DEMONSTRASI VS DEMOKRASI

Setelah bersaing sengit, terpilihlah orang-orang yang dipercaya untuk membuat undang-undang. Meski sebagian dianggap tidak layak dan sebagian undang-undang yang dibuatnya tidak adil, mereka adalah pilihan rakyat. Ketika orang-orang terpilih itu merancang dan mensahkan undang-undang, disalahkan dan ditentang.
 
Setelah berlomba ketat, terpilihlah orang yang dipercaya untuk membuat kebijakan dan peraturan serta disumpah untuk melaksanakan undang-undang sesuai pertimbangan rasional dan pragmatisnya. Meski tidak semua rakyat memilihnya dan meskipun dianggap oleh yang tak memlihnya sebagai tak layak dan meskipun sebagian kebijakannya dianggap tidak tepat, dia terpilih berdasarkan suara terbanyak.
 
Anehnya, ketika yang terpilih melaksanakan tugasnya, sesuai pilihan pikiran dan prosedurnya, disalahkan dan ditentang secara damai oleh sebagian rakyat dan ditolak secara membabi oleh sebagian rakyat, bahkan sebagian yang tak dipilih atau tak turut bersaing (tak dipercaya oleh rakyat) ingin menggantikan yang dipilih dan dipercaya, dengan segala kesalahan dalam kebijaksaannya.
 
Paragraf-paragraf di atas itdak bermaksud membela legislatif atas undang-undang yang disahkannya juga tidak mememihak eksekutif atas peraturan dan kebijakannya, karena dalam demokrasi tak ada yang mutlak benar dan mutlak salah. Eksekutif dan legislatif bisa salah bahkan mungkin kerap salah.
 
Inikah demonstrasi verus demokrasi?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed