BORJUISME BAHASA DI RUANG PUBLIK

Apa peran filsafat bagi bangsa? Pertanyaan ini sulit dijawab karena beberapa alasan. Antara lain, filsafat dalam pandangan Barat yang dilucuti dari metafisika dan menjadi salah satu bidang ilmu pelayan positivisme tidaklah sama dengan filsafat sebagai Wisdom atau Sophia Perennis yang lebih luas dari sekadar metode berpikir logis, sistematis dan radikal, bahkan lebih luas dari epistemologi. Kedua, filsafat pada makna purbanya adalah berpikir dan berprilaku dengan akal sehat, bukan seni akrobat kata yang tak tak dipahami oleh manusia pada umumnya. Ketiga, filsafat di ruang kuliah tak sama dengan filsafat di ruang publik.
Seorang ahli filsafat yang kerap dipajang dalam diskusi publik gemar beratraksi kata dengan arti yang hanya dipahaminya sendiri.
Pernyataan “gila adalah hak asasi manusia” adalah deklarasi anti filsafat. Kata Foucoult, kegilaan, adalah akibat sistem sosial yang diskriminatif. Meski demikian, ia adalah keterkorbanan, bukan produk kehendak. Predikasi “hak” atas kegilaan jelaslah akrobat bahasa atau pernyataan serampangan.

Kalau pelontar pernyataan tak dipahami adalah artis hiperbola, audiens rela menyalahkan diri sendiri. Inilah penjajahan paling gress. Naom Chomsky telah mengingatkan ancaman ini. Media sosial menyediakan ruang untuk itu.

Sebagian orang menganggap seseorang sebagai pandai karena ucapannya tak teratur dan tak bisa dipahami dengan standar bahasa umum.
Mengacak struktur kata tanpa menghormati kaidah logika menyoroti fenomena sosial menjadi semacam modus mempertahankan elitisme.
Mengulas problema sosial kelas bawah yang dibodohkan dan termaginalkan dengan bahasa mewah adalah tragedi!!
Dalam pengantar Tractacus, Wittgenstein menyoroti persoalan besar kekacauan bahasa sebagai biang kerok kekacauan opini orang-orang yang dikenal ahli filsafat.
Kekacauan bahasa itu disebabkan oleh kesalahpahaman dalam penggunaan bahasa logika, yang mengakibatnya tidak adanya “tolak-ukur” yang dapat menentukan apakah suatu ungkapan filsafat itu bermakna atau kosong belaka.
Karena itu, menurut Wittgenstein, harus dibuat kerangka bahasa logika sebagai dasar dalam berfilsafat.

Artinya, disebut ahli filsafat bukan karena ngomong tanpa pakem dengan interpretasi seenaknya, tapi justru mampu menyederhanakan konten pikiran yang komplek agar berguna bagi semua orang..

Borjuisme bahasa adalah cirikhas kelas manja yang menjadikan kemelaratan kelas bawah sebagai bahan adu tangkas analisa.
Lingkungan sosial makmur dan eksklusif sulit melahirkan empati tulus selain nyinyirisme demi penegasan elitisme.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed