HALAL YANG DIBENCI

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.” adalah sebuah hadis yang sangat populer dan sering disampaikan dalam acara walimah atau sidang perceraian di pengadilan.

Meski populer, tidak sedikit orang yang memahaminya secara tekstual dan sederhana. Teks hadis itu tidak mengharamkan perceraian atau mengutuk orang yang bercerai. Hadis tersebut berisi peringatan bahwa perceraian selalu negatif. Namun, meski negatif, dalam kasus tertentu, sesuatu yang negatif tersebut bila tidak dilakukan bisa menimbulkan efek negatif yang lebih besar. Artinya, perceraian yang negatif bisa menjadi pilihan yang logis dan menguntungkan bagi pasangan yang tak lagi menemukan solusi untuk merekatkan pasangan dalam ikatan suami istri.

Yang mungkin perlu diketahui tentang cerai adalah sebagai berikut:

Pertama, istri tidak menceraikan suami. Talak adalah hak suami. Istri bisa menuntut cerai (khulu’).

Kedua: Selain perlu disahkan oleh pengadilan agama dalam institusi negara, cerai memerlukan syarat keabsahan secara fikih. Sunni dan Syiah mempunyai pandangan yg berbeda tentang talak.

Ketiga: Cerai jadi sah secara hukum fikih bila memenuhi syarat-syaratnya. Ini tidak ada kaitannya secara langsung dengan dosa dan pahala.

Keempat : Cerai bisa berdosa, meski sah, bila alasan cerainya tidak baik.

Kelima : Bila suami melakukan perbuatan-perbuatan zalim dan istri merasa tidak tahan, istri menurut hukum fikih berhak menuntut cerai. Bila alasan-alasan menuntut cerai itu benar, istri tidak menanggung dosa.

Keenam : Memberi nafkah, menurut fikih, tetap menjadi kewajiban ayah alias mantan suami. Namun mungkin (karena saya tidak tahu persis) dalam undang undang pernikahan, penuntut cerai dibebani kewajiban menafkahi anak.

Sebagian orang terutama suami menolak menceraikan istri yang meminta diceraikan dengan mengajukan dalil berupa hadis yang berbunyi “Surga istri di bawah suami.”

Bisakah secara hukum hadis ini dijadikan dalil menolak permintaan cerai istri? Tentu tidak. Ada kalanya permintaan cerai dari istri adalah cara terakhir yang dipandang logis.

Hadis tersebut, bila sanadnya dipastikan sahih dan diterima, maka konotasinya tidak bersifat general dan absolut. Karena itu, hadis tersebut bisa ditafsirkan sebagai berikut:

Pertama: Surga istri di bawah kaki yang menjalankan fungsi “suami sejati’. Ini sama dengan “surga di bawah telapak kaki ibu”. Tentu yg dimaksud bukan setiap wanita yg punya anak layak disebut “ibu”. Sebagian wanita yg melahirkan hanya layak dianggap induk. Artinya, surga berada di bawah telapak kaki ibu sejati.

Kedua: Bila sudah tidak menjadi istri, maka surganya berada di bawah telapak kakinya sendiri.

News Feed