BE HIMSELF

Kita sering dengar pameo atau slogan motivasi “Be your self!” (Jadilah dirimu sendiri!) dan menganggukkan kepala sebagai ekspresi setuju juga mengucapkannya dalam diri setiap kali merasa tak berguna karena melihat orang lain yang terlihat sukses agar bangkit dan mencari potensi, keunggulan dan peluang untuk hadir sebagai diri sendiri dengan keunggulan unik yang mungkin tak dimiliki orang lain.

Tentu saja, slogan ini baik dan cukup berguna dan efektif melejitkan percaya diri, keberanian, optimisme dan kreativitas.

Tapi benarkah setiap orang punya peluang yang sama untuk menjadi sukses bila makna kesuksesan telah direduksi menjadi kesuksesan dengan standar tertentu dan kesuksesan hanya milik sekelompok orang karena dominasi? Bisakah setiap orang bangkit dan sukses hanya dengan slogan “jadilah dirimu sendiri!’ saat makna “diri” telah dibonsai menjadi personal? Tidakkah slogan itu justru membudayakan individualisme dan mengukuhkannya sebagai dasar dan paradigma perilaku yang bisa menciptakan perkelahian bebas dan persaingan brutal demi mempertankan sekerat roti atau ruang kecil untuk menghirup oksigen? Bukankah planet ini telah menjadi properti lingkaran elit para tiran? Di manakah tempat orang-orang yang bahkan tak mampu memahami haknya karena mindset dan kecenderungannya telah dikendalikan dalam matrix algoritma dan angka-angka?

Meski setiap diri adalah makhluk otonom bahkan meski ia berada dalam himpunan homo sapiens, hewan berakal, ia sendiri adalah spesies, manusia tak ditakdirkan sebagai kreator, pencipta dan Tuhan. Ia dilahirkan sebagai ciptaan paling cerdas untuk menjadi duplikator pelintas rute perfeksi dengan akal sehatnya. Karena itu, ia tak perlu menjadi dirinya sendiri dalam pengertian tanpa batas. Dia perlu meneladani Tuhan yang sempurna dengan mengenali diri impersonalnya dalam sosok diri-diri yang sukses menanggalkan diri personalnya di altar eksistensi, dalam jagad. Muhammad, Jesus, Gautama, Zoroaster, Lao Tse dan para bijakawan mengabadi bukan karena tekad menjadi diri sendiri tapi menjadi semua diri. Semua diri berarti satu diri. Itulah diri impersonal yang tak menyosok, tak meruang. Ia menjadi lebur dalam satu Diri impersonal. Dia menjadi anai-anai yang berlomba membakar diri dalam api karena ingin jadi cahaya. Ia menjadi semut yang berebut menerjunkan diri ke danau madu hanya karena ingin menjadi bagian dari madu.

Dia hanya perlu menjadi diri impersonal yang terintegrasi dengan alam yang luas ini, dalam desah dedaunan, debur ombak, semilir angin, jilatan api, gemeretak graham singa dan bagian dari orkestra alam.

Anda, saya dan siapapun tak perlu menindas diri sendiri demi mengikuti slogan retorik “Jadilah dirimu sendiri” bila yakin ada Diri tak terbatas yang menjadi lanskap diri-diri. Karena itu, tak perlu menjadi diri sendiri tapi jadilah diriNya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed