China Larang Bahasa Inggris

Koran, buku, dan situs internet di China dilarang untuk menggunakan kata-kata dan frase berbahasa Inggris, demikian diumumkan badan penerbitan negara itu. Larangan itu dimaksudkan untuk menjaga "kemurnian" bahasa China yang saat ini berada dalam bahaya.

 

Badan Umum untuk Pers dan Penerbitan, yang mengumumkan peraturan baru itu, Senin (21/12/2010), mengatakan, peningkatan penggunaan kata-kata dan singkatan bahasa Inggris dalam tulisan China telah menyebabkan kebingungan dan dinilai sebagai penyalahgunaan bahasa. "Praktik semacam itu sangat merusak standar dan kemurnian bahasa China serta mengganggu harmoni dan keseimbangan bahasa dan lingkungan budaya. Hal ini menyebabkan dampak sosial yang buruk," kata badan itu dalam lamannya.

 

Badan itu melanjutkan, "Dilarang untuk mencampuradukkan frase bahasa asing seperti kata-kata atau singkatan bahasa Inggris dalam publikasi berbahasa China, atau menciptakan kalimat bermakna kabur karena tidak benar-benar menggunakan bahasa China atau karena menggunakan bahasa asing." Badan tersebut menegaskan, perusahaan yang melanggar peraturan itu akan mendapat sanksi administrasi, tetapi tidak memberikan rincian jelas tentang sanksi tersebut.

 

Singkatan dalam bahasa Inggris seperti NBA (National Basketball Association), GDP (gross domestic product), CPI (consumer price index), dan WTO (World Trade Organization) biasa digunakan dalam publikasi China. Meski demikian, badan itu memberikan sedikit celah dengan mengatakan, jika diperlukan, maka istilah-istilah Inggris dapat digunakan. Namun sekarang, hal itu harus langsung diikuti terjemahan dari singkatan tersebut atau suatu penjelasan dalam bahasa China.

 

Harian China Daily, Rabu, melaporkan, nama orang atau tempat dalam bahasa Inggris juga harus diterjemahkan.

Seorang editor di sebuah lembaga penerbitan di Beijing mengatakan kepada harian itu bahwa peraturan baru tersebut sebenarnya dapat menimbulkan reduksi dalam pemahaman. "Tujuan melindungi bahasa China baik. Namun di era globalisasi, ketika beberapa singkatan seperti WTO sudah banyak diterima pembaca, maka terlalu berlebihan jika kita menghapus singkatan itu," ungkapnya. "Dalam percakapan, orang-orang juga mengucapkan kata-kata tersebut, maka peraturan itu dapat menciptakan pertentangan antara penggunaan bahasa lisan dan tulisan," tambahnya.

 

Awal tahun ini, China Central Television dan Beijing Television mengatakan kepada China Daily bahwa mereka menerima pemberitahuan dari pemerintah untuk menghindari penggunaan singkatan bahasa Inggris dalam program TV berbahasa China. (Kompas)



Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed