Dengki dan Ambisi

Dulu zaman Orba remaja seperti saya menganggap Pemerintah adalah rezim yang bengis hinga tak berani melihat wajah orang berseragam militer kaeena mengiranya kuat dan kasar atau pejabat apalagi mengenakan kemeja safari atau bahkan hsnsip dan berseragam korpri karena memastikannya arogan atau berpenampilan sebagai agamawan karena dikira berhati bening dan punya mata batin yang tajam.
 
Ternyata setiap manusia melemah, menua dan tak selalu berkuasa. Ia bisa berperangai baik juga bisa berperangai buruk. Sebagian bertutur kasar dan sebagian ramah. Ada yang jahat dan bodoh, banyak pula yang berjiwa ksatria dan cerdas. Ia bisa terhormat saat tak berkuasa, dan bisa pula dibenci sebagai mantan penjahat dan bekas penguasa yang arogan. Ia bisa menikmati sisa hidupnya sebagai tokoh yang dicintai masyarakat berkat jasa-jasanya, dan bisa pula hidup sendirian meringkuk dalam jeruji hukum karena kasus kiorupsi atau asusila.
 
Terbukti pula semua kekuasaan dan kegagahan hanyalah atribut temporal. Memang sebagian telat sadar bahwa kekuasaannya telah berakhir dan lupa bahwa di atasnya ada yang lebih berkuasa.
 
Dalam sistem demokrasi kekuasaan utama di tangan rakyat. Siapapun yang memakai jubah, songkok atau yang pernah berkuasa takkan bisa menakut-nakuti atau membodohi rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepada satu orang yang terpilih dalam pemilihan yang fair dan sah.
 
Bersyukurlah tokoh politik, tokoh agama dan tokoh masyarakat terutama yang telah habis masa baktinys atau agamawan yang kehabisan bahan ceramah atau pengusaha pailit dan para mantan yang tak terjangkiti post power syndrome sehingga tak bertingkah ceroboh dan bisa menjaga namanya tetap harum hingga akhir hayat. Ini juga berlaku bagi siapapun secara gradual.
 
Kedengkian karena tak tahan melihat orang lain punya kekuasaan lebih besar atau lebih diterima oleh masyarakat dan rakus untuk menikmati kekuasaan lebih lama alias ambisi adalah harakiri moral.
 
“Apapun yang kamu kumpulkan (harta) pasti habis, apapun yang kamu bangun (rumah) pasti runtuh, dan siapapun yang kamu lahirkan (anak), pasti akan wafat. Tapi apapun yang kamu lakukan pasti dihitung.” (Hadis).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed