Balada Mantan Negara Eksportir Minyak

 worldwide_oil_reserves.gif

Masih ingat gambar Subroto dengan dasi kupu yang pernah menjadi legenda OPEC? Itulah masa-masa kejayaan Indonesia sebagai salah satu negara kaya minyak yang kini telah menjadi album masa lalu. Saat ini, negara kita benar-benar telah menjadi pengimpor minyak akibat salah arahnya kebijakan ekonomi nasional atas sumber daya alam sejak era Soeharto, dan diperparah anti klimaks reformasi 1998.

Saat ini, harga minyak dunia terus melambung. Harga minyak mentah meroket dalam beberapa minggu terakhir dan mencatat rekor baru USD 94 per barel di New York kemarin karena masalah suplai serta geopolitik. Tidak menutup kemungkinan akan mencapai USD 100 per barel. Itu berarti 100 USD x 1 juta barrel kebutuhan kita sama dengan 100 juta USD per hari. Hitungan dalam satu bulan berarti ada 3000 juta USD yang harus dikeluarkan negara. Untuk umur negara tercinta ini berarti 52 miliar USD dibagi 3000 juta USD

Subsidi bakal semakin besar menyusul tren harga minyak dunia yang saat ini mencapai USD 100 per barel. Jika pemerintah mengatasi harga minyak dunia dengan memotong total subsidi BBM pada masyarakat, dampaknya akan langsung pada tingkat inflasi; harga sembako bakal naik. jika dilakukan, bisa terjadi social unrest alias kerusuhan sosial, seperti yang terjadi di negara tetangga kita Myanmar bulan September 2007 lalu.(keterangan: Myanmar mengimpor sekitar 20 ribu bpd; produksi minyak Myanmar hanya sekitar 6000 bpd. Tapi, negara itu kaya akan kandungan gas alam sebesar 20 tcf).

Nah, naiknya harga minyak dunia sebenarnya terendus sejak minggu pertama bulan September ini. Dari kisaran 70-an USD menjadi 80 USD per barrel pada tanggal 12-14 Septmber ini. Harga minyak diprediksi bakal naik lagi sekitar 3 bulan lagi, yakni pada bulan November dan Desember ini. Kenapa? Karena itu adalah bulan-bulan musim dingin di negara-negara maju, terutama AS dan China (2 negara ini saling beradu dalam tingginya konsumsi minyak). Biasanya, dengan adanya musim dingin (dan juga musim panas), tingkat konsumsi minyak di negara-negara itu akan naik lagi. Dengan sistem ekonomi pasar global seperti saat ini, harga minyak dunia tentunya akan makin beranjak naik lagi. Menurut analis minyak luar negeri, kondisi seperti ini bisa berakibat harga minyak dunia di kisaran 85 USD per barrel di tahun 2008.

Menurut banyak pengamat, Pemerintah telat mengantisipasi harga minyak dunia dan dampaknya. Saat harga minyak terus melambung, Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). Semestinya, pengembangan energi alternatif non-BBM telah dilakukan setidaknya sejak sepuluh tahun lalu, bukannya baru gencar dikampanyekan saat ini. alam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) asumsi harga minyak dunia ada di kisaran US$ 60 per barel. Namun kenyataannya harga minyak dunia terus meningkat. Dikatakan, melesetnya asumsi itu harusnya sudah diantisipasi pemerintah. Diharapkan pemerintah tidak gegabah dengan kembali menaikan harga BBM yang justru semakin mencekik kalangan industri.

Kenapa Harga Minyak Dunia Naik? Inti jawabanya adalah tingkat konsumsi dunia tidak lagi sepadan dengan produksi minyak dunia. Konsumsi lebih tinggi ketimbang produksi.

Situasi seperti itu diperparah dengan:

  1. Jumlah refineri di dunia tak bisa mengeluarkan sesuai dengan kebutuhan dunia. Kadang seperti bottle neck.
  2. Situasi politik Irak (negara dengan cadangan minyak sangat besar) belum stabil
  3. Situasi Nigeria (salah satu produsen) juga kadang stabil, kadang gak; pemberontakan ataupun rusuh di delta niger.
  4. Ketegangan akibat isu nuklir Iran (negara minyak yang berkapasitas terbesar nomor dua setelah Arab Saudi).
  5. Ketegangan Rusia terhadap AS; AS berencana memasang missile pencegat di bekas negara Uni Soviet di Eropa Timur.
  6. Venezuela (yang dulunya pemasok BBM terrbesar ke AS) memotong jumlah suplai BBM ke AS, yang berakibat pasar konsumen minyak AS rada panik dan harga malah naik. Venezuela malah menjalin aliansi strategis (ditambah memasok minyak dan BBM) dengan Cuba, China, Rusia, Iran dan negara-negara Amerika Selatan.
  7. Pertumbuhan ekonomi China dan India yang tinggi mengakibatkan konsumsi minyak mereka juga makin naik. Mereka makin haus minyak.
  8. China membangun SPR (Strategic Petroleum Reserves) seperti AS. SPR adalah seperti bunker yang berisi minyak mentah dan BBM ratusan ribu barrel. SPR berguna sebagai cadangan darurat. Ini tentu menambah tingkat konsumsi minyak China.
  9. Terakhir, produsen minyak strategis melakukan transaksi minyak kebanyakan dengan mata uang Euro. Seperti Venezuela, Iran, dll. Ini akibatkan juga nilai mata uang USD terpuruk di depan Euro.

Sebagai langkah jangka pendek yang mesti segera dilakukan pemerintah adalah mengubah sistem asumsi perhitungan subsidi yang selama ini mengacu pada patokan harga BBM di Singapura (Mid Oil Platts Singapore/MOPS).

Meski demikian, ada juga yang mensyukuri kenaikan harga minyak mentah. Menurut Wapres Yusuf Kalla, Indonesia sebagai produsen minyak ikut diuntungkan dengan kenaikan harga minyak. Kenaikan harga tersebut, lanjut dia, juga akan mendorong komoditas tambang dan perkebunan Indonesia turut meningkat. “Kenaikan harga minyak mentah juga memberi keuntungan bagi kita karena kita produsen minyak,” jelasnya. (diracik dari beberapa sumber).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed