Berpikir Logis

Kalau kita eksplorasi alam, maka –paling tidak- kita akan menemukan himpunan-himpunan makhluk dengan cirinya masing-masing. Himpunan pertama kali atau mungkin yang menempati tingkat terendah adalah himpunan “benda”, yaitu setiap entitas yang berada dalam ruang dan waktu. Himpunan kedua adalah ‘raga”, yaitu setiap benda yang memiliki ukuran panjang, luas dan kedalaman. Himpunan ketiga adalah “tumbuh-tumbuhan” atau “benda hidup”, yaitu setiap raga yang berkembang. Himpunan keempat adalah setiap tumbuhan-tumbuhan atau “benda hidup bernyawa dan berkehendak.” Himpunan kelima adalah setiap setiap setiap “yang berkehendak dan berakal”. Himpunan keenam adalah setiap yang “yang berakal dan mampu menggunakan akalnya” atau “berpikir”. Himpunan ketujuh adalah setiap “yang mampu berpikir secara tepat”. Himpunan kedelapan adalah setiap “yang mampu berpikir tepat dan percaya pada realitas”. Himpunan kesembilan adalah “setiap yang percaya pada realitas immaterial”. Himpunan kesepuluh adalah ‘setiap yang percaya akan adanya Tuhan”. Himpunan kesebelas adalah setiap “yang percaya akan adanya Tuhan yang esa”. Himpunan keduabelas adalah setiap “yang percaya akan adanya agama”. Himpunan ketigabelas adalah setiap “yang percaya akan adanya agama para Nabi”. Himpunan keempatbelas adalah setiap “yang percaya akan kebenaran salah satu dari agama Nabi”.

Mantiq bukanlah ilmu tentang cara berpikir, tapi ia adalah ilmu atau kiat teknis yang dapat menghindarkan manusia dari kesalahan dalam berpikir. Mantiq bukanlah ilmu yang menawarkan kebenaran, tapi ia adalah ilmu tentang cara mendefinisikan, membagi, menghimpun, memilah-milah dan berargumentasi secara sistematik. Mantiq bukanlah ilmu agama. Ia bersifat universal dan lintas agama bahkan linats keyakinan ketuhanan, sebagaimana diuraikan secara implisit di atas. Mantiq juga bukan bidang ilmu yang rumit dan menuntut olah otak yang intens. Ia adalah induk ilmu, yang berpijak dari prinisip-prinsip rasional yang sederhana dan umum.

Pada dasarnya, setiap manusia dapat berpikir sistematik. Namun karena tidak konsentrasi atau mengutamakan emosi, maka ia terjeremus dalam kesalahan berpikir dan berkesimpulan. Kasena itulah, Mantiq bukanlah ciptaan Aristoteles ataupun filsuf lainnya. Manthiq adalah metode berpikir sistematik yang sebenarnya sudah ada dalam diri setiap manusia secara inheren namun sering kali tidak disadarinya. Kalau dikatakan, “setiap manusia makan ayam, setiap ayam makan kotoran, dan karenanya, setiap manusia makan kotoran” maka semestinya kita, tanpa perlu lebih dulu belajar Manthiq, akan meastikan bahwa “setiap manusia makan kotoran” adalah salah. Kalau dikatakan, “Setiap burung bersayap, kambing bukan burung, karenanya kambing tidak bersayap”, maka semestinya kita, tanpa perlu lebih dulu mendalami Mantiq, akan berkesimpulan bahwa “kambing tidak bersayap” adalah premis yang benar.

Lazimnya, “berpikir secara benar” melahirkan “berkomunikasi secara benar” bahkan “bersikap secara benar” dan “berpilaku secara benar”. Terjadinya konflik inter-personal dan inter-komunal baik dalam kehidupan sosial secara umum maupun dalam dalamrumahtangga, lingkungan kerja, bahkan dalam kancah politik sering kali disebabkan oleh kesalahfahaman, yang tidak lain adalah akibat dari kesalahan berkesimpulan. Kesalahan dalam berkesimpulan adalah akibat dari kesalahan dalam menata pikiran. Itu berarti, logika sangat penting bagi penganut agama apapaun dan dengan profesi apapun.

Keampuhan logika aristotelian ini juga dapat diketahui ketika para pengkritik logika juga menggunakan pola nalar logika aristotelian.

News Feed