Curigai Jenggot dan Jubah, Langgar HAM

Ajakan pihak kepolisian di sejumlah daerah agar masyarakat lebih waspada terhadap orang-orang dengan penampilan berjenggot dan berjubah menuai kontroversi. Sebab, sikap kewaspadaan terhadap kelompok dengan penampilan yang dianggap identik dengan teroris itu melanggar hak asasi manusia (HAM).

Menurut Komisioner Komnas HAM Bidang Pendidikan dan Penyuluhan Saharudin Daming, tiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk membentuk karakter pribadinya, termasuk untuk berpenampilan berjenggot dan berjubah sebagaimana terdapat dalam agama Islam. Hak tersebut tidak dapat dibatasi apalagi dikurangi.

“Jika polisi sudah masuk ke tahap waspada, apalagi sampai curiga, maka itu sudah melanggar HAM,” kata Saharudin dalam diskusi “Waspada terhadap Orang Berjubah dan Berjanggut”, di Jakarta, Rabu (26/8).

Menurut dia, jenggot dan jubah tidak selalu identik dengan apa yang diprasangka dan menjadi stigmatisasi sebagian kalangan terhadap para pelaku terorisme. Ia menilai, dengan ajakan sikap kewaspadaan yang berlebihan tersebut, justru menunjukkan bahwa polisi tidak mengenal siapa sebenarnya kelompok-kelompok dalam jaringan terorisme.

“Jangan dengan gampang menjadikan suatu ciri sebagai stereotipe sebagai pelaku teror. Ini sama saja dengan menebar kebencian terhadap kelompok tertentu,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan kejadian beberapa waktu lalu di Cikupa, Tangerang, ketika seorang pria berjenggot dan berjubah dengan istrinya yang bercadar mendapatkan interogasi yang berlebihan dari warga karena penampilannya yang dianggap mirip teroris itu.

“Ini salah satu akibat dari sikap kewaspadaan yang tidak pada tempatnya. Jelas ini mengganggu kenyamanan seseorang dalam mengekspresikan martabat dirinya,” kata Saharudin.

Ia juga meminta agar polisi meninggalkan sikap-sikap represif dalam menangani persoalan radikalisme semacam ini. Tindakan represif dan kekerasan justru akan memperluas radikalisme itu sendiri. Menurutnya, harus ada pendekatan yang sifatnya dialogis dan humanis untuk merangkul kelompok-kelompok yang berpotensi dekat dengan teroris.

“Cobalah undang dan ajak dialog kelompok-kelompok yang berjenggot dan berjubah. Apa yang sebenarnya mereka inginkan. Harus ada koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang diskriminatif,” katanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 comments

  1. wah setuju mas…gimana jadinya setelah mendengar ini para teroris pada cukur jenggot dan lepas jubah….
    kan bisa salah sasaran tuth pra POLISI…

  2. Soalnya emang akidah orang-orang berjenggot dan bercelana ngatung ya demikian kok..!! yg gak sepaham sama mereka “halal darahnya”. Ya wajar toh di curigai, apalagi dengan track record yang tercetak selama ini memang menunjukkan bahwa kelompok dengan ciri-ciri tersebut lah yang menjadi lahan subur tumbuh dan kembangnya akidah terorisme dan hororisme.
    Bersihkan Indonesia dari paham wahabi radikal..!!

    1. bro, istighfar kalo ente muslim….rasulullah berjenggot, menghina sunah rasulullah saw sama juga menghina islam, menghina islam sama juga menghina allah…sedangkan rasulullah saw adalah orang terbaik di muka bumi ini…..kecuali loe merasa emang jauh lebih baik dari rasulullah saw…..tapi kalo ente non islam itu namanya kurang ajar, udah berani menghina rasul kami bro….gue minta alamat loe aja dmana…??? gue belon bener, tapi kalo rasulullah saw di hina…gue ga terima mas bro….

  3. dari 2 sudut pandang

    orang lain:
    wajah dan pakaian mereka tidaklah menjadi ukuran sifat atau sikap yang jauh dari pengetahuan kita, maka untuk sampai batas tsb kita tidaklah berhak melanggar batas teritorial mereka.

    diri sendiri:
    selalu berupaya menjaga diri dan keluarga dari citra yang sudah meluas, dengan rela menanggalkan sesuatu yang tidak diwajibkan.

    bukankah pandangan diatas itu logis jg begitu sederhana sehingga bisa kita lakukan
    jauh zaman sebelumnya Rasullullah SAAW, (walaupun secara tidak langsung sama) pernah menghimbau jg demikian?

  4. Ingat di tahun 80 an orang bertato panik, takut ‘dikarungi’ oleh para penembak misterius. Stigma yg berkembang saat itu, semua orang bertato adalah penjahat, sehingga massa ikut menghakimi orang2 punya tato, tidak peduli penjahat atau bukan.
    Sekarang terjadi lagi generalisasi yang sama, hanya obyeknya adalah orang2 berjenggot dan berjubah.Tidak selayaknya polisi yg seharusnya mengayomi membuat pernyataan yang bernada menghasut. Bekerja lebih profesional adalah keniscayaan yang harus ditempuh untuk reformasi polri.

  5. jangan pernah memandang/menilai orang dari fisik dan baju yg di kenakn..@gandung:naif rasanya kta menjustifikasi seseorang hnya karna celana ngatung apalgi dia berjenggot.

  6. Umat muslim negeri ini sdh memasuki zaman penuh fitnah, makin mudah diadu domba..
    dari masalah yg berjenggot sampai ke masalah klaim malaysia..
    Suatu saat setelah hati & pikiran sdh terasuki penyakit benci maka mereka tdk akan peduli lg apakah seseorang (berjenggot atau bangsa malaysia) itu melakukan salah atau tdk, yg jelas di mata mereka, org itu tetap salah krn pd dasarnya sdh penuh dgn kebencian

  7. POLISI PICIK….NGAJAK curigai orang berjenggot dan berjobah….Polisi PICIK tau kalou sampai mencurigai orang berjenggot dan ber jubah…

  8. gau usah di dramatisir lah, masak hanya karena ulah 1/2 orang berjenggot umat islam yang jadi korbannya.

    kerahkan tuh BIN tuk nangkap NORDIN M.emang TOP

News Feed