Cak Mufid, Maestro dengan Sepeda Onthel

cak-mufid.jpg

Beberapa tahun lalu saya mendirikan sebuah kelompok Musik relijius etnik bernama Nainawa. Para anggotanya adalah seniman-seniman idealis yang miskin secara ekonomi namun kaya idealisme. Memang sih, sudah gaek dan tampang mereka tidak layak disertakan dalam audisi, sehingga bisa dipastikan kartel permusikan yang lebih mengutamakan tampang dan dada ketimbang suara dan lirik, tidak punya waktu untuk membaca prooposal menagernya.

Kemampuan masing-masing personil Nainawa tidak bisa dipandang dengan mata juling. Paling tidak, satu orang punya kemampuan menggunakan dua perangkat musik.

Yang paling menonjol di antara semuanya adalah sosok ‘masa lalu’ Cak Mufid. Pria yang saat muda dekat dengan para musisi beken Tanah Air ini adalah maestro Nainawa.

Sebutan ‘maestro’ tidaklah berlebihan, bahkan masih tidak sepadan dengan jiwa orangnya. Bagi saya, Mufid adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijogo. Dia rela naik sepeda onthel dari desanya yang berjarak 25 kilometer lebih dari Malang untuk bergabung dengan rekan-rekannya saat mempersiapkan acara musikal.

Mufid adalah eksepsi dan menifestasi yang tersisa dari runtuhnya orisinalitas musik mistis yang telah dimutilasi oleh musik-musik genit yang didatangkan dari ranah kapitalisme.

Cak Mufid tidak mengeluhkan nasib ekonominya yang terpuruk karena pilihan idealisme-nya. Ia malah sangat menikmati tembang-tembang relijius yang dikawal oleh biolanya.

Banyak album jawa yang diproduksi secara urunan, bahkan ada yang telah dijiplak oleh musisi dan penyanyi di Indonesia. Mufid tidak mencela, malah terus memainkan biolanya mengiringi panjatan syair-syair transenden yang disarikan dari doa dan munajat jejiwa suci…

Jaman wes akir, jaman wes akir seng karen-karen…

Mufidpun melanjutkan bait munajat dan nasehat-nasehat para sunan diringi gending, seruling, sitar, dan alat-alat akustik dari rekan-rekan lainnya, Cak Atim, Firdaus, Erwin, Bambang dan para musikus Arema keré itu…

Mengenang Cak Mufid dan Nainawa membuat saya kangen pada kesahajaan dan keakraban serta kesehatian terutama saat makan lesehan dengan pecel dan slada air yang diaduk secara serampangan dengan sambel terasi dan terong! Ngiler……….

Selamat berjuang, Cak Mufid…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. Sebelum lupa dan berlaku tidak adil pada sejarah, harus saya tambahkan with great honor n pride bahwa kampiun dan pionir grup Nainawa is none other than the master of go-blog ini sendiri:-)

    Cheers with happy tears!!!

  2. Memegang teguh idealisme memang penuh tantangan dan rintangan, berbahagialah orang yang istiqamah di jalannya.
    Kapan nih ustadz masuk dapur rekaman ……..?

  3. sekiranya suatu karya bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa harus mengikuti trend “yang mengutamakan tampang dan dada ketimbang suara dan lirik” saya yakin dengan kekuatan lirik dan gesekan biola yang mengiris-iris bisa meluluhlantakan pakem pakem “tampang dan dada”.
    selamat berjuang……….

News Feed