DARI MANA, DI MANA DAN KE MANA

Sistem alam teRmasuk manusia ditandai dengan kemestian proses ke-menyempurna-an (takamul) yang dikenal dengan transubstansi dari hyle lalu menjadi aktual dalam fakta sebagai benda kemudian menyempurna sebagai jiwa dengan tiga dayanya, berkembang sebagai tumbuhan, berkehendak sebagai hewan dan bernalar sebagai manusia.

Pada fase ketiga inilah setiap individu hewan bernalar mengidentifikasi dirinya guna memisahkan diri kawanan spesies hewan lainnya melalui pengenalan terhadap tiitik awal dan titik akhir serta cara insani memulai dan mengkahiri prosesnya. Itulah sebabnya mengapa penghulu para bijakawan Ali bin Abi Talib menegaskan “Beruntunglah individu yang sadar dari mana, di mana dan ke mana.”

Titik awal “garis start” adalah ke-ada-an (eksistensi atau wujud) dan Tuhan sebagai terapan sejati wujud dan alam semesta, termasuk manusia sebagai terapan kopulatif (yang bergantung) kepada wujudNya.

Ke-ada-an atau wujud Tuhan sebagai ejawantah “dari mana” atau al-mabda’ menghimpun semua makna kesejatian di dalamnya. Salah satunya adalah keadilan.

Keadilan adalah salah satu prinsip ketuhanan yang melahirkan prinsip nubuwah (kenabian) dan maad (kebangkitan). Ia mendahului “di mana” dan “ke mana”.

Keadilan meniscayakan (mengharuskan secara rasional) adanya “dimana” sebagai garis penghubung antara “dari mana” dan “ke mana”, dari Tuhan sebagai titik awal ke Tuhan sebagai titik akhir transubstansi atau proses perfeksi. Dengan kata lain, hanya dengan mengafirmasi keadilan, makna wilayah sebagai otoritas transenden kepanduan menuju “titik akhir” bisa diterima sebagai prinsip. Tanpa keadilan “di mana” dan “ke mana” runtuh.

Kenabian yang merupakan salah satu ejawantah utama otoritas sakral dan transenden Tuhan (“di mana”) dalam mewartakan dan memberlakukan agama adalah konsekuensi niscaya keadilan.

Karena agama yang merupakan metode perfeksi menuju Tuhan sebagai “titik akhif”, maka otoritas transenden ini mesti berlanjut guna mengawal agenda transubstansi hingga mencapai garis finish. Keimaman (imamah) sebagai prinsp yang memestikan keterjagaan agama yang dibawa dalam kenabian menjadi prinsip aksiomatik.

Otoritas (wilayah) yang termanifestasikan dalam kenabian dan keimaman adalah institusi sakral yang menetapkan mekanisme baku dalam program kelana eksistensial “dari mana” dan “ke mana”. Itulah agama.

Agama adalah metode perfeksi yang otentisitas dan keterjagaannya bersanding dengab kewenangan transenden (yang didelegasikan oleh Tuhan) kepada manusia agar diterapkan sebagai panduan yang berfungsi sebagai GPS yang bisa secara akurat menghubungkan hewan penalar ke garis akhir “ke mana” (maad).

Agenda yang sangat kolosal ini menjadi absurd dan bubar bila manusia secara individual atau rembukan mencoba merancang sendiri peta dan masing-masing membuat kordinat untuk memulai kelana perfeksinya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed