DEMOKRASI SETENGAH-SETENGAH

Sebagian demonstrasi adalah cermin demokrasi, bukan semua. Sebagian hanya mencari sensasi vandalisme demi memompa adrenalin, tak ngerti apa yang dituntut dan tak sadar akibat yang timbul.

Sebagian orang dalam gedung itu dipilih rakyat karena membagikan uang. Sebagian dipilih rakyat karena tenar dan cantik. Sebagian dipilih rakyat karena garis dinasti. Sebagian dipilih rakyat karena kejujuran. Seburuk apapun kinerja mereka, itulah representasi rakyat. Inilah demokrasi.

Ini adalah akumulasi dari minat baca yang rendah, semangat berpolemik yang tinggi dan disinformasi yang masif.

Yang duduk di lembaga eksekutif dan legislatif, dianggap punya kinerja baik atau buruk, adalah buah suara rakyat yang memilih.

Yang pro dan yang kontra sama-sama mengandalkan analisa para ahli. Kedua kubu ingin dua pandangan yang saling menafikan ditetapkan. Einstein pun pasti mumet.

Apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang sebagian melenggang ke gedung itu karena memajang gelar palsu atau dikenal sebagai pemuka agama padahal bodoh?

Mungkin sebagian politisi di parlemen dianggap mengecewakan oleh sebagian rakyat yang berdemo karena beberapa alasan faktual, tapi mereka duduk di dalamnya karena dipilih oleh sebagian rakyat yang tak mengutarakan kekecewaan.

Bila setiap rancangan harus disetujui oleh seluruh atau sebagian besar warga untuk disahkan sebagai undang-undang, lenyaplah urgensi parlemen yang merepresentasi rakyat melalui pemilihan.

Dalam sistem demokrasi ketika sebuah rancangan undang-undang disahkan oleh sebagian besar legislator, maka ia pun jadi undang-undang seburuk apapun pasal-pasal di dalamnya menurut sebagian lain legislator dan sebagian warga.

Tak bisa dipungkiri banyak pasal dalam UU yang telah disahkan tak adil seperti pasal penodaan agama yang kerap dipakai oleh kaum toleran untuk mengintimidasi kelompok minoritas keyakinan.

Kerap yang legal dengan dasar UU tak diterapkan, tapi yang tak berdasar UU, karena tekanan massa, justru berlaku. Polemik seputar UU lebih seru dari penerapannya. Di lapangan semua “aturable.”

Inilah demokrasi dalam bayang-bayang oligarki.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed