Skip to main content

Pikiran yang masuk ke dalam benak saat belum terisi oleh pikiran lain adalah pembentuk watak yang tak mudah hilang.

Feodalisme dan borjuisme yang mengisi slot bawah sadar akan terlihat dan terbaca jelas dari diksi serampangan, arogan dan diskriminatif. Sosialisme dan egaliterianisme juga terlihat dari diksi protes dan resistensi. Bedanya, feodalisme memenuhi hasrat dominasi. Egaliterianisme mendorong resistensi.

Karena telah terbentuk lama melalui proses adaptasi dan interaksi sosial yang intens dalam lingkungan aristokrat, watak borjuisme tak selalu tunduk keluar dari rekayasa dan perencanaan.

Ia mengemuka sewaktu-waktu di luar kendali nalar. Objeknya bisa apa saja yang dipilih secara acak berupa objek person, profesi, kota, negara, bangsa dan apapun.

Sedemikian kuatnya doktrin gaya hidup majikanisme, subjek yang ngin tampil egaliter demi tuntutan mendongkrak popularitas pun tak mampu mengendalikan pikiran-pikiran yang mengarahkannya memilih kosakata dan diksi.

Patut dikasihani. Ia tak berdaya. Meski ingin mengesankan perubahan, ia akan selalu terlihat kedodoran di panggung umum karena konflik mindset versus akting. Orang Jawa Timur menyebut orang yang tak mampu mensinkronkan pikiran dengan diksi sebagai “besosoren”.

Nama kota tertentu bukan target yang dipilih dengan sengaja. Pengujarnya pasti menyesalinya setelah terlontar. Nama kota atau suku atau profesi wartawan hanyalah cermin prekonsep yang terbentuk jauh hari sebelum tuntutan-tuntutan penyesuaian ditetapkan.

Hari-hari ini dan ke depan kita akan dihibur dengan celoteh-celoteh ngawur dan atraksi hiperbola yang menggelikan. Apa mau dikata? Inilah arena politik jargon dan retorika.