loading...
Damai Dengan Kebhinnekaan
Ini adalah transkrip dari orasi saya yang bertemakan “Damai Dengan Kebhinnekaan” dalam Pentas Budaya Indonesia

Indonesia Damai Dengan Kebhinnekaan

Assalamu ’alaikum wr wb,

Kita sudah mendengarkan orasi dan analisis tentang pentingnya mempertahankan negara ini dalam prinsip Damai Dengan Kebhinnekaan. Kita juga sudah mendengarkan bahwa negara ini sedang diacak-acak oleh kekuatan-kekuatan, oleh elemen-elemen, oleh aktor-aktor yang mengatasnamakan agama. Yang mengatasnamakan kekuasaan untuk meraih keuntungan dengan menciptakan konflik-konflik atas nama agama.

Tidak peduli apakah itu berupa lembaga, ormas atau perorangan. Yang jelas kita diberi suguhan sebuah kekerasan. Sebuah tindakan yang bertujuan menciptakan pembantaian. Menciptakan teror. Menciptakan kekacauan di tengah masyarakat.

Baca juga: 

Transkip Orasi Malam 5 Tahun Tragedi Sampang

Dan kita tau juga bahwa di balik itu ada grand design. Ada skenario global yang memang ingin menciptakan Indonesia selalu dalam keadaan kacau. Selalu dalam posisi yang tidak mampu jaya dan sukses. Sehingga selalu bergantung. Selalu lemah. Tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalannya, bahkan persoalan yang paling kecil sekalipun.

 

Setiap hari kita disuguhi kekerasan-kekerasan, tawuran-tawuran, antar pelajar, antar suporter sepakbola, antar kampung, dan sebagainya. Sampai kekerasan dan tawuran antar lembaga-lembaga yang semestinya menjadi pelindung bagi bangsa, pelindung bagi warga negara. Baca juga: Tragedi Sampang: Kuasa Pembodohan

Apa yang kita saksikan selama ini di Sampang adalah salah satu contoh sebuah noda di kening sejarah bangsa Indonesia.

Apa yang kita lihat? Yang kita lihat adalah aparat yang tergopoh-gopoh. Yang bahkan mewakili kelompok yang menindas. Bayangkan, menawarkan relokasi sama dengan menjadi penghubung, menjadi wakil dari para penyerang. Para penyerang ingin mengusir.

Mana mungkin pemerintah daerah Sampang tiba-tiba menawarkan melalui pemerintah provinsi, untuk merelokasi warga yang semestinya dilindungi? Semestinya dikembalikan ke kampung halamannya! Dikembalikan dimana mereka hidup, dimana mereka turun temurun berada di tempat itu. Namun kenyataannya apa yang kita lihat?? Korban malah divonis dengan hukum abal-abal atas nama penodaan agama!

Apa yg kita harapkan dari negara yang begini? Apa yang kita harapkan dari pemimpin yang begini? Apakah kita harus diam? Apakah kita harus percaya kepada institusi-institusi hukum? Apa yang kita harapkan dari orang-orang yang berseragam-seragam itu? Apa yang kita harapkan dari orang-orang yang kita bayar dengan pajak kita, lalu ternyata menjadi bagian dari kelompok yang menindas?

Apa yang kita harapkan?? Apa yang kita harapkan dari bangsa Indonesia yang setiap saat ditindas, dibodohkan oleh kekuatan-kekuatan yg jelas-jelas ingin menciptakan Indonesia selalu dalam posisi lemah. Ternyata kekuatan UANG, sebagaimana disebutkan oleh saudara Angga, OLIGARKI. Ada kekuatan-kekuatan, ada variabel kekuasaan Uang dan semuanya , yang tidak hanya bertujuan menciptakan sebuah masyarakat yang beradab. Tapi masyarakat pun dirusak.

Bahkan oleh lembaga-lembaga keagamaan, bahkan oleh MUI. Sebuah lembaga kumpulan dari beberapa ulama yang semestinya menjadi pengayom, menjadi awan yang membuat kita bisa hidup sejuk dalam kedamaian, dalam toleransi. Namun malah mengeluarkan sebuah pernyataan, yang bisa dianggap sebagai izin untuk melakukan pembantaian. Dengan fatwa sesat. Fatwa yang sesat.

Apa yang kita harapkan? Para ulama? Karena itu saya mendukung perlu ada fit and proper test, perlu ada sertifikasi ulama. Supaya ulama-ulama bayaran, ulama-ulama yang memakan riyal, ulama-ulama yang mulutnya seperti naga mengeluarkan api. Membiarkan orang-orang dibunuh, membiarkan anak-anak kehilangan sekolahnya hanya karena mereka berbeda. Memalukan, sungguh memalukan apabila anda tidak mampu menjaga kehormatan anda. Anda adalah ulama, kelompok anda adalah ulama, tunjukkan bahwa anda benar-benar adalah pewaris nabi, bukan perampas, bukan mencoreng kehormatan Rasulullah yg merupakan rahmatan lil alamien.

Lucu rasanya didengar apabila warga syiah yang sekarang hidup dalam keadaan stress di GOR, hanya boleh pulang ke kampung halamannya apabila meninggalkan keyakinannya? Mengapa harus mengemis orang untuk meninggalkan keyakinannya? Apa ruginya bila hanya 500 orang di sebuah desa terpencil, punya keyakinan yang tidak mengganggu orang, lalu dipaksa, di bakar rumahnya, dibakar ladangnya, dibakar ternaknya hanya karena mereka memiliki pemahaman penafsiran terhadap teks Alquran dan Sunnah dengan cara yang berbeda?

Sekali lagi, siapapun yang mendengarkan ini. Siapapun, baik yang di struktur, di Mahkamah Agung, di kepolisian, di jajaran intel, di semua pemerintah-pemerintah daerah terutama di Sampang dan pemerintahan provinsi Jawa Timur perlu tau apabila orang Syiah terus mengalami penindasan-penindasan, maka kita tidak akan pernah melakukan pembalasan.

Jangan tunggu, jangan tunggu orang Syiah terprovokasi sehingga anda-anda yang pengecut mempunyai alasan untuk menindas kaum minoritas. Tidak akan pernah membalas. Mungkin perlu banyak Hamamah[i] lagi dan syahid. Mungkin dengan vonis penodaan agama maka setiap orang Syiah bisa di-Tazul-kan, [ii]Semua orang syiah siap.

Mengapa kita siap? Karena kami cinta kebhinnekaan. Karena kami yakin bahwa bangsa Indonesia, bahwa mayoritas bangsa Indonesia cinta perbedaan, cinta kebhinekaan dalam sebuah kesatuan. Bukan atas nama agama, bukan atas nama mazhab, tapi atas nama Pancasila.

Jadi ulama-ulama yang di Madura perlu tau ini negara Indonesia. Bukan negara Sunni. Bukan negara Islam, tapi negara kebhinekaan sebagaimana diproklamirkan oleh Ir. Soekarno. Sejak semula negara ini dibangun berdasarkan prinsip kebhinekaan. Bukan atas nama penafsiran sektarian sebuah agama atau mazhab. Indonesia yang diaku, diklaim sebagai milik suatu agama bukan Indonesia ini. Tapi Indonesia mitos, Indonesia yang ada dalam pikiran kaum ekstrimis. Indonesia sejati milik semua agama. Milik Muslim, milik Kristen, milik Hindu, milik Buddha, dan semua agama-agama yang diterima oleh bangsa Indonesia. Jadi jangan ada yang pernah menganggap negara Indonesia sebagai properti milik satu agama atau properti satu aliran. Jangan pernah!

Dan para intel tidak perlu bingung untuk menelusuri, mana akar ekstrimisme, cukup lihatlah bagaimana pandangan dan sikap mereka terhadap kebhinekaan, terhadap keluhuran Pancasila, terhadap kesaktian Pancasila, terhadap kudusnya Sang Saka Merah Putih.

Hanya dengan itu, cukup bisa mengetahui mana yang membawa agenda-agenda luar untuk membuat Indonesia menjadi bagian dari ektrimisme global. Tidak perlu bingung, tidak perlu membuat riset untuk mengetahui bahwa ada unsur-unsur ektrimisme yang menyusup ke dalam berbagai macam lembaga dan ormas-ormas di Indonesia. Dan orang-orang syiah maupun kelompok minoritas lainnya tidak perlu gentar, kami, kita semua bersama kaum nasionalis, bersama generasi muda, bersama intelektual-intelektual, bersama para aktivis yang pro kemanusiaan, pro kebangsaan akan tetap meneriakkan hanya cinta kebhinnekaan.

Kita semua hanya ingin mengatakan kebhinnekaan atau mati. Kebhinnekaan atau mati! Ini tidak bisa ditawar. Ini tidak bisa di-taqiyahkan. Tidak ada kalimat taqiyah disini. Suara dan hingar bingar, serta suara ledakan saya menandakan tiada setitik pun rasa takut.

Mengapa? Karena kami yakin hati nurani bangsa ini sangat berpihak kepada kebhinnekaan. Sangat mencintai para pendiri negara ini. Karena itu mari kita tegaskan, kita tegarkan kaum syiah jangan merasa kecil hati. Jangan juga memisahkan diri dari semua bangsa Indonesia. Leburlah. Bergabunglah. Rasakan deritanya bangsa Indonesia dari berbagai macam persoalan dan problematika.

Hidup Indonesia. Hidup Indonesia.

Merdeka. Merdeka!

Wassalam mu’alaikum wr wb.

Catatan: Ini adalah transkrip dari orasi saya yang bertemakan “Damai Dengan Kebhinnekaan” dalam Pentas Budaya Indonesia. Berikut videonya:

loading...