CORONA DAN KERUGIAN INDUSTRI ZIKIR

Aneka majelis taklim bermunculan dan bersaing merebut massa. Kadang malah derby. Tiba-tiba beberapa anak muda yang didandani bak alim sejagad tanpa prestasi nyata dalam pendidikan agama jadi tenar. Wajah-wajah “bersinar” mereka tertampang dalam poster raksasa menutupi trotoar banyak perempatan kota dengan ajakan kumpul memanggi-manggill Tuhan. Menggetarkan.

Tak ada yang buruk dengan itu. Tapi memanggil Tuhan bisa dilakukan lebih khusyuk dalam kesendirian dan kesunyian tanpa derigen, sebagaimana dianjurkan dalam al-Quran tanpa mengganggu aktivitas wajib warga yang mencari nafkah.

Yang mengharukan, umat konsumen tak kunjung sadar bahkan makin tenggelam dalam kekaguman dan menjadi ketagihan. Mereka tak tahu bahwa EO berpengalaman yang mengatur itu.

Bisnis agama selalu untung. Ketika klien kena musibah, menyanyikan anjuran sabar. kalau dapat anugerah, melantunkan ajakan syukur. Selebihnya adalah improvisasi dengan kelakar jorok, marah-marah, nyanyi kasidah, nangis, kisah keramat dan mimpi. Karena itu, pembatalan acara-acara keagamaan mengakibatkan pembatalan honor manggung yang sangat besar, terutama acara Isra’ Mi’raj.

Sejak dulu membesar-besarkan acara-acara keagamaan yang tak wajib dan kebanyakan tak memuat edukasi kecuali ritual yang bisa dilakukan di rumah tanpa arahan konduktor tokoh ternama di panggung adalah “bisnis” dengan laba yang sangat besar dan berkelanjutan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed