BAIK TAPI TAK BERAGAMA?

BAIK TAPI TAK BERAGAMA?

Mungkin kita sering heran menemukan prilaku baik non Muslim yang melebihi kebaikan orang Muslim, bahkan tak beragama, bahkan lagi mengaku tak bertuhan.

Keheranan ini boleh jadi diakibatkan oleh opini dan doktrin yang menganggap bahwa kebaikan hanya bersifat keagamaan.

Ada dua macam kebaikan; yaitu kebaikan substansial dan kebaikan normatif. Kebaikan substansial adalah sesuatu yang baik karena esensinya sendiri. Kebaikan normatif adalah sesuatu yang ditetapkan sebagai baik.

[ads1]

 

Kebaikan substansial disadari setiap orang dengan akal sehat tanpa perlu dalil penguat. Ia adalah apriori bagi kebanyakan orang.

Kebaikan formal atau kebaikan ritual adalah perbuatan yang dianjurkan oleh agama dan dilakukan dengan niat mendekatkan kepada Allah. Ia juga disebut ibadah dalam pengertian fikih atau hukum syariah.

Hubungan antara kebaikan substansial atau kebaikan moral dengan kebaikan formal atau ritual tidaklah bertentangan, bahkan kebaikan ritual, bila dikaitkan dengan kepatuhan dan komitmen kepada keyakinan yang dipilih, dapat pula dianggap sebagai kebaikan substansial atau moral.

Bedanya, cakupan kebaikan moral lebih luas dari kebaikan formal alias kebaikan keagamaan.

[ads1]

 

Teeologi Asyariah beranggapan bahwa dasar penetapan setiap perbuatan sebagai baik adalah agama alias teks. Karena itu, mungkin bisa disimpulkan aliran ini hanya mengakui kebaikan bersifat keagamaan.

Mestinya kita menganggap akal sebagai dasar penentuan nilai baik dan buruk setiap perbuatan, termasuk kebaikan ritual dan keagamaan.

News Feed