“BASIRAH”

Mestinya bila merasa menganut mazhab ini otomatis peka dan sadar “siapa kawan” atau “siapa lawan” serta sadar prioritas. Setiap pelintas jalan kesucian memang harus merdeka dalam koridor logika dan tak harus jadi iransentris. Tapi itu tak perlu diatraksikan dengan ngomomg seenaknya dan nulis semaumya tanpa setitikpun kehati-hatian atau pertimbangan atas efek komunal.

Andaikan punya bekal data eksklusif atau info bocoran khusus pun, perintah etik untuk rendah hati dan keharusan mempertimbangkan banyak aspek tetap harus diperhatikan, apalagi hanya bermodal copas. Ini bukan ajang latihan jadi pakar penerbangan setelah kemarin main peran ahli persenjataan.

Menolak adanya rekayasa tak cukup jadi alasan untuk merasa pinter. Menduga adanya rekayasa tak cukup untuk merasa lebih ideologis. Toleransi dalam sekup yang lebih sempit justru lebih diperlukan.

Sesama miskin data tak perlu bersikeras menolak fakta penembakan yang salah sasaran juga tak perlu menyalahkan apalagi mencemooh orang yang menduga tertembaknya pesawat Ukraina adalah akibat intervensi tertentu.

Pengakuan perwira angkatan udara Garda Revolusj Iran bahwa jatuhnya pesawat itu akibat tertembak rudal adalah kejujuran langka dalam medan tempur, tapi itu, menurut sebagian orang tidak secara niscaya menutup kemungkinan dan dugaan adanya ntervensi. Pernyataan Rouhani “penembakan pesawat sipil Ukrania adalah kesalahan tak termaafkan” adalah sikap bijak yang harus diapresiasi. Tapi boleh jadi, menurut sebagian orang, itu justru membuka dugaan skenario asing di balik tragedi tersebut.

Bagi Iran jatuhnya pesawat yang memuat mayoritas warga negaranya adalah tragedi susulan yang melengkapi tragedi terbunuhnya salah satu putra terbaiknya. Tragedi ini tak layak dinikmati atau dijadikan panggung untuk saling menyalahkan. Korban perdana jatuhnya pesawat ini adalah Iran sebelum lainnya.

Silakan sibuk dengan pikiran dan merasa mantap dengan analisa sendiri dan menolak “teori konspirasi”, tapi tak perlu mencemooh analisa teman-temannya yang berbeda. Jangan terbawa oleh pengalihan isu dari perlawanan terhadap imperialisme dan kejahatan pembunuhan tokoh pembela Palestina ke isu “tragedi pesawat yang tertembak”. Kita harus mengecam pembunuhan terhadap perwira sebuah negara berdaulat juga menyesalkan trgaedi tertembaknya pesawat sipil Ukraina.

Yang pasti, jangan menyuguhkan tontonan yang menghibur para pembenci. Dalam arena “soft war” perlu “basirah”.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed