BLAMING THE VICTIM

Kecewa adalah peristiwa emosional yang terjadi akibat harapan kebahagiaan yang kandas atau kebahagiaan yang memudar.

Kecewa biasanya melejitkan kebencian terhadap pihak yang dianggap sebagai penyebabnya. Kadang membuat pihak yang kecewa putus asa. Kadang pula mencuatkan tekad membalikkan keadaan. Tapi kadang kekecewaan hanyalah bungkus sebuah muslihat. Inilah modus “menimpakan kesalahan atas korban.”.

Karena merasa sudah mendapatkan apa yang diinginkannya dari seseorang dan tak lagi memerlukannya, namun tidak ingin terkesan mendepaknya karena ingin bebas tanpa beban rasa bersalah, kadang seseorang bersusah payah melakukan apa saja agar pihak lain yang tak lagi diperlukannya sebagai pengambil keputusan melepasnya.

Dengan kecerdasan retorik dan bekal kesadaran posisi tawar yang lebih kuat, salah satu pihak dalam rumah tangga atau kemitraan bisnis mengubah pihak yang dicampakkan sebagai pihak yang mengecewakannya. Blaming the victim

Modus super canggih ini sering menjadi penyebab perceraian atau putusnya hubungan pasangan lama yang dilanda kejenuhan atau memudarnya kesetiasan salah satu pihak.

Dalam peristiwa sosial ini yang terlihat sebagai korban boleh jadi adalah yang secara formal dicap sebagai penyebab, atau sebaliknya. Bila pihak penyebab sejati perancang peristiwa ini punya agresivitas dan kemampuan mempengaruhi opini sekitar, bisa dipastikan korban sejatinya makin hancur karena merasa menjadi korban kezaliman ganda.

Berlanjut….

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed