Dana Dipotong, Menteri Urusan Perempuan Irak Mundur

nawal_al_samarraie_

Menteri Negara Urusan Perempuan Irak, Nawal al-Samarraie, akhir pekan lalu mengundurkan diri setelah anggaran untuk kantornya dipotong. Padahal, Al-Samarraie mengaku selama ini sering merogoh kocek sendiri untuk membantu para perempuan yang datang kepada dia.

Anggaran kantor menteri urusan perempuan dipotong dari US$ 7.500 menjadi US$ 1.500 per bulan. Pemotongan anggaran ini merupakan bagian dari pemotongan anggaran pengeluaran pemerintah Irak yang harus dilakukan akibat merosotnya harga minyak dunia.

“Saya rasa saya tidak akan mampu menolong kaum saya, anggarannya sangat terbatas, apa yang dapat saya lakukan?” kata al-Samarraie dalam wawancara khusus dengan Associated Press, Minggu (8/2). Al-Samarraie menjabat sebagai menteri urusan perempuan Irak hanya selama enam bulan.

Pengunduran diri al-Samarraie menandai masalah berkepanjangan yang menimpa perempuan Irak. Antara lain hidup dalam kemiskinan atau terpaksa menjanda akibat rezim Saddam Hussein dan invasi Amerika Serikat.

Al-Samarraie menyatakan terdapat 3 juta janda perang di Irak. “Sebagian besar tidak berpendidikan,” kata dia.

Perempuan di Irak juga mengalami kesulitan akibat dijadikan warga kelas dua setelah laki-laki. Selain itu banyak perempuan Irak yang menjadi tunawisma, mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dan menjadi korban razia acak milliter AS-Irak.

“Sebagian besar mereka adalah janda, tidak ada yang mau membantu mereka,” kata al-Samarraie.

Politisi perempuan Irak meminta al-Samarraie membatalkan pengunduran dirinya. Mereka juga berharap pemerintah menunjukkan niat serius memberdayakan perempuan.

“Perempuan Irak membutuhkan strategi nasional yang menjamin hak konstitusional, hukum, kesehatan, dan sosial,” kata politisi partai sekuler Irak, Safiya al-Suhail dalam sebuah konferensi pers di Baghdad.

Al-Suhail meminta Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki menolak pengunduran diri al-Samarraie. Al-Suhail juga meminya al-Maliki bekerja sama membentuk komisi independen untuk perempuan dengan anggaran yang lebih besar. Namun al-Samarraie menyatakan al-Maliki telah menandatangani surat pengunduran dirinya.

Sebelum menjadi menteri, Al-Samarraie bekerja di komisi kesehatan Parlemen Irak. Ahli kandungan berusia 47 tahun ini dilantik pada 22 Juli 2008, saat partai politiknya yang berbasis aliran Sunni menghentikan pemboikotan pemerintah yang didominasi aliran Syiah.

Ibu lima anak ini bercita-cita membangun pusat-pusat pemberdayaan perempuan yang sekaligus berfungsi sebagai pusat perbelanjaan.

Namun harapannya kandas. Al-Samarraie hanya memiliki 18 staf dan tidak memiliki banyak wewenang untuk membantu perempuan Irak. “Saya harap pemerintah selanjutnya memprioritaskan pemberdayaan perempuan,” kata dia. (AP/vivanews)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed