“Ayat – ayat Cinta”, Sangat Biasa……..

“Ayat-ayat Cinta” mungkin bisa dianggap sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa. Hampir semua orang membincangkannya. Yang menonton membludak, tak tertinggal SBY dan JK. Tapi, ada baiknya bila kita mengimbangi opini umum tersebut dengan analisa yang kritis. Berikut posting dari seorang penonton AAC ke milis filsafat.


Menonton film Indonesia? Rasanya walaupun diberi imbalan HP Nokia terbaru saya kok memilih lebih baik menemani ponakan saya main petak-umpet.. Kenapa begitu. Film Indonesia, Sinetron Indonesia, setiap kali saya – tanpa sengaja – menontonnya, malah membuat saya seperti orang bodoh. Jalan ceritanya terlalu mudah untuk dicerna dan ditebak. Dialog-dialognya kosong dan tak ada yang memancing indera “keingintahuan”. Personil yang main juga tidak didukung dengan karakter yang tajam. Aktingnya terasa sekali dibuat – buat. Yang ditonjolkan hanya wajah-wajah cantik yang mengundang imajinasi porno para penontonnya.


Begitu juga dengan film Indonesia terbaru, Ayat-ayat Cinta (AAT). Tidak ada hal yang baru dalam alur ceritanya. Semuanya berputar-putar pada masalah primitif hawa nafsu manusia, hubungan lain jenis, yang 90 persen menjadi topik film dan sinetron Indonesia.


Kalau bukan karena istri saya yang merengek-rengek minta nonton film kacangan seperti itu, saya tak akan merepotkan diri membuang duit ke bioskop. Bujukan saya untuk membeli VCD bajakannya saja ternyata tidak mempan. “Kalau nonton di VCD kan bisa diulang-ulang dan lebih murah,” Rayu saya. Tapi bibirnya malah makin manyun, pipinya jadi merah, dan tubuh saya habis dicubitin. “Tapi ini bagus, Mas. Ceritanya Islami dan tetang poligami”, serunya. Wah, kalau alasan yang terakhir itu saya tertarik. Akhirnya sebagai suami yang sayang istri, saya pun dengan gentleman mengantarnya nonton.


Benar tuduhan saya terhadap film AAT. Jalan ceritanya membuat saya menguap berkali-kali. Topik yang disuguhkan tidak fokus. Ceritanya sendiri mengisahkan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di mana lagi kalau bukan di Universitas Al Azhar yang kesohor itu. Tapi di situ tidak dijelaskan, sang bintang, yang bernama Fahri, mengambil fak apa, jurusan apa. Pokoknya kuliah, gitu aja.


Dan selama film berlangsung, saya menunggu-nunggu setting gambar fisik bangunan Al Azhar yang sudah berumur 1000 tahun itu. Tapi sampai film habis, tak diperlihatkan sama sekali suasana kampus, suasana para pemain yang sedang kuliah menuntut ilmu dengan dosen-dosennya yang brilian. Atau sebagian bentuk bangunan Al Azharnya. Malah pemandangan tangga kampus, yang menurut saya mirip tangga masuk masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, bukan Al Azhar Kairo.


Adegan pertama, terjadi dalam sebuah kereta api. Sang bintang menjadi “hero” dengan membela seorang wanita bercadar yang hendak ditampar seorang muslim radikal karena memberi tempat duduk pada ibu-ibu Amerika. Adegan diawali degan sikap dan dialog para penumpang di kereta yang terasa mengada-ada. “Ada orang kafir lewat” begitu kira-kira mereka berkata. Padahal mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang tentunya punya rasa humanisme yang tinggi. Mesir adalah negara muslim yang moderat dan cenderung liberal. Jadi bukan hal aneh lagi kalau ada cewek asing lewat. Dan tak akan mungkin mereka mendisposisikan turis itu sebagai “kafir” secara explisit. Attitude seperti itu sangat melecehkan warga Mesir (dan muslim), karena segitu
banyak penumpang, masak tak ada yang mau memberi tempat duduk pada wanita tua, walaupun beda agama. Yang memberi tempat duduk malah seorang muslimah bercadar yang berkewarganegaraan Jerman, Aishah.


Seperti sinetron-sinetron lainnya, sang wanita yang dibela kemudian merasa simpati terhadap “pahlawannya” yang telah membelanya, apalagi wajah si pembela bonyok dihantam si penjahat. Di sini supaya lebih heroik sebenarnya si Fahri tidak perlu ditolong oleh kawan-kawannya. Dengan ilmu kanuragan ala Lamongan mustinya si Fahri bisa membela diri, gitu. Walaupun nantinya si penjahat ternyata lebih sakti, dan si Fahri kalah.


Drama babak pertama berakhir dengan kemenangan si penjahat yang berteriak “Allahu Akbar”. Di sini saya bingung. Kenapa si antagonis, extrimis muslim yang keras kepala tsb sampai akhir cerita tidak dimunculkan lagi. Ceritanya akan sedikit lebih bagus kalau orang yang mukul si Fahri tsb kemudian menyadari kekeliruannya dan kembali ke jalan yang benar.


Sang amerika yang ditolong Aishah ternyata adalah jurnalis yang sedang mengadakan penelitian mengenai Islam. Si Fahri, yang membela Aishah, ternyata kemudian dijadikan nara sumber. Dalam wawancara antara jurnalis dan Fahri nampak sekali kemiskinan dialog yang disuguhkan. Setiap pertanyaan si jurnalis selalu dijawab Fahri dengan singkat, ditambahi dengan kata, “Semuanya sudah saya tulis di buku saya”. Kalau begitu, ngapain si Jurnalis jauh-jauh datang dari amrik, mendingan baca artikel tentang Islam di internet. Cukup dua pertanyaan saja yang dimunculkan di film itu. Lalu adegan berganti. Cewek amrik itu tak pernah dimunculkan lagi sampai film habis. Mustinya
sutradara lebih jeli dengan memunculkannya di hari pernikahan Fahri.


Adegan berganti dengan acara ta’aruf antara Aishah dan Fahri. Si Fahri yang hanya anak penjual tape, ditaksir si Aishah yang anak konglomerat Jerman. Tokoh Aishah di sini sangat tidak mirip dengan wajah Jerman. Mungkin terlalu mahal untuk menyewa artis Jerman asli. Begitu juga dengan orang-orang Mesirnya, banyak yang gadungan. Disewa dari hasil pencarian di pinggir-pinggir jalan Matraman (kasar amat. Sorry). Mereka hanya turunan. Untung hidungnya masih kelihatan mancung.


Walaupun si Fahri mengaku miskin, anak penjual tape (tapi bisa punya ongkos ke Mesir). Cinta Aishah tak terpatahkan. Semua biaya akan ditanggung pihak wanita. Enak tenaaan. Itulah sinetron. Padahal di dunia nyata, sekaya apa pun seorang perempuan, pasti dia akan mencari lelaki yang lebih kaya.


Di antara kebingungan antara kawin dengan tidak kawin, si pemeran utama menemui gurunya. Di sini saya merasa sangat dilecehkan. Pertemuan murid dan guru sebuah perguruan prestisius setingkat Azhar terjadi di sebuah ruangan gelap, mirip di sudut-sudut musholla, ketika seorang ustadz mengajar Iqra muridnya, di kampung saya. Mungkin si sutradara mengira, Al Azhar itu gak beda dengan halaqah-halaqah pengajian Kebon Jeruk, bukan universitas yang ada kursi dan bangkunya, lengkap dengan papan tulisnya.


Cerita singkatnya, si lakon kemudian “merit” dengan Aishah. Bulan madu dihabiskan di sebuah “kastil”. Di tengah suasana bulan madu, ternyata banyak gadis yang patah hati dengan menikahnya Fahri dengan Aishah. Salah satunya adalah Maryam. Maryam depresi berat mengetahui Fahri kawin dengan wanita lain. Aneh. Padahal pacaran aja enggak. Kok bisa patah hati. Fahri adalah penganut Islam yang textual (walaupun tidak jenggotan). Bersalaman dengan perempuan saja tidak mau, apalagi mau berkhalwat (menyepi) dengan wanita yang bukan ibunya, kok tahu-tahu gadis-gadis bergelimpangan kehilangan gairah hidup mengetahui Fahri tidak kawin dengan mereka. Aneh bukan? Nikmati saja. Udah terlanjur beli tiket.


Namun cerita bulan madu kedua sejoli itu tiba-tiba berubah berantakan, ketika si Fahri difitnah seorang wanita miskin yang merasa ditolak cintanya. Tuduhannya sangat berat, pemerkosaan. Tanpa alif, ba, ta, (gantinya ba, bi, bu) si Fahri dijebloskan ke penjara yang dipenuhi tikus. Sejorok itukah sebuah penjara di Mesir? Perlu klarifikasi.


Dalam adegan di penjara ini, si sutradara nampak sekali memaksakan unsur “dakwahnya” yang diklaim sebagai film bernuansa islami. Ketika si pengantin baru itu memarahi Tuhan, dan mengomeli nasibnya, rekannya satu sel memberi nasehat dengan kisah Nabi Yusuf. Amat sangat tidak klop. Dalam Ushul Fiqh, mengkiyaskan sesuatu dengan hal yang berbeda itu bathil. Nabi Yusuf, yang memfitnah adalah wanita bangsawan. Sedang di kisah AAT, seorang gadis miskin yang patah hatilah yang memfitnah Fahri. Nabi Yusuf berdoa, lebih suka dipenjara daripada menuruti nafsu bejat para wanita bangsawan. Sedang Fahri tidak suka dipenjara, karena masih mencintai istrinya yang konglomerat.


Mustinya cerita AAT dibalik. Si gadis miskin itulah yang menikah dengan Fahri. Lalu Aishah datang menggodanya, dengan segala kekuasaan harta dan kecantikannya. Pasti ceritanya lebih seru. Baru cerita Nabi Yusuf terasa lebih mirip dijadikan dalil.


Seandainya sutradara punya instink yang lebih kreatif, tokoh yang menjadi rekan satu penjara dengan si Fahri adalah si muslim radikal yang muncul di adegan pertama di atas. Alasan di penjaranya karena terorisme. Sedang Fahri karena tuduhan pemerkosaan. Terus si Fahri, dengan kecerdasan emosional dan intelektualnya berhasil menyadarkan si teroris. Bukannya mencak-mencak meratapi nasib (Merengek seperti keponakan saya kehilangan baju Spiderman).Sebuah adegan klise dari sineas Indonesia. Dapat hadiah, nangis. Dapat musibah, nangis. Ditinggal ke pasar, nangis. Ditinggal suami, meraung-raung.


Kembali ke pokok persoalan. Istri si Fahri ternyata bukan tipe gadis cengeng yang menyerah begitu saja pada nasib. Dia berusaha sebisa mungkin membebaskan suaminya. Penonton film ini terasa sekali dipaksa untuk merasa bahwa perjuangan Aishah sangat berat. Tapi penggambarannya sangat hambar. Rintangan-rintangan yang dilalui istri Fahri terlalu mudah diselesaikan. Tanpa kesan yang menggigit. Tahu-tahu si Fahri bisa keluar penjara.


Ternyata saksi kunci bahwa Fahri bukan pemerkosa ada pada Maryam, yang sedang sekarat karena patah hati dan ketabrak mobil. (entah kenapa para penonton seperti tidak bosan-bosannya disuguhi adegan wanita stress ketabrak mobil). Entah dapat ide dari mana, si wanita Jerman itu tiba-tiba saja meminta Fahri mengawini Maryam. Tentu saja si Fahri tidak mau. Tapi karena melihat kondisi Maryam yang semakin koma, akhirnya beliau mau juga.


Kembali di sini saya bertanya-tanya. Setahu saya, pernikahan dalam Islam itu harus dilakukan dalam keadaan sadar oleh semua pihak. Sedangkan dalam film ini, si Maryam kondisinya koma alias tidak sadar. Kok bisa dinikahkan oleh para pemeluk islam yang taat? Atau ada mazhab baru yang membolehkannya? Kalau ada, sangat berbahaya. MUI harus bertindak. Sebab diilhami film ini, bisa saja nanti seorang lelaki menikahi wanita pujaannya yang sedang tidur. Begitu juga sebaliknya. Tak peduli wanita atau lelaki itu suka atau tidak suka.


Kita lanjutkan kisah aneh AAT. Di adegan pernikahan kedua si Fahri, penonton diuji imajinasinya. Atau sutradara ingin menyembunyikan fakta bahwa di Mesir para pemudanya juga doyan pacaran seperti di Indonesia. Karena ternyata si Maryam begitu menaruh hati pada Fahri sesuai buku hariannya. Dan si Fahri pun ternyata buaya. Dalam kealimannya ternyata dia mencintai Maryam. Dan keduanya sering ngobrol (atau pacaran?) di tepi sungai Nil. Jadi mana unsur dakwahnya? Film ini tak ubahnya cerita-cerita roman sinetron yang mengisi prime time di TV-TV kita. Hanya bungkusnya Al Azhar, sungai Nil, dan tulisan-tulisan Arab, serta wajah-wajah Indo-Arab.


Terlepas dari syah atau tidaknya pernikahan si Fahri dengan Maryam, ketiga makhluk berlainan jenis itu kemudian bisa hidup bahagia dalam satu rumah. Tentu saja rumahnya Aishah. Tapi sayang, sutradara malah memilih “mematikan” tokoh Maryam, istri kedua Fahri. Hanya saja kematiannya sengaja didramatisir, terjadi ketika Maryam sedang shalat dalam keadaan berbaring. Endingnya tetap saja meniru tokoh Cinderella dan pangeran yang hidup bahagia berdua selama-lamanya. Kehadiran Maryam dirasa mengganggu keharmonisan rumah tangga.


Film ini memang diangkat ke layar lebar dari Novel dengan judul yang sama, Ayat-Ayat Cinta. Tapi si pembuat film tidak mau sedikit berimprovisasi, merubah sedikit jalan ceritanya supaya lebih pas disuguhkan di layar lebar, yang punya durasi kurang dari 2 jam. Novel adalah cerita yang tidak bisa habis dalam sehari bisa dibaca (kecuali yang membaca tak punya kesibukan cari duit). Dan tak akan muat bila dijejalkan dalam waktu 150 menit.


Kalau film ini tak ada istimewanya dengan sinetron-sinetron lainnya, kenapa laris? Bahkan kabarnya sampai tulisan ini diketik, sudah 2 juta tiket terjual. Tentu saja karena memang kemampuan penonton kita baru sampai segitu. Terus topiknya sedikit menyinggung poligami dan benuansa islami. Tapi menurut saya tidak islami, sebab, kalau memang mau menyuguhkan kisah yang islami, ending cerita mustinya berakhir dengan ketiganya yang hidup bahagia dalam satu rumah. Kalau perlu wanita yang telah menuduh si Fahri memperkosanya juga dinikahi. Begitu juga mantan kekasihnya di kampung yang stress berat, juga dinikahi. Jadi istrinya empat. Hidup dalam satu rumah.


Hidup happily ever and after. Mungkin belum ada sutradara dan produser yang berani membikin film seperti itu. Nantilah, saya yang bikin. Tapi mau praktek dulu.

(posting yang semula berjudul “Ayat-ayat Cinta, Hati-hati Menontonnya” ini ditulis oleh emabdulah@yahoo.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

21 comments

  1. wah ustad.. ana setuju banget, film nya jelek ahsan baca novel nya..hehhe..jadi kan nyetak lagi ama ana hehhe…

  2. syukur sayukur sdh ada yg mewakili hati nurani sy dalam menanggapi film aac yg sdh pasti isinya biasa saja cuma pertanyaan sy ada fenomena apa yah sampai presiden dan wapres ikut-ikutan nonton segala? jangan-jangan hehehehehe mau menyamakan dirinya dengan tokoh pria di aac

  3. Dalam novelnya aja udah banyak keganjilan, contohnya penggambaran sosok Fahri yang super perfiksionis.
    Apalagi di Flmnya….gak mesir banget, karena ternyata dibuat di India.
    Tadinya saya penasaran dengan latar pelajar Mesir…tapi…ternyata hanya selewat dan gak detail….

    kapan ust. bikin novel Islami?

    ML: Sejak lama ingin menulis sebuah novel. Ide sudah ada, bahkan penerbitnya sdh siap, cuma waktunya yang belum tersedia. Mohon doa

  4. Hmm … malezzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZ ‘ … komentar. Afwan … maqam kita beda sama AAC.

    Buat yang suka … gihhh …

  5. Saya sendiri ngak suka film2 cinta2an kayak AAC, dan saya menonton hanya karena menemani orang tua saja. Namun menurut saya film itu cukup bermutu karena dapat memberi wacana kepada para pemuda-pemudi yang “agamis” di sekitar saya.

    Menurut mereka, pernikahan yang bagus itu kayak di film AAC itu, ketemu beberapa kali, langsung kawin. Tidak perlu ada proses “pacaran”. Yang saya maksud pacaran disini adalah berdialog dan saling mengenal untuk mengetahui pribadi dan kehidupan pasangannya. Di film itu ditunjukkan bahwa pernikahan dadakan itu mengundang bahaya. Si istri Fahri sendiri dilanda keraguan mengenai suaminya karena dia belum kenal betul suaminya. Masih mending suaminya Fahri, gimana kalo suaminya ternyata Osama Bin Laden atau ekstrimis2 Al Qaeda.

    Jadi menurutku film itu tidak jelek karena setidaknya punya pesan moril yang diambil, walaupun bukan pesan moril untuk semua orang. Film ini lebih baik daripada film yang hanya dibuat untuk tertawa atau ketakutan tanpa ada wacana yang bagus yang bisa disuguhkan pada penonton.

  6. Ternyata memang tak sebagus novelnya walaupun menurut saya kesempurnaan sang tokoh merupakan khayalan tingkat tinggi. Menurut saya juga biasa saja. setuju dengan tulisan di atas, bahwa film AAC bukan termasuk kategori film Islami tapi roman yang kebetulan para tokohnya beragama Islam.
    Ada sebuah kisah nyata yang mungkin bisa dijadikan ide bagi siapa sj yang merindukan cerita/kisah yang benar2 Islami yaitu kisah sepasang suami (syi’ah) istri (suni). Setiap bulan Muharam, suaminya selalu menangis dan berduka sedemikian rupa hingga menimbulkan kejengkelan dan keheranan sang istri. kemudian suaminya mnceritakan mengapa dirinya sedemikian berduka. Sang istri sangat sedih mendengar cerita sang suami lalu mendesak suaminya agar mengajaknya ke makam Imam Husein AS. Tp krn 1 dan lain hal, suaminya belum bisa memenuhi permintaan istrinya hingga sang istri menderita sakit hingga meninggal karena memendam kerinduan yang teramat dalam kepada Imam Husein.
    Seandainya ada yang mampu dan mau membuat novel dengan ide tersebut.
    Semoga….

  7. ambil baiknya saja. terlalu banyak mengomentari juga gak baik. lebih baik buat film atau novel yang selevel dengan AAC.

  8. Salam,
    kalau mengharapkan AAC, baik novel atau film-nya, bisa memenuhi ekspektasi yang sudah lama melintang di dunia ilmu ke-islaman maka siap-siap aja kecewa.
    Tapi, film ini lebih bagus DIBANDING film-film Indonesia yang lain yang menjual Setan Genderuwo dan Cinta Monyet ABG dan film-2 Hollywood yang kebanyakan hanya mengumbar spesial effect minus cerita yang matang.
    Untuk konsumsi publik yang jarang diberikan tontonan “Islami” seperti itu, maka film ini ibarat air pemuas dahaga di padang pasir, walaupun mungkin air itu masih belum sejernih Aqua, tapi setidaknya ia bisa menghilangkan dahaga-nya.
    Satu hal yang bisa kita pelajari di sini adalah, bahwa ternyata Publik haus mencari nilai-nilai religi. Tinggal bagaimana kemasannya. Itu aja.
    Jadi, kalau membahas alur film itu dengan ushl fiqh ya sah-sah aja…tapi masalahnya hal ini tidak friendly bagi masyarakat.

  9. ambil bagusnya saja ,saya tahu film ini tak sebagus novelnya namun saya salut karena pembuatnya mampu berimprovasi sehingga film ini dapat menyetuh komentar yang beragam dari penontonnya dan laku keras, walupun aye akui alur ceritanya agak membingungkan ( awal film), sedangkan ceritanya yang gak islami , memang sih film ini tidak islami banget tapi gak terlalu vulgar kan ? kayak film lain. kalo dibuat terlalu islami kok kayaknya membosankan nanti dibilang islam itu terlalu kolot lagi padahal tujuan film inikan untuk memperkenalkan islam ke dunia luar so film ini cocok deh sebagai media perkenalan agama islam dimana islam itu penuh toleransi dan jalan keluar terbaik bagi persoalan hidup di dunia
    Untuk masalah poligami kok saya tidak setuju dengan usul ustadz bila semua wanita di film itu dinikahi, why ? sebab setahu saya poligami itu itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi kehormatan wanita , kalo semua wanita itu dinikahi kok seperti perilaku jaman jahiliah dimana wanita itu tidak berharga sedangkan poligami yang dilakukan nabi seingat ku semua wanita dipoligami semua udah tua dan punya anak semua(kecuali aisah yg dinikahi demi tujuan dakwah dan penyebaran agama) , so kalo poligami pada wanita muda ato janda muda saya kira jauh dari tutunan nabi ( ingat islam itu agama yang pernuh berkah untuk semua orang baik wanita maupun pria).

  10. untung saya hanya bisa menikmati dari vcd bajakan, dipinjami pula tanpa repot mengeluarkan uang untuk nonton kebioskop.

  11. maaf kalau tanggapan saya sedikit terlambat karena saya baru saja membaca postingan ini.
    Menurut saya anda hanya tidak suka terhadap setting film indonesia secara umum, memang saya akui qualitas setting film indonesia tidak secanggih Holywood termasuk AAC ini ( tapi mudah2an tulisan anda ini jadi motivasi bagi insan perfilm-an Indonesia agar bisa memproduksi film yg lebih bermutu lagi ) , cuma saya tergelitik ketika anda tulis bahwa film ini sama sekali tidak islami
    Dari kacamata saya film ini justru menggambarkan dan mengingatkan kita akan ajaran islam yang paling tinggi nilai ibadahnya di sisi Allah yaitu IKHLAS
    – Adegan pertama saya pikir sah2 ada segelintir orang yg masih extrim terhadap lain agama tidak semua begitu palagi setting hanya dlm gerbong dan digerbong itupun masih ada yang toleran
    – Kisah nabi Yusuh As. diangkat bukan untuk disamakan dengan kisah di film ini tapi untuk diambil pelajaran kesabaran dan keikhlasannya untuk tokoh utama
    – “Fahri buaya, diam2 mencintai maryam” sebuah bahasa yg me-judge keluar dari nilai dakwah, dalam ajaran islam tidak ada hukum yg melarang mencintai orang lain, justru disinilah nilai dakwahnya meskipun fahri mencintai dan seolah dapat lampu hijau dia tidak serta merta mengumbar nafsunya, di masih bertahan dengan keislamannya. Ingat definisi sabar bukan orang yang tidak pernah marah tapi mampu meredam kemarahannya
    – “dapat ide darimana aishah menyuruh fahri mengawini maryam” lho!!! berarti anda tidak menyimak film ini, komentar anda ini atas dasar apa!!!
    bukankah tim dokter bilang satu2nya jalan maryam harus dapat kebahagiaannya, Aisyah merunut bayi dikandungannya yg butuh bapak dan yg bisa nyelametin fahri hanya maryam dan ini situasi emergency jadi tidak ada alasan buat orang normal mengikuti cara ini.

    ML: Terimakasih atas tanggapannya. Yang perlu diklarifikasi, saya hanya memuat artikel seorang penonton. Saya sendiri tidak punya pendapat. Gitu….

  12. gud…gud…nie film udah bikin gw telat ngerjain tugas!
    ko bisa y?gw mau buka file e-text-book malah liat ini..
    yah, tp lumayanlah…bs ikut2an ngomentarin..
    mank sih, klo ditilik2 dari novelnya, susaaaah nyari org kek fahri yg super perfect.
    ada yg nyamain 50%nya aja udah keren bgt…
    tp mank tu film jahat bgt menodai karakter fahri yg keren itu…
    tega2nya ngebuat fahri kek anak kecil gitu!
    n’ aisyahnya…haduh2…terlalu banyak kekurangan!mpe gemes nontonnya!
    lain kali cari artis yg islam yah?
    biar lebih match
    bisa2nya aisyah buka jilbabnya dirumah, padahl ada tamu?
    klo tamunya nengok ke atas tangga gimana hayo?
    terlihatlah auratmu! dasarr…
    yah…tp g ada yg perfect didunia ini…ku afwanin aj deh…hehehe…
    lain kali buat yg lebih baik lg y!

  13. hihihihi, lucu bener ni uneg2 pria ini di milis filsafat,
    ironis emang pemimpin kita, giliran filem AAC diurusin ampe bawa 80 orang duta nonton,
    pria-pria melankolis :-p.
    ternyata bener kata Ami’ saya, presiden kita itu presiden wong cilik, maksudnya demennya ngurusin yang cilik-cilik, hihihiihih,…..peace 🙂

  14. Huehehe…..Bang buyung Labib….Ane juga mau buat PILEM…..Dari Judulnya nga kalah seru sama AYAT-AYAT CINTA… JUDULNYA :
    ” AYAT-AYAT CINA”
    Rencana Lokasi Syuting:
    Kalo AYAT-AYAT CINTA lokasi sutingnya di Kampoeng Arab di Semarang, tapi kalo Ane punya Pilem “Ayat-Ayat Cina” rencana Lokasi syutingnya di:
    – Daerah Benteng – Tangerang
    – Daerah Jembatan Besi – Jakarta
    – Glodok – Juga di Jakarta

    HUEHEHEHEHE…..

  15. Ya… ayat-ayat cinta…
    Saya lihat film dan baca bukunya juga…
    Saya lebih suka bukunya… karena dalam buku itu syiar Islamnya nyata..

    Tapi… biar gimanapun juga… ini sudah cukup sebagai “pembuka” seniwan dan seniwati Islam untuk berkarya…

    Katanya sudah ada yang baru “kunfayakun” semoga… bukan film yang jadikan… mitos atau klenik sebagai acuannya

  16. Setidaknya film AAC membuktikan bahwa ternyata masyarakat juga menyenangi film dalam kemasan Islam. Ibarat air yang meenyejukkan di padang pasir AAC telah menjadi oase bagi jiwa-jiwa kering yang selama ini hanya diasuguhi oleh film – film takhayul, bid’ah, dan kurafat.
    Walaupun jika si mpunya postingan email tsb tidak membaca novelnya (kayaknya sih gak) maklum blio gak paham alur AAC.
    Cobalah di baca novelnya (karena memang lebih keren dibanding filmnya)maka pendapat-pendapat yang dibuat akan lebih wajar n bijaksana ….

  17. Salam ustad, ikutan nimbrung nih…

    Bravo buat Trixi, saya sependapat dengan Anda.

    Saya heran juga sama Kyai emabdulah ini. Masa org sepintar Anda over ekspektasi thd pelm AAC, kemudian rela ngeluarin duit utk nonton, udah gitu ngutruk lagi. Mohon maaf kalau saya terpaksa menyampaikan pesan dari Gan Oded yg rada sarkas: sirik tanda tak mampu!

  18. Bagaimanapun, syukran banget apresiasi ustadz pada pilem AAC. Ana belom sempat nonton ampe sekarang walo dipameri temen-temen, katanya OK.. Jadi tak usah nonton lah… Kita mungkin kurang bisa bedain ya, mana yang “Islami”, mana yang “Araby”… he he.. Yah namanya aja pilem Indons, dibungkus Mesir apa Bandung ya rasanya sama ajah… Tapi bagus juga tuh.. variasi menu n kemasan…

  19. Ayat-Ayat Cinta just another Fuck’n Sinetron from MD Entertainment

    sampe ada yang ngomong banyak yang beli tiket untuk ke -2 kali menonton film ini well not becase they like it but they just dont get it hahahag well what can u expect hanung bramantyo yang direct n MD Entertainment yang danain.

    Film ini meraih penjualan tiket terbanyak di indonesia untuk awal tahun 2008, tapi seperti kita tahu kebanyakan yang terjual laris di Indonesia ini bukan sesuatu hal yang “seperb, cool, enchanting,” tapi bisa dibilang “lame, and perhaps the guys at southpark put a term as “gay”. Well look around di industri musik kita ada radja, samson, ungu sampai kangen band” kesamaan mereka adalah they sold lots of records although the music isn’t that great, they gives the same shit but Indonesian love shit in fact we beg for more. Film indonesia pun gak beda jauh sama industri musik kita, banyak film baru tapi basiclly they all just the same shit over n over again horor n film cinta tetep merajalela.

    Munculnya Ayat-ayat cinta ini memberikan harapan, image yang beda dan nafas baru buat perfilman indonesia. Media massa pun gencar membicarakannya gimana tidak karena film ini berdasarkan novel dengan judul yang sama yang mengangkat tema Islam dalam kompilakasi semerawut dunia ini.

    Sub tema yang diangkat pun beragam dari poligami, kerukanan antar agama sampai inti islam yaitu penyerahan diri (ikhlas), namun banyak sekali hal yang tidak sinkron pada penggambaran film yang digembar-gemborkan akan memberikan pengalaman baru ini. yang paling telak adalah iklan Nu green tea when you see it youll know. I mean what was that all about kita mau nonton film not a god damn advertisement and its ok kalo tuh Teh kemasan ada dalam novel kalo gak ada berarti ini udah penghinaan buat kita yang benar2 datang to see the film tapi secara pribadi I’m not so shock about the hole thing karena di direct sama Hanung Bramantyo what can you expect he’s last movie was a downer kalo didirect sama om Nagabonar mungkin lain ceritanya.

    Pengambilan gambarpun seakan2 mainin kita sebagai orang Indonesia gimana enggak kta di coba dibohongin akan pengambilan gambar yang dilakukan di arab karena banyak menggunakan tempat tua dan bersejarah di Indonesia dari museum fatahilah dan lawan Sewu semarang, buat kita2 yang suka dan tau tempat2 seperti itu benar2 suatu hal yang bikin apresiasi akan film ini makin berkurang.
    Timing pun sangat tidak wajar digambarkan. Ada foto SBY n JK yang notabene berarti digambarkan berlangsung pada saat yang sama dengan kita sekarang. tapi diperlihatkan mesir keadaannya seperti 10 sampai 20 tahun yang lalu Hallo mesir itu negara kaya mereka sudah pake baju dari emas pas zaman nabi Musa nah Indonesia boro2 masih belom jelas dan Nomaden hidupnya. Masa ruangan penjara dimesir digambarkan segitu buruknya bila digambarkan berlangsung pada saat ini, n ruang pengadilan yang kuno abis kaya film India di TV2, well mo gimana lagi yang punya duit buat nih Film Mafia2 India itu yang notabene monopoli hampir semua lame Film i indonesia :), Seharusnya sang director konsisten sama waktu dong kalo mo gambarin mesir keadaan tahun berapa kalo mo samain sama buku atau versi nya dengan keadaan sekarang. Seperti keadaan Al Azhar masa cuma segitu aja n gambaran lingkungan hidup mesir pada saat ini yang kumuh. karena seperti logika tadi mereka itu negara yang lebih advance and kaya dari kita. Jangan sampe orang mesir nuntut kita akan penggambaran yang tidak realistis akan negara mereka.

    well enough dari segi Film nya sekarang kita bahas dari ceritanya kao kita lihat2 cermati secara dalam yang paling janggal adalah pemeran utama yang notabene mahasiswa Al-Azhar tidak bisa menyikapi dengan baik ilmu agama yang dipunyainya pada kehidupannya sendiri untung dia mendapat Aisyah Istri yang benar2 super saint, perfect yang membantu dia dalam memahami dan menerapkan Islam dalam hidupnya. tapi kalo dipikir 2 itu yang menjadi pertanayaan dimana karakter ini cenderung seperti sebuah halayan aja dimana ada seorang wanita kaya raya, cantik, mempunyai tingkat ilmu agama yang tinggi, dan muslimah yang sebaik-baiknya. Sang Arjuna Fahri pun ternyata tidak lebih unggul dalam pemahaman agamanya dengan teman se sel nya di penjara karena dia yang memberi masukan dalam menghadapi kehidupanya, padahal tidak digambarkan kalu teman se selnya ini taat agama karena saat fahri sholat dia tidak sholat dan tidak oernah diperlihatkan pernah sholat. Dan untuk seseorang yang mengerti agama dan mempelajarinya dengan baik di Al-Azhar juga menjadi idaman para wanita piawai berdebat akan agama tetapi Fahri digambarkan masih saja menyuruh istrinya dengan membentak panggil suster padahal istrinya sedang hamil tapi karena memang karakter Aisah disini ditinggikan jadi dia tidak merasa beban untuk itu tapi utnuk kita2 yang nonton menjadi pertanyaan apakah benar tindakan seperti itu dilakukan oleh seorang Fahri apa kesalahan direktor yang gak bisa ngasih pemahaman yang tepat akan karakter Fahri.

    Well selamat menikmatinya sendiri dan mengkritisi Film ini seluas harapan dan imajinasi Anda karena Film Indonesia gak adakan maju apabila tidak ada masukan yang berarti dari kita para penontonnya.
    just a thought

    mungkin biar ada perubahan mafia2 itu harus di saingi dengan any means neccesary seperti government ngasih dana buat film maker yang bisa baut film-film berkualitas dan mendidik juga mengena (walupun kita tau pemerintah kita sucks bisanya korupsi aja boro2 mau bagi2 dana hahaha) and yang terpenting Masukan dan kritisi dari kita semua.

  20. pesan moral??
    pesan berpoligami maksudnya??
    indah??
    mank poligami indah??

    memperkenalkan islam ke dunia luar??
    g lebih baik kenal islam dari sahabat2 g yg islam dari pada dari film ini…
    karena film ini sama skali GAGAL menunjukkan islam itu indah…

    hanya menambah perpecahan dan sakit hati terhadap bangsa ini….

    “Kingdom of heaven”…g bener2 menghargai islam dari film ini, so peace…

News Feed