BERSIHKAN TAKBIR DARI IMEJ NEGATIF

Akibat muak dan kesal terhadap intoleransi elemen-elemen relijius nirlogika, sebagian orang justru tanpa sadar terjebak dalam sikap ekstrem dengan mengejek atau mengidentikkan kata sakral Allahu akbar dengan ekstremisme keyakinan. Sebagian malah ikut-ikutan mencemooh kalimat mulia dan simbol-simbol kudus agama yang dianutnya karena kekesalan kepada kelompok atau individu intoleran yang menyerobotnya.

Takbir biasa dilontarkan dalam persekusi dan aksi kekerasan oleh pelaku yang merasa melakulan amar makruf juga diucapkan oleh korban yang spontan mengucapkannya sebagaimana terjadi dalam aksi kekerasan di Sampang.

Tapi kekerasan yang dibarengi dengan pengucapan takbir tak selalu bernuansa fanatisme keyakinan. Boleh jadi, pelaku mengucapkan takbir demi mengurangi rasa bersalah yang membebani nuraninya saat melakukan aksi.

Dengan kata lain, sekadar terdengar teriakan Allahu akbar dari mulut pelaku kekerasan yang terkait dengan perseturuan dua suporter tak perlu cepat-cepat dikaitkan dengan ekstremisme sektarian, meski boleh jadi bibit intoleransi berperan dalam aksi negatif tersebut.

Saya menduga aksi pengeroyokan suporter adalah gejala dekadensi moral yang dianggap sebagai ekspresi solidaritas akibat beragam faktor, bukan fenomena ekstremisme berbalut agama yang biasanya menyasar kelompok minoritas keyakinan yang dicap sesat dan kafir. Tragisnya, justru kekerasan bernuansa fanatisme keyakinan nyaris tak mendapatkan perhatian luas dan empati besar.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, aksi kekerasan bahkan genosida pernah terjadi di sini, seperti tragedi Mei dan lainnya. Tak adil bila kekerasan selalu dikaitkan dengan Timur Tengah. Kebrutalan adalah hewanisme yang bisa menjangkiti siapapun, kapanpun dan di manapun. Menentang ekstremisme dan intoleransi keyakinan dengan rasisme berarti mendukung intoleransi.

BERSIHKAN TAKBIR DARI IMEJ NEGATIF

Akibat muak dan kesal terhadap intoleransi elemen-elemen relijius nirlogika, sebagian orang justru tanpa sadar terjebak dalam sikap ekstrem dengan mengejek atau mengidentikkan kata sakral Allahu akbar dengan ekstremisme keyakinan. Sebagian malah ikut-ikutan mencemooh kalimat mulia dan simbol-simbol kudus agama yang dianutnya karena kekesalan kepada kelompok atau individu intoleran yang menyerobotnya.

Takbir biasa dilontarkan dalam persekusi dan aksi kekerasan oleh pelaku yang merasa melakulan amar makruf juga diucapkan oleh korban yang spontan mengucapkannya sebagaimana terjadi dalam aksi kekerasan di Sampang.

Tapi kekerasan yang dibarengi dengan pengucapan takbir tak selalu bernuansa fanatisme keyakinan. Boleh jadi, pelaku mengucapkan takbir demi mengurangi rasa bersalah yang membebani nuraninya saat melakukan aksi.

Dengan kata lain, sekadar terdengar teriakan Allahu akbar dari mulut pelaku kekerasan yang terkait dengan perseturuan dua suporter tak perlu cepat-cepat dikaitkan dengan ekstremisme sektarian, meski boleh jadi bibit intoleransi berperan dalam aksi negatif tersebut.

Saya menduga aksi pengeroyokan suporter adalah gejala dekadensi moral yang dianggap sebagai ekspresi solidaritas akibat beragam faktor, bukan fenomena ekstremisme berbalut agama yang biasanya menyasar kelompok minoritas keyakinan yang dicap sesat dan kafir. Tragisnya, justru kekerasan bernuansa fanatisme keyakinan nyaris tak mendapatkan perhatian luas dan empati besar.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, aksi kekerasan bahkan genosida pernah terjadi di sini, seperti tragedi Mei dan lainnya. Tak adil bila kekerasan selalu dikaitkan dengan Timur Tengah. Kebrutalan adalah hewanisme yang bisa menjangkiti siapapun, kapanpun dan di manapun. Menentang ekstremisme dan intoleransi keyakinan dengan rasisme berarti mendukung intoleransi.

Terlepas dari pandangan apapun, kekerasan dan aksi penganiayaan dengan teriakan takbir atau caci maki tetaplah buruk dan biadab.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed