loading...

Puisi

PROSA PENANTI FAJAR

Malam hening memasang tirai nirwarna menyembunyikan semua, hingga tampak sama, sepi dan bisu, kecuali cicitan makhluk malam yang mencubitnya lirih, mencubit kisi jiwa untuk memutar ulang piringan dalam layar benak. Saat itu ia terunduk galau, menahan napas dlm sesak sesal. Namun, bila gemintang berpamit, ia pun berpamit dari altar kejujuran, melenggang menuju kebisingan tipu dan kasak kusuk. Saat orkestra satwa2 …

Read More »

DESAH RESAH PENYENDIRI

Dunia adalah samudera fatamorgana yang bergelombang lirih. Kehidupannya absurd. Angkasanya dipadati hiruk pikuk tangis dan tawa tanpa jeda. Pesta usai. Kebersamaan berakhir. Buhulan cinta putus. Gelembung-gelembung kebahagiaan meletus. Penyendiri makin sirna dalam jejalah kesunyian. Bumi tak pernah sunyi. Langit tak pernah sepi. Laut tak pernah diam. Sepi pun tak pernah berhenti. Penyendiri memilih sepi yang terus bergerak. Gunung meletus. Ombak …

Read More »

“MANUSIA TAPI”

Percaya pada agama Tuhan, tapi menawar firman-Nya Mengharap keadilan, tapi menyepelekan janji-Nya Menentang kezaliman, tapi mendekap absurditas Meyakini Muhammad, tapi menelikung wekasnya Menanti fajar, tapi menolak surya berlagak rasional, tapi meliburkan logika mengaku kritis, tapi menolak aksioma siap berjuang, tapi tinggalkan arena Boros teks, tapi pelit makna Merasa optimis, tapi gamang Berlagak militan, tapi gagap konsep Mengaku relijius, tapi benci toleransi Ejakulasi dalam nalar, tapi gagap dalam wacana Narsis tanpa …

Read More »

PLEDOI ABADI

Demi Tuhan awan dan halilintar jubahku dipakai gelandangan puisiku dibaca orang-orang gila rumahku dijarah penyamun sahara tamanku dirusak kawanan srigala Siapa rajawali, siapa kurcaci? Siapa ksatria, siapa pecundang? Mana samudra, mana gelembung buih? Mana lelangit, mana lubang ular? Perih, debu di mata Nyeri, duri di rongga Sesak, batu di dada Panas, mawa di muka pangeran tak bermahkota sebatang kara Mestikah …

Read More »

SABDA MALAM

Malam adalah batin waktu. Ia adalah siang bagi penyendiri dan jejiwa yang terhempas dalam bising orkestra satwa-satwa di semak-semak rimbun. Malam adalah pasangan feminin siang. Ia telaten menyimak kesah penyendiri sembari menjalari jiwa kesepian dengan bayu menghalau asa yang meranggas. Meski kisah dan sambat peronda puisi basah itu sama, malam menutupi bilur-bilur-lebamnya dengan cahaya nirwarna, hitam tertusuk butir-butir kartika. Malam …

Read More »

PROSA MALAM

PROSA MALAM

Saat tabir angkasa akan disingkap, rasa kehilangan menyergap, ingin sunyi itu lebih lama menemaninya merenungi diri yang terhempas kala siang tiba. Semilir membisikkan sabda batin merampas kantuk. Matanya lelah. Benaknya resah. Fajar seolah musuhanyaa. Siang terlalu bising baginya. Malam adalah sabda batin yang tak henti membisikkan puisi. Tanpa kata, tanpa suara di telinga dia yang hatinya menggigil dan jiwa menggelepar. …

Read More »