BANYAK ALASAN UNTUK MEMILIH CAPRES
Banyak alasan untuk memilih capres dengan aneka kriteria dan harapan di baliknya. Tapi hanya satu alasan untuk mempertahankan dan merawat Indonesia yang majemuk, yaitu mendukung pihak yang ditolak oleh gerombolan intoleran.

BANYAK ALASAN MEMILIH CAPRES. SATU ALASAN UNTUK MERAWAT INDONESIA

Pilpres 2019 masih lama tapi temperatur politiknya kian meningkat. Media sosial nyaris hanya terisi oleh pernyataan mendukung dan menolak sosok capres tertentu. Setiap warga sosmed menjadi relawan timses dengan ragam cara pengungkapan.

Sebagian orang yang sebelumnya terkesan konservatif dan cenderung menyembunyikan sikap politiknya mulai berani menyatakan mendukung seseorang sebagai calon presiden.

Mendukung dan mengharapkan seseorang sebagai pemimpin adalah sesuatu yang positif selama caranya tidak mengganggu hak orang lain. Menolak sosok tertentu sebagai calon pemimpin juga merupakan ekspresi politik yang sah bila tak disertai dengan aksi-aksi yang tak selaras dengan etika berdemokrasi. Memihak dan mendukung figur pemimpin tak berarti bersikap irrasiional dan tak niscaya memujanya. Justru kadang tak memihak bisa berarti apatisme dan minimnya kepedulian dan patriotisme. Menyembunyikan sikap politik kadang bisa dianggap sebagai gejala pragmatisme dan hipokrisi.

 

Semoga ini menjadi ajang lomba kreativitas yang mengasah kecerdasan sekaligus penguat rasa kebangsaan.

Mengapa masyarakat seakan terbelah dalam dua kubu? Mengapa rakyat terlihat sangat antusias menunjukkan sikap politiknya antara mendukung dan menolak Jokowi atau antara mendukung Jokowi dan mendukung selain Jokowi atau antara menolak Jokowi dan menolak selain Jokowi? Banyak yang bisa dihadirkan sebagai asumsi jawaban. Tapi substansi semua jawaban hanya satu. Apa itu?

Sebagian orang mendukung seseorang sebagai pemimpin karena “siapa”, yaitu sosok manusia yang menjadi alasan utama. Ia adalah subjek personal yang menyandang aneka atribut yang menjadi identitas dan cir khas sebagai akibat dari apa yang telah dilakukannya.

Sebagian orang memilihnya karena “apa”, yaitu konsep, paradigma dan nilai yang menjadi alasan utama. “Apa” dalam logika substansi yang merupakan induk semua kategori seperti kualitas, kuantitas, tempat, waktu dan lainnya. Dalam filsafat ontologi “apa” adalah quiditas atau esensi yang menjadi bungkus konseptual bagi realitas.

“Apa” adalah kategori universal statis. Sedangkan “siapa” adalah subjek personal yang dinamis sebagai manifestasi partikularnya. Singkatnya, “siapa” adalah fenomena atau sesuatu yang terindarakan dan terasakan dan “apa” adalah nomena atau sesuatu yang menjadikan sesuatu bisa diinderakan dan dirasakan.

Mendukung “apa” berarti mengutamakan kapabilitas, integritas, nilai, visi, program, kinerja dan hal-hal yang tak tunduk kepada maraknya opini, kampanye heboh, visualisme, viralisme dan kepentingan kelompok dan pribadi.

 

“Apa” sebagai nilai dan gagasan tak pernah salah. “Siapa” bisa salah bila tak mengikuti “apa”. Calon presiden adalah “siapa” yang tak sempurna, pernah dan akan melakukan kesalahan, siapapun dia. Kita tak sedang mencari sosok malaikat. Jokowi tentu sadar punya banyak kelemahan. Capres lainnya mestinya juga demikian.

Banyak alasan untuk memilih capres dengan aneka kriteria dan harapan di baliknya. Tapi hanya satu alasan untuk mempertahankan dan merawat Indonesia yang majemuk, yaitu mendukung pihak yang ditolak oleh gerombolan intoleran.

loading...