enggan melakukan shalat wajib dan menanggalkan jilbab karena banyak pelaksana shalat dan pemakai jilbab berperilaku buruk.

Keputusan ini jelas irrasional karena alasan-alasan sebagai berikut :

  1. Kebaikan dan keburukan tidak hanya berdimensi horisontal dan humanitarian, namun juga berdimensi vertikal. Melaksanakan shalat dan memakai jilbab adalah kebaikan vertikal sebagai kepatuhan dan komitmen kepada hukum agama yang dianutnya. Menjaga perasaan orang lain dan peduli kepada sesama adalah kebaikan horisontal.
  2. Melaksanakan shalat dan mengenakan jilbab tidak niscaya membuat pelaksananya dan pemakainya menjadi baik secara horisontal kecuali bila melaksanakannya dengan kesadaran paripurna. Artinya, seseorang yang terlihat mengandalkan kebaikan horisontal dan mengabaikan kebaikan vertikal bisa kehilangan kebaikan vertikal sekaligus horisontal karena pamrih.
  3. Tidak semua yang terlihat baik dalam perilaku dalam domain interaksi sosial bisa dipastikan baik secara horisontal kecuali bila didasarkan atas ketulusan. Ketulusan dalam kebaikan horisontal hanya terbentuk bila perilaku baik itu bebas dari tendensi dan rencana meraih keuntungan sekecil apapun dalam diri pelaku, seperti rasa nyaman atau merasa telah menjadi pahlawan penyelamat, apalagi demi meraih ketenaran, kekayaan dan kekuasaan.
  4. Bila melaksanakan shalat dan memakai jilbab tidak niscaya membuat seseorang melakukan kebaikan horisontal, maka tak melaksanakan shalat dan menanggalkan jilbab juga tak niscaya membuat seseorang melakukan kebaikan horisontal. Justru pelaku shalat dan pemakai jilbab yang telah melakukan kebaikan vertikal bisa juga melakukan kebaikan horisontal dengan ketulusan vertikal.
  5. Keburukan horisontal yang dilakukan oleh pelaksana shalat dan pemakai jilbab tidak menodai dan tidak menggugurkan kebaikan vertikal yang telah dilakukannya dengan melaksanakan shalat dan memakai jilbab.
  6. Kebaikan horisontal bisa dipahami secara niscaya karena kesadaran moral adalah inheren. Kebaikan horisontal dipahami dari agama. Bila kebaikan hanyalah aspek moral, maka agama sia-sia dan wahyu menjadi percuma.
  7. Kebaikan horisontal sebagai produk kesadaran moral, terasa mudah dilakukan karena kehendak sendiri. Sedangkan kebaikan vertika terasa berat dilakukan karena bersumber dari iman (kepatuhan kepada Tuhan dan agama yang dibawa oleh Nabi dan dikawal oleh para wali), bukan kehendak diri sendiri.
  8. Pada dasarnya semua kebaikan yang secara metodis dibagi kepada vertikal atau ritual dan horisontal atau sosial adalah kebaikan vertikal bila bersumber dari kepatuhan kepada Tuhan. Tanpa motif kepatuhan kepada Tuhan, aksi yang terlihat sebagai kebaikan sosial pada nyatanya adalah trend filantropi kelas ekonomi mapan atau relaksasi ala “pursuit of happyness”.
  9. Kebaikan horisontal yang dipisahkan dari elemen iman atau relijiusitas pada dasarnya bukanlah kebaikan murni yang bersumber dari kesadaran moral (yang bermuara ke fitrah sebagai spot of Godnliess) tapi bagian dari kebutuhan manusia sebagai zoon politicon alias makhluk sosial dan dorongan usaha bertahan hidup sebagaimana lazimnya hewan.

Perbuatan baik, sekecil apapun, selama tulus, tidak sia-sia. Manusia seimbang adalah yang berperilaku baik kepada Tuhannya karena kepatuhan kepadaNya dan berperilaku baik di hadapan ciptaan dan hambaNya karena kepatuhan kepada Penciptanya.

Singkatnya, suara-suara yang mencemooh para pelaku kebaikan vertikal dan mengutamakan kebaikan sosial mengindikasikan penolakan terhadap agama alias keengganan patuh kepada selain diri sendiri. Inilah ateisme malu-malu.