Buku KAMUS SHALAT

cvrkamusshalat.jpg

Beberapa hari lagi penerbit ARIFA akan meluncurkan KAMUS SHALAT yang menyuguhkan lebih dari 250 macam shalat. Semula buku ini akan  diterbitkan pada bulan Ramadhan, namun karena beberapa pertimbangan, baru diluncurkan pada bulan ini.

Pengantar Penulis

“Tidak ada garis pemisah antara iman dan kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” (Hadis)

Shalat secara intrinsik adalah sebuah paket wisata menuju Allah. “Shalat adalah mi’raj Mukmin,” sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Di dalamnya terdapat sejumlah aturan protokoler dan simbol-simbol audial seperti bacaan al-Fatihah dan surah, serta simbol visual, seperti rukuk dan sujud.

Meski shalat adalah kewajiban paling utama, namun yang lebih diutamakan adalah menegakkannya. Allah memerintahkan kita untuk menegakkan shalat, tidak hanya melaksanakannya. Menegakkan shalat (iqamah ash-shalah) berarti melaksanakan shalat dengan kesadaran akan dimensi eksoteris (shalat lahiriah) dan dimensi esoterisnya (shalat batiniah). Shalat yang ditegakkan dengan dimensi lahir dan batin niscaya melahirkan sebuah energi positif yang mampu menciptakan perubahan individual dan sosial. Allah menjanjikan bahwa shalat yang paripurna mampu melahirkan sebuah perubahan sosial; “Sesungguhnya shalat mencegah dari yang kotor dan keji Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat…”

Seseorang yang benar-benar memahami hakikat dan seluk beluk shalat hampir dipastikan imun dari segala bentuk kezaliman, baik individual maupun sosial. Penegak shalat tidak akan pernah menjadi asosial apalagi amoral. Namun, shalat yang hanya kosmetis (lahiriah) sangat mungkin dijadikan sebagai kedok kejahatan. Shalat lahiriah adalah sekedar shalat, bukan menegakkannya. Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang hanya memperhatikan aspek lahiriah seperti gerakan dan bacaan tertentu, namun mengabaikan makna dan hikmah rahasianya. Allah berfirman, “Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan.” Mereka melakukan shalat, tapi mereka tidak menegakkannya. Mereka melakukan gerakan-gerakannya, namun tidak memahami rahasia-rahasianya. Mereka hanya memperhatikan sajadah yang empuk atau lantai marmer yang sejuk, mereka hanya mengenakan kain warna warni yang bernuansa glamour. Merekalah orang-orang yang lupa akan shalat hakiki, karena hati dan jiwanya gersang dari kesadaran akan hakikat dan hikmahnya. Merekalah yang mencitrakan shalat sebagai seremoni belaka, seolah shalat tidak berdampak kepada perbaikan sosial bahkan bernuansa kapitalistik.

Rasulullah saw bersabda, “Ketika seorang hamba berdiri melakukan shalat, Allah memandang ke arahnya sampai dia selesai shalat. Rahmat Allah menaunginya sejak atas kepalanya hingga langit dan para malaikat mengelilinginya sampai ujung langit. Malaikat yang diutus Allah kepadanya akan berkata, ‘Wahai orang yang shalat! Andai engkau tahu siapa yang sedang memandangmu dan dengan siapa engkau sedang berbicara, niscaya engkau tidak akan meninggalkan shalat dan tidak bergeming dari tempatmu.’”

Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Shalat adalah amalan terbaik dan wasiat terakhir para nabi as. Alangkah indahnya ketika seseorang mandi atau berwudu, lalu dia rukuk dan sujud di tempat yang tidak terlihat orang lain. Ketika seorang hamba memanjangkan sujudnya, setan akan berteriak, ‘Celakalah aku! Orang ini mentaati Allah, sedangkan aku menentang-Nya. Dia bersujud, sementara aku menolak perintah-Nya untuk bersujud.’”

Islam tidak hanya menyeru pengikutnya untuk melakukan shalat saja, namun juga meminta mereka memandang shalat sebagai tugas penting dan bersungguh-sungguh menegakkannya. Islam menyuruh mereka memperhatikan waktu shalat, melakukannya di awal waktu, shalat di masjid secara berjamaah dan mengutamakannya di atas pekerjaan lain di semua tempat dan waktu. Shalat dalam Islam sangat penting sehingga bila seseorang sengaja meninggalkannya tanpa ada uzur, dia dianggap telah melakukan dosa besar dan berada di ambang kekufuran.

Kelak di neraka Saqar, para penghuninya ditanya, Apa yang menyeret kalian ke neraka? Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat. Kami tidak pernah memberi makan orang-orang miskin. Dahulu kami terlena bersama mereka dan kami dustakan adanya hari pembalasan sampai datang kepada kami saat yang pasti (kematian).” Mereka masuk neraka Saqar karena tidak melakukan shalat hakiki hingga hati mereka bagai batu dan bertindak asocial. Karenanya mereka tidak mempedulikan kaum miskin, bergaya hidup liar, melecehkan prinsip kebangkitan yang kehadirannya kelak niscaya mengadili mereka karena perbuatan buruknya. Mereka mengabaikan makna salam, melupakan rahasia al-Fatihah, mengacuhkan filosofi rukuk dan sujud dan menganggap shalat sebagai sebuah gerak badan semata.

Buku ini adalah kumpulan semua informasi tentang shalat yang ada dalam khazanah fikih dan ibadah mazhab-mazhab Islam. Tujuan utama penyusunannya adalah memudahkan pembaca Muslim untuk mengarungi samudera shalat tanpa bersusah payah mengumpulkan berbagai buku yang secara khusus mengupas satu macam shalat. Meski demikian, hasilnya tidak bisa dianggap sebagai sempurna dan final, karena tentu masih banyak ragam shalat yang belum tertampung di dalamnya, karena keterbatasan penulis dan waktu yang tidak tersedia. Karena itu, pada edisi selanjutnya, akan ada penyempurnaan baik isi maupun cara penulisan. Bila ditemukan kesalahan dan kekurangam, sudilah kiranya kami dimaafkan.

Saya harus berterimakasih kepada banyak orang yang secara langsung dan tidak langsung membantu saya dalam proyek penyusunan kamus ini, terutama Irwan, Aan, Hadi, Saggaf, Alfian, Musa Kazhim dan Ibrahim Muharam.

Jakarta, 28 Rajab

QS. al-Ankabut/29:45.

QS. al-Ma’arij/70:19-22.

QS. al-Ma’un/107:

Ibid 265.

Al-Kafi 3/264.

QS. al-Muddatstsir/74:38-47.

.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. saya meletakkan buku kamus sholat itu di meja saya kerja, dan buku itu hampir tiap hari selalu dibaca , entah sambil makan siang dimeja atau lainnya. banyak yang kasih komentar ada pujian ada kritikan. pujiannya buku tersebut bagus karena tebal, cover bagus, dan menghimpun semua sholatnya kaum muslimin dari berbagai mdzab. kritikannya tidak diterakkan waktu melakukannya sholat kapan? seperti jam berapa jam berapanya, di situ hanya diterangkan waktu globalnya saja. terimakasih. saya melihat poster buku tersebut di neon box di Gramedia POndok Indah. saya melihat cara penulis berdakwah sangat bagus, seperti penulisan Fiqih lima madzab. semoga sukses

News Feed