DAHSYATNYA HOAX: SEBUAH NARASI SEJARAH

Dia dipandang sebagai malaikat berambut panjang. Bak lentera berpendar, kata tuturnya memecah gulita kehidupan tribal dan nir adab sekitarnya. Siapapun, kerabat, sahabat dan masyarakat memperlakukannya sebagai teladan sempurna, tokoh pemersatu dan galeri etika serta logika. Ia menjadi asuransi keselamatan dan keamanan bagi siapapun., Rumahnya menjadi gudang aneka barang berharga yang dititipkan kepadanya. Karena itu, “Al-Amin” disematkan pada dirinya semata.

Kota di tengah savana tandus itu adalah kumpulan dari aneka blok dan perkampungan dengan penguasa khusus. Mekah adalah rimba kaktus berbau anyir perang antar suku. Perompakan, penyekapan dan duel kehormatan adalah aktivitas lumrah di sana.

Belakangan ini banyak pengusaha imprortir komoditas dari Persia, Bezantium, Ethiopia, Hindustan dan mancanegara mengeluhkan ulah para bromocorah. Barang-barang menjadi langka dan harga sembako melonjak akibat tingginya angka kejahatan dan konflik antar suku. Puncak kekacauan adalah bentrok berdarah dua koalisi klan-klan yang meletus pada bulan-bulan bebas perang. Inilah yang dikenang dengan nama Harbul Fujjar (Fijar).

Karena mengkhawatirkan jatuhnya wibawa kota Mekkah dan lumpuhnya perekonomian, tumbuhlah kesadaran tentang pentingnya menjaga keamanan dan menjunjung tinggi keadilan. Al-Amin pun turut bergabung dalam aksi menumpas kelompok-kelompok teroris dan perompak.

Seusai penumpasan tersebut, dibentuklah sebuah persekutuan para pemuka di Mekah, termasuk pemuda itu, pada abad ke-7 sebelum masa kenabian. Pakta ini diadakan untuk menjaga ketertiban dan keadilan dalam perdagangan, yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk. Pakta ini disebut Hilf al-fudul alias Persekutuan Elit Mekah.

Guna menyelesaikan masalah tersebut, sebuah pertemuan diadakan di rumah Abdullah ibn Jada’an. Dalam pertemuan tersebut, beberapa kepala suku bersepakat untuk menghormati prinsip-prinsip keadilan, dan secara kolektif ikut serta dalam menegakkan keadilan dalam berbagai konflik dan sengketa.

Demi menghormati kesepakatan, sebuah upacara diselenggarakan. Para tokoh penandatangan berkumpul di serambi Ka”bah lalu menuangkan air ke hajar aswad. Kemudian setiap tokoh diberi kesempatan untuk menenggaknya sebagai tanda kesetiaan terhadap kesepakatan dan mengangkat tangan kanan demi menunjukkan ikrar bersama menegakkan kesepakatan ini. Isi perjanjian ditulis dan ditempatkan di dalam Ka’bah.

Sedemikian pentingnya menegakkan nilai keadilan yang mendahului keyakinan agama, pemuda dengan gelar al amin ini selalu mengenang indahnya perjanjian itu, seandainya perustiwa itu terulang dan mendapatkan undangan untuk menghadiri acara itu ia pasti memenuhinya.

Karena dikenal sebagai orang yang sangat bijak dan cerdas, remaja berusia 15 tahun itu pun diundang dalam pertemuan elit Mekah dan berperan penting dalam pelaksanaan pakta Hilful Fudhul.

Pemuda itu menjadi buah bibir dan idola semua warga, laki dan perempuan, tua dan muda. Ia digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan Mekah dan pemegang otoritas Ka’bah. Singkatnya, Mekah saat itu menjadi sorga harapan bangkitnya peradaban baru di tangan seorang pemuda jenius. Seiring dengan itu, popularitasnya secara mendadak menggeser nama besar para pesohor dan konglomerat Quraisy.

Ternyata pemuda itu tak hanya memperkenalkan gaya hidup dan perilaku mulia dalam interaksi sosial semata, tapi diam-diam mulai memperkenalkan paradigma baru. Beberapa pemuda terpengaruh dan mulai aktif mengadakan pertemuan tertutup di beberapa tempat.

Pandangan-pandangan “unik”nya mulai bocor dan memancing keresahan serta kehawatiran tentang rencana terselubung kudeta senyap yang mengancam status quo. Para penguasa formal Mekah dan pemegang otoritas agama leluhur, penguasa Ka’bah pun berembuk.

Para pemuka Mekkah dan pengusaha besar berkumpul dan menyepakati rencana untuk mengantisipasi langkah-langkahnya karena makin membahayakan kedudukan serta privilege mereka sebagai pemuka dan penguasa wilayah.

Mereka menyusun dua rencana A dan B. Rencana B adalah pendekatan persuasif dengan merayu sang pemuda dan menawarkan sejumlah fasilitas serta hak istimewa sebagai pemuka Mekkah (dilibatkan dalam permusyawaratan permusyawaratan untuk mengelola kawasan) sebagai ganti dan imbalan kesediaannya menghentikan aktifitas intelektualnya menyebarkan pandangan pandangan menghentikan aktifias-aktifitas sosialnya.

Pemuda ini mengabaikan semua tawaran menggiurkan itu . Kepada pamannya, yang juga tokoh terkemuka kawasan, Abu Thalib,. “Paman, andai kuberi matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku, aku takkan menghentikan misiku menyadarkan masyarakat dari kegelapan jahiliyah dan menegakkan kebenaran serta keadilan,” tegasnya.

Karena semua pendekatan dalam rencana A tak membuahkan hasil, mereka mengadakan rapat serius guna mematangkan rencana B, menempuh langkah-langkah represif secara bertahap, Tahap awal adalah pembunuhan karakter demi menghancurkan popularitasnya melalui penyebaran fitnah, pemberian stigma gila, tuduhan pencitraan dan sebagainya.

Bila tahap awal gagal, maka dilakukanlah penyebaran isu menghina agama leluhur, merendahkan tradisi Mekah dan mengajak massa meninggalkan para tuhan arca yang disembah nenek moyang agar masyarakat mengucilkannya dan mengepungnya, bahkan mengisolasinya bersama keluarga, termasuk Abu Talib. Bila tahap kedua tetap berakhir dengan kebuntuan, maka pengusiran, pembunuhan dan pembantaian keluarga menjadi agenda tunggal.

Tahap pertama rencana B pun dilaksanakan dalam waktu beberapa bulan. Namun tak juga menyurutkan nyali pemuda itu. Dia tak hanya didukung oleh para budak dan kalangan miskin, tapi mulai menggaet sejumlah warga terkemuka dan pengusaha kelas menengah. Pemuda ini menjadi magnit dan influencer karena pola interaksinya yang egaliterian dan kekeluargaan. Dia menyatakan sikap anti sanjungan dan memperlakukan semua pengikutnya sebagai “rekan”.

Seiring dengan elektabilitasnya yang kian meluas, diapun menyudahi gerakan bawah tanah dan mendeklarasikan diri sebagai utusan Tuhan. Mekah heboh. Berita inipun menyebar menerjang dinding kota memasuki kota besar kedua, Madinah dan negeri-negeri Persia, Bezantium, Ethiopia, Mesir dan seluruh negeri Jalur Sutra. Nama Muhammad putra Abdullah pun mendunia dan menjadi topik viral dalam perbincangan para pemuka agama dalam gereja-gereja di Roma, sinagog-sinagog di Sinai, kuil-kuil di India dan vihara-vihara di Cina. Nama Jazirah Arab yang semula dianggap wilayah entah berantah, serta merta mengikuti ketenaran sebuah paradaban teologi baru, Islam.

Para pemimpin suku tempatan dan para konglomerat Mekkah kian gelisah. Pekikan “Tiada Tuhan selain Allah” menciptakan gelegar besar yang mengguncang singgasana para tiran Arab dan menumbuhkan histeria para buruh paksaan di ladang-ladang Umayyah. “Muhammad harus dimusnahkan” menjadi keputusan bersama dalam rapat di rumah Abu Sufyan.

Demi memuluskan rencana pembunuhan, diiperluaslah area sebaran provokasi masyarakat yang berisi aneka fitnah dan hoax tentang Muhammad yang sedang menyusun kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan pemuka, dan menghancurkan berhala berhala, juga rencana menyita aset aset para saudagar kaya.

Masyarakat awam termakan isu isu dusta, hoax dan fitnah. Muhammad pun menjadi musuh bersama. Maka dibentuklah pasukan khusus untuk menangkap Muhammad dan para pengikutnya dengan dakwaan menyebarkan ajaran sesat, melakukan makar dan melakkukan penghinaan terhadap ajaran nenek moyang dan tradisi lokal.

Rencana jahat ini terendus oleh pengikutnya. Satu demi satu mengendap meninggalkan kota. Mereka eksodus mencari suaka. Sejak saat itu para pengikut setia Nabi Muhammad menjadi sasaran persekusi, intimidasi, bahkan pembunuhan dan penyiksaan.

Pada malam yang sudah ditentukan, pasukan khusus melakukan penggerebekan. Karena yang ditemukan adalah Ali bin Abu Tholib (keponakannya, yang menawarkan diri mengorbankan jasadnya dengan tidur di pembaringan Nabi). Sementara Nabi bersama beberapa sahabatnya yang lain secara diam diam meninggalkan Mekkah.

Narasi di atas mnggambarkan dahsyatnya hoax dengan capaian-capaian sebagai berikut 1. Penyebaran hoax adalah modus umum dilakukan para tiran dan para bromocora yang ingin mempertahankan status quo sepanjang masa.
2. Tuhan, agama, tradisi, primodialisme, kebanggaan nenek moyang adalah sarana palinh efektif untuk pembunuhan karakter, meghancurkan nama baik dan merusak popularitas seorang tokoh terkemuka.
3. Awam adalah pangsa paling mudah dijadikan pasukan dengan disinformasi dan ujaran kebencian.

Taktik ini tidak butuh waktu lama untuk membalikkan keadaan. Muhammad yang sejak remaja dikenal sebagai teladan dan calon pemimpin yang jenius dengan popularitas tak tertandingi menjadi buron, musuh bersama dan orang paling dibenci. Dalam perburuan, teladan abadi itu pun meninggalkan kota kelahirannya menuju Madinah.

Fakta sejarah di atas menyadarkan kita bahwa laga kebenaran versus kepalsuan terus memarakkan arena kehidupan. Hoax menjungkirbalikkan nilai-nilai hingga yang acak terlihat indah dan ketulusan tergambar keculasan. Dengan hoax, pemimpin bijak jadi buron, penyeru kebenaran dicap musuh Tuhan dan bromocorah jadi junjungan massa.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed