Breaking News

Puisi

RASIO VS RASA

RASIO VS RASA   Kadang keputusan nalar menganiaya rasa. Nalar tak berperasaan. Perasaan tak bernalar. Kadang menolak keputusan rasa berarti memenjarakan diri dalam terali bayang-bayang. Nalar mengukur segala sesuatu dengan norma. Hati mengukur segala sesuatu dengan cinta. Nalar menangkap norma melalui konsepsi. Hati menangkap rasa melalui vibrasi.

Read More »

JELATA

JELATA Riuh di sana… Lirih disini, dalam lipatan memori bertajuk “andai…” Seringai di sana. Derai di sini, dalam semilir himne tentang “apa mesti dikata?”… Tegar di sana… Nanar di sini, dalam gemeretak rahang beradu menghitung pendulum waktu. Cerah di sana. Lebam di sini, dalam bilur sukma tercabik… Rancak di sana. Acak di sini, dalam buhulan rasa terkoyak belati dusta… Merdu …

Read More »

RAJAWALI

RAJAWALI Rajawali pergi, langit tanpa selaksa Rajawali pergi, kata tanpa makna Rajawali pergi, hidup tanpa nyawa Rajawali pergi, raga tanpa jiwa Sorotnya nyalakan asa Teriakannya kobarkan mawa Puisinya terjang metakata Maknanya telanjangi metafora Pedangnya runtuhkan angkara Rajawali punya cinta punya lara punya duka sebatang kara juga punya bangga Terbanglah… Rajawali Ali

Read More »

JELAGA

Menghitung mundur angka menuju sepi… Memandang daur usia menukik menuju tepi.. Melepas asa meranggas luruh dalam mimpi… Menatap hidup bagai jelaga lebur dilahap api… Dia pergi… Mereka menangisinya meratapi… Jangan manangis. Langit melakukannya untukmu. Jangan bersedih. Yang memperhatikanmu merasakannya. Jangan mendesis. Yang merasakan sedihmu mengelusmu dengan doa. Mmenghibur diri … Mencoba merawat sisa asa… Meraba mencari penawar nyeri…

Read More »

TAMAN TANPA BUNGA

jerit tanpa suara perih tanpa luka darah tanpa rona panas tanpa mawa tangis tanpa derai mata raja tanpa mahkota sabungkan nyawa di taman tanpa bunga tulip-tulip merah jiwa-jiwa rebah kalbu-kalbu pasrah sayap-sayap patah bayang-bayang berjubah menghadang panah di taman tanpa bunga putra-putri surya merajut sahara merapat di dermaga membangun tenda menyelam di telaga melepas dahaga di taman tanpa bunga musim …

Read More »

PROSA PENANTI FAJAR

Malam hening memasang tirai nirwarna menyembunyikan semua, hingga tampak sama, sepi dan bisu, kecuali cicitan makhluk malam yang mencubitnya lirih, mencubit kisi jiwa untuk memutar ulang piringan dalam layar benak. Saat itu ia terunduk galau, menahan napas dlm sesak sesal. Namun, bila gemintang berpamit, ia pun berpamit dari altar kejujuran, melenggang menuju kebisingan tipu dan kasak kusuk. Saat orkestra satwa2 …

Read More »

DESAH RESAH PENYENDIRI

Dunia adalah samudera fatamorgana yang bergelombang lirih. Kehidupannya absurd. Angkasanya dipadati hiruk pikuk tangis dan tawa tanpa jeda. Pesta usai. Kebersamaan berakhir. Buhulan cinta putus. Gelembung-gelembung kebahagiaan meletus. Penyendiri makin sirna dalam jejalah kesunyian. Bumi tak pernah sunyi. Langit tak pernah sepi. Laut tak pernah diam. Sepi pun tak pernah berhenti. Penyendiri memilih sepi yang terus bergerak. Gunung meletus. Ombak …

Read More »

“MANUSIA TAPI”

Percaya pada agama Tuhan, tapi menawar firman-Nya Mengharap keadilan, tapi menyepelekan janji-Nya Menentang kezaliman, tapi mendekap absurditas Meyakini Muhammad, tapi menelikung wekasnya Menanti fajar, tapi menolak surya berlagak rasional, tapi meliburkan logika mengaku kritis, tapi menolak aksioma siap berjuang, tapi tinggalkan arena Boros teks, tapi pelit makna Merasa optimis, tapi gamang Berlagak militan, tapi gagap konsep Mengaku relijius, tapi benci toleransi Ejakulasi dalam nalar, tapi gagap dalam wacana Narsis tanpa …

Read More »

PLEDOI ABADI

Demi Tuhan awan dan halilintar jubahku dipakai gelandangan puisiku dibaca orang-orang gila rumahku dijarah penyamun sahara tamanku dirusak kawanan srigala Siapa rajawali, siapa kurcaci? Siapa ksatria, siapa pecundang? Mana samudra, mana gelembung buih? Mana lelangit, mana lubang ular? Perih, debu di mata Nyeri, duri di rongga Sesak, batu di dada Panas, mawa di muka pangeran tak bermahkota sebatang kara Mestikah …

Read More »

SABDA MALAM

Malam adalah batin waktu. Ia adalah siang bagi penyendiri dan jejiwa yang terhempas dalam bising orkestra satwa-satwa di semak-semak rimbun. Malam adalah pasangan feminin siang. Ia telaten menyimak kesah penyendiri sembari menjalari jiwa kesepian dengan bayu menghalau asa yang meranggas. Meski kisah dan sambat peronda puisi basah itu sama, malam menutupi bilur-bilur-lebamnya dengan cahaya nirwarna, hitam tertusuk butir-butir kartika. Malam …

Read More »